Aksi Wait & See Membuat Rally Kenaikan IHSG Tertahan

Mengakhiri perdagangan akhir pekan kemaren, Bursa Wall Street kembali di tutup di zona positif berkat aksi korporasi emiten. Setelah pengumuman merger besar pada awal pekan dari Royal Dutch Shell dan FedEx, akhir pekan kemaren penguatan Wall Street didorong oleh aksi korporasi dari penjualan mayoritas saham General Electric di bisnis keuangan dan pelepasan sebagian besar portofolionya di sektor real estate dalam upaya melakukan perbaikan perusahaan, sehingga menambah gelombang aksi korporasi di Wall Street pada pekan lalu. Dow Jones berhasil naik 98,92 poin (+0,55%) menjadi 18.057,65, S&P 500 menguat 10,88 poin (+0,52%) menjadi 2.102,06, dan Nasdaq bertambah 21,41 (+0,43%) menjadi 4.995,98. Berkat kenaikan tersebut, maka sepanjang pekan kemaren Wall Street ditutup menguat, dengan Dow Jones mengalami kenaikan sebesar +1,66%, S&P 500 menguat +1,7% dan Nasdaq melonjak +2,23% dalam sepekan.

Sementara itu dari dalam negeri, IHSG ditutup melemah 9,560 poin (-0,17%) ke level 5.491,340, dengan investor asing tercatat melakukan net sell tipis sebesar Rp 38 milyar dipasar reguler. Minimnya sentimen dalam negeri membuat IHSG selama sepekan kemaren cenderung dipengaruhi oleh faktor eksternal. Memburuknya data ekonomi AS khususnya data non farm payrolls dan hasil notulensi pertemuan FOMC pada kamis lalu dimana terjadi perbedaan pendapat, dengan mayoritas pejabat The Fed berpendapat kenaikan suku bunga The Fed (FFR) belum bisa di lakukan dalam waktu dekat lantaran kondisi ekonomi AS yang belum sepenuhnya membaik, menyebabkan pasar berspekulasi bahwa FFR belum akan dinaikan dalam waktu dekat. Faktor tersebut membuat IHSG berhasil ditutup menguat +0,64% dalam sepekan, dengan total aliran modal asing yang masuk ke bursa sebesar Rp. 727 milyar.

Namun dalam 2 hari terakhir investor asing kembali mencatatkan net sell, walaupun tidak signifikan, hal tersebut menunjukkan adanya aksi wait and see dari para investor. Sepertinya pelaku pasar menantikan pengumuman BI rate yang ada kemungkinan akan kembali diturunkan, walaupun konsensus analis memperkirakan akan stagnan di level 7,5% pada hari Selasa depan. Selain itu pasar juga menunggu data ekspor-impor dan neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis Rabu depan. Sementara itu dari luar, pelaku pasar mencermati data GDP China yang diperkirakan akan melambat, serta laporan keuangan emiten di AS yang di perkirakan rata-rata laba perusahaan multinasional AS akan mengalami penurunan lantaran ekspornya terganggu akibat penguatan dollar AS.

Untuk awal pekan besok, IHSG diprediksi akan bergerak flat seiring investor yang wait and see menunggu rilis data ekonomi dalam negeri. Jika BI rate dan data neraca perdagangan yang dirilis keduanya bagus, maka IHSG ada potensi menguat dan kembali menciptakan rekor harga tertinggi baru.

Technically untuk senin awal pekan besok, IHSG diperkirakan akan bergerak mixed dikisaran support 5472, sedangkan untuk resistennya diperkirakan akan berada di 5525. Indikator teknikal Stochastic yang kembali death cross, sedangkan MACD yang bergerak sideways diarea positif, mengindikasikan indeks masih bergerak mixed dalam pergerakan sideways. Walaupun dalam jangka pendek IHSG masih masuk fase konsolidasi, namun dalam jangka menengah terlihat bahwa trend kenaikan IHSG masih cukup kuat. IHSG masih berpeluang untuk mencetak rekor baru lagi. Untuk sepekan kedepan, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam range 5436-5565.

12Apr15-IHSG

Konsolidasi yang dialami oleh IHSG membuat beberapa saham terlihat bergerak bervariasi dan cenderung sideways dalam jangka pendek. Hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya sektor yang dominan. Sektor banking sebagai penggerak indeks, walaupun condong untuk melemah, namun masih dalam tahap konsolidasi wajar. Demikian juga dengan saham sektor konstruksi dan beberapa saham property. Aksi profit taking yang dialami ke dua sektor ini, terjadi pasca penguatan di awal pekan lalu, juga masih dalam tahap konsolidasi wajar. Semetara itu untuk saham-saham Astra Group, hanya saham UNTR yang terlihat trend kenaikannya cukup solid dan berpeluang melanjutkan kenaikannya menuju target di level 24.500, dengan minor target di 23.600. Sementara untuk ASII terlihat masih berkonsolidasi jangka pendek dikisaran range 7975-8275. Sedangkan untuk AALI, rebound saham ini masih tertahan oleh resisten area konsolidasi di 24.300. Jika resisten tersebut dapat dilewati, maka AALI berpelaung menuju target terdekatnya di 25.000.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis untuk pekan ini. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading seperti diatas, serta ingin mengkonsultasikan portfolio anda, maka segera bergabunglah ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com. Mengenai rekomendasi saham beserta detail support dan resisten, serta target dari saham-saham yang menarik untuk dapat diakumulasi akan diulas khusus di area member premium. Untuk info selengkapnya dapat melihatnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*