Sanggupkah IHSG Menembus Level Tertinggi Sepanjang Masanya?

Wall Street menutup perdagangan akhir pekan dengan penguatan tipis. Pengumuman pertumbuhan data tenaga kerja yang melambat di bulan Agustus menunjukkan lesunya pasar ketenagakerjaan di AS. Penurunan penyerapan tenaga kerja ini oleh pasar diartikan bahwa The Fed tidak akan mengubah kebijakan terkait tingkat suku bunga, yang berarti tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Ini menjadi sentimen positif bagi market sehingga Dow Jones ditutup naik 67,78 poin (+0,4%) ke level 17.137,3, S&P 500 bertambah 10,06 poin (+0,5%) ke level 2.007,71 dan Nasdaq menguat 20,61 poin (+0,45%) ke level 4.582,90. Berkat penguatan tersebut maka dalam sepekan Dow Jones dan S&P 500 tercatat sama-sama mengalami kenaikan sebesar +0,2% sementara Nasdaq menguat tipis +0,06%.

Dari dalam negeri, IHSG berhasil naik 12,013 poin (+0,23%) menjadi 5.217,335 pada perdagangan akhir pekan, dengan pemodal asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp. 241 milyar dipasar reguler. Dalam sepekan IHSG tercatat berhasil naik sebesar +1,57%, didorong oleh rilis data makro ekonomi pada awal bulan serta terjadinya arus dana asing yang masuk dalam sepekan pertama bulan September sebesar Rp. 668 miliar dipasar reguler.

Penguatan yang terjadi masih membuat IHSG bertahan di sekitar area overbought, ditambah masih lesunya market seiring kecilnya value transaksi, sehingga belum menghilangkan potensi profit taking. Namun sentimen positif Bursa AS pada akhir pekan, serta rilis kenaikan Cadangan Devisa Indonesia sebesar US $ 0,7 miliar menjadi US$ 111,2 miliar pada akhir Agustus 2014, dapat memberikan respons positif dan menjadi pendorong bagi kenaikan lanjutan IHSG pada awal pekan besok.

Technically, untuk besok senin IHSG diperkirakan masih akan berkonsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas. IHSG diperkirakan akan bergerak dengan level support di 5196, sedangkan untuk resistennya berada di level 5245. Indikator Stochastic masih bergerak naik tapi telah memasuki overbought area, sedangkan MACD masih bergerak sideways cenderung menurun, sehingga mengindikasikan kecenderungan indeks masih berkonsolidasi.

Untuk pekan depan IHSG akan mencoba menembus level tertinggi sepanjang sejarahnya di 5251, yang pernah dicapai pada bulan Mei tahun lalu. Namun apakah IHSG mampu mencetak rekor baru masih dipertanyakan, mengingat belum ada indikasi penguatan yang jelas yang dapat mendorong indeks untuk menguat signifikan. Diperkirakan untuk sepekan kedepan IHSG akan berkonsolidasi dikisaran 5135-5251.

Pergerakan IHSG sendiri saat ini lebih banyak diwarnai oleh penguatan saham-saham second liner. Market masih cenderung flat dan jika pun menguat hanya terbatas, dikarenakan tidak ada dorongan yang kuat dari saham-saham blue chips penggerak indeks. Dari saham2 yang saya review, penguatan saham blue chip terlihat hanya di BBCA, BBNI dan ICBP. Selebihnya masih konsolidasi dan cenderung terjadi pola distribusi, sehingga perlu diwaspadai jika terjadi pembalikan harga secara tiba-tiba. Namun selama pemodal asing masih dalam posisi akumulasi, maka IHSG masih sulit untuk terkoreksi secara signifikan.

Selalu terapkan kontrol resiko sebelum masuk ke market dan lakukan money manajemen dengan baik. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ide trading atau trading plans dari saham-saham yang berpotensi memberikan profit, serta ingin mengkonsultasikan portfolio anda, maka segera bergabunglah ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com. Bagi yang berminat untuk bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always..

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*