IHSG Berpotensi Alami Tekanan Jual

Jum’at akhir pekan kemaren, Bursa Eropa dan Wall Street ditutup anjlok. Kondisi ini didorong oleh kekhawatiran atas ekonomi di negara-negara berkembang/Emerging Market (EM) setelah sejumlah negara tersebut mengalami kejatuhan mata uangnya dan kekecewaan terhadap kinerja laba perusahaan di AS yang lebih rendah dari perkiraan analis. Dow Jones rontok 318,24 poin (-1,96%) ke level 15.879,11, S&P500 turun 38,17 poin (-2,09%) ke level 1.790,29 dan Nasdaq melorot 90,7 poin (-2,15%) ke level 4.128,17. Dalam sepekan Dow Jones tercatat mengalami penurunan sebesar -3,5%, dan S&P 500 berkurang -2,6% serta Nasdaq melemah sebesar -1,7%.

Sementara itu, IHSG mengakhiri pekan kemaren dengan ditutup turun 58,699 poin (-1,31%) di level 4.437,343. Investor asing tercatat melakukan net sell hampir sekitar Rp. 300 milyar. Aksi jual terjadi akibat sentimen negatif dari data ekonomi di China, setelah ekonominya tumbuh melambat dan pelemahan indeks manufaktur PMI bulan Januari 2014 turun ke 49,6 dari 50,5, yang menunjukan terjadinya kontraksi pada ekonomi negara tersebut. Hal ini mengkhawatirkan pelaku pasar, karena sebagaimana kita ketahui bahwa China merupakan mitra dagang utama bagi Indonesia. Namun walaupun turun pada akhir pekan, IHSG tercatat masih mampu mengalami penguatan sebesar 0,57% sepanjang pekan kemaren, berkat rally yang terjadi di awal pekan.

Merujuk pada kejatuhan Bursa Global diakhir pekan lalu dan anjloknya EIDO sebesar -3,99%, maka dipastikan pada senin besok, IHSG akan mengalami penurunan. Masalahnya kejatuhan yang terjadi pada Bursa Global pada akhir pekan kemaren, menyangkut fundamental pada negara-negara EM. Beberapa mata uang EM mengalami kejatuhan tajam, seperti peso Argentina yang anjlok 11% dalam sehari, Rand Afrika Selatan yang turun ke level terendah sejak 2008, Hryvnia Ukraina turun terendah selama 4 tahun terakhir dan Lira Turki yang juga turun terendah dalam 5 tahun terakhir. Penurunan mata uang negara EM ini akibat kekhawatiran bahwa The Fed akan kembali melakukan tapering off, yaitu pengurangan stimulus sebesar US$ 10 milyar lagi pada FOMC pekan depan, 28-29 Januari 2014, setelah sebelumnya pada awal Januari ini sudah melakukan pengurangan stimulus menjadi US$ 75 milyar/bulan dari sebelumnya US$ 85 milyar/bulan. Spekulasi inilah yang membuat mata uang US dollar menguat terhadap major currency lainnya, termasuk terhadap Rupiah yang pada akhir pekan kemaren kembali melemah dikisaran 12.180-an/USD.

Seperti yang kita tahu bahwa Rupiah termasuk mata uang negara EM yang melemah paling parah penurunannya pada akhir tahun 2013 lalu, yaitu turun -20% lebih dalam setahun ketika The Fed akan memulai program tapering off-nya. Memang pada awal tahun ini Rupiah sempat menguat, berkat membaiknya data-data makro ekonomi Indonesia. Tetapi memasuki awal bulan Februari nanti, tantangannya mulai berat dan diperkirakan data ekonomi akan mulai memburuk lagi. Ancaman defisit perdagangan yang akan kembali melebar akibat larangan pembatasan ekspor mineral. Ekspektasi inflasi Januari yang tinggi akibat banjir yang terjadi di beberapa daerah menyebabkan naiknya biaya logistik dan terganggunya distribusi bahan pangan, belum lagi kenaikan harga elpiji yang terjadi pada awal tahun. Ditambah lagi jika nantinya The Fed kembali melakukan pengurangan stimulusnya, maka diperkirakan market akan kembali mengalami tekanan jual pada awal Februari saat data-data ekonomi tersebut dirilis.

Technically, IHSG diperkirakan akan melanjutkan pelemahannya. Pola evening doji star yang terbentuk pada kamis lalu menjadi confirm/vaild setelah sehari sesudahnya IHSG ditutup turun. Pola tersebut menunjukan awal terjadinya reversal pembalikan arah dari naik menjadi turun. Indikator teknikal mulai bergerak negatif, dimana Stochastic telah death cross di over bought area, sedangkan kenaikan MACD mulai melambat dan berbalik arah, mengindikasikan kecenderungan IHSG untuk akan bergerak negatif. Untuk senin besok IHSG diperkirakan akan turun menguji supportnya di 4377 dan jika tekanan jual berlanjut, akan menuju support kuatnya dikisaran 4327-4336. Adapun untuk level resistennya diperkirakan berada di 4455.

26Jan14-IHSGWalaupun short term IHSG masih bullish, akan tetapi posisi IHSG yang saat ini masih berada dibawah MA 200, dan dengan melihat ulasan-ulasan pada kondisi diatas, maka disarankan untuk terus berhati-hati. Memang sejak awal tahun, pemodal asing tercatat masih melakukan akumulasi dengan mencatatkan net buy sekitar Rp. 3,5 triliun. Namun melihat adanya “FEAR” di pasar EM, saya khawatir hal ini berpotensi menimbulkan efek domino ke Indonesia yang juga termasuk negara EM. Jika besok senin, Asing mulai melakukan net sell diatas Rp. 1 triliun dan Rupiah kembali melemah diatas Rp. 12.200/USD maka ada baiknya untuk merealisasikan profit yang telah didapat dalam 3 pekan terakhir.

Untuk besok senin, saya tidak akan memberikan rekomendasi saham. Saya akan melihat respon pergerakan IHSG dulu. Dan jika ada beberapa saham yang menarik, seperti biasa akan saya infokan di BBM grup khusus bagi member premium kami. Bagi yang berminat dan tertarik untuk bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas atauKLIK LINK INI”.

Save Trading, Good Luck & GBU Always..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *