Jokowi Effect Pudar Oleh Yellen Rules, What Next??

IHSG berhasil naik tipis +0,03% ke 4.700,214 pada akhir pekan kemaren. Namun dalam sepekan, IHSG anjlok -3,66%. Sentimen terbesar yang menurunkan IHSG pada pekan kemaren, datang dari keputusan The Fed yang akan segera mengakhiri program belanja obligasinya pada musim gugur ini, dan akan mulai menaikkan suku bunga sekitar 6 bulan kemudian. Dalam konferensi pers pertamanya sebagai Gubernur The Fed pada FOMC meeting 18-19 Maret lalu, Janet Yellen menyatakan bahwa suku bunga AS bisa saja naik menjadi 1% di akhir tahun 2015, dan menjadi 2,25% pada akhir tahun 2016.

Pernyataan Yellen yang merujuk pada kemungkinan yang lebih agresif terhadap kebijakan kenaikan suku bunga tersebut, di luar dugaan dan tidak banyak diantisipasi oleh pelaku pasar sebelumnya, membuat Euforia pencalonan Jokowi sebagai kandidat presiden pupus tak berbekas. Bisa dikatakan bahwa Jokowi Effect telah dikalahkan oleh Yellen Effect. Yees, Yellen Rules…!!!. Dan dalam 2 hari setelah pernyataan Yellen, pemodal asing bereaksi dengan membawa keluar dana mereka dengan mencatatkan net sell sekitar Rp 900 miliar. Namun sepanjang pekan lalu, asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp. 2,1 Triliun dan secara year to date masih tersisa sekitar Rp. 15 Triliun.

Sementara itu, Bursa Wall Street berakhir melemah pada Sabtu dini hari kemaren, akibat krisis Ukraina yang mencuat lagi mengkhawatirkan investor. Dow Jones turun 28,28 poin (-0,17%) ke 16.302,77, S&P 500 melemah 5,49 poin (-0,29%) ke 1.866,52 dan Nasdaq anjlok 42,5 poin (-0,98%) ke 4.276,79. Selama sepekan Dow Jones tercatat mengalami kenaikan sebesar +1,47%, S&P menguat +1,4% dan Nasdaq bertambah +0,74%. Meningkatnya ketegangan di Ukraina terjadi setelah AS dan Uni Eropa memberikan sejumlah sanksi kepada Rusia, berupa pembekuan aset di luar negeri dan pemblokiran visa kepada pejabat tinggi Rusia, pasca pencaplokan Crimea dari Ukraina lewat referendum. Dan sanksi ini bisa saja diperluas kepada sektor jasa keuangan, pertahanan dan sektor energi Rusia, bila negara tersebut melakukan aksi lanjutan kepada Ukraina.

Lanjutan krisis di Ukraina dan skenario kebijakan suku bunga The Fed yang di luar dugaan itu, masih akan menjadi sentimen negatif bagi IHSG pada pekan depan. Sementara dari dalam negeri sentimen positif lanjutan belum ada, membuat IHSG masih akan berkonsolidasi dengan tren turun dalam jangka pendek. Namun saya pikir, investor asing masih tetap akan melihat fundamental ekonomi Indonesia sebagai pertimbangan utama apakah akan melanjutkan masuk atau keluar dari Indonesia. Selain itu jalannya perhelatan pemilu diperkirakan juga akan mempengaruhi kinerja IHSG terutama bila presiden baru yang akan terpilih adalah harapan pelaku pasar.

Technically untuk besok senin, IHSG masih akan berkonsolidasi di sekitar support dari up trend channelnya. IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang support dikisaran 4650-4665, sedangkan untuk level resistennya diperkirakan berada di 4754. Indikator teknikal yang bergerak negatif, dimana Stochastic bergerak turun, sedangkan MACD yang telah death cross, menunjukan kecenderungan indeks untuk bergerak negatif. Namun selama IHSG bergerak di dalam up trend channelnya, maka trend kenaikan jangka menengah indeks masih akan berlanjut. Trend kenaikan ini akan patah dan baru berakhir jika IHSG close dibawah level 4611.

23Mar14-IHSGUntuk mengetahui saham2 apa saja yang berpotensi memberikan profit dan masuk kedalam stock picks pilihan kami pada pekan depan, maka anda dapat bergabung ke dalam group kami dengan menjadi Member Premium dari Step-trader.com. Bagi anda yang berminat dan tertarik untuk bergabung menjadi member premium kami dapat melihat ketentuannya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas

Save Trading, Good Luck & GBU Always..

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*