IHSG Rebound, Masih Mampukah Berlanjut?

Setelah rebound kencang dua hari, akhir pekan kemaren Wall Street mulai bergerak berfluktuasi dan di tutup mixed, jelang pertemuan para pejabat The Fed di Jackson Hole, Wyoming yang kemungkinan besar akan membahas rencana kenaikan suku bunga AS. Dow Jones ditutup melemah tipis 11,76 poin (-0,07%) ke 16.643,01, sedangkan S&P 500 naik tipis 1,21 poin (+0,06%) ke 1.988,87 dan Nasdaq menguat 15,62 poin (+0,32%) ke 4.828,32. Gejolak pasar yang dipicu oleh kecemasan perlambatan ekonomi China dan spekulasi kenaikan suku bunga The Fed, sempat membuat Bursa Saham AS turun tajam. Namun pada pertengahan pekan kemaren, Wall Street berhasil rebound dan berakhir menguat dalam sepekan, dengan Dow Jones naik +1,11%, S&P 500 bertambah +0,91%, dan Nasdaq meningkat +2,60%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berhasil melanjutkan rebound hari ke-4 berturut-turut dengan menguat 15,569 poin (+0,35%) ke level 4.446,201 pada akhir pekan. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp. 430 Milyar di pasar reguler. Setelah diawal pekan sempat tertekan turun hingga kelevel terendahnya tahun ini di 4.111, IHSG berhasil rebound seiring dengan reboundnya bursa saham global. Sepanjang pekan IHSG berhasil menguat +2,54%, menjadikan penguatan mingguan pertama, setelah sebelumnya melemah selama lima pekan berturut-turut, dengan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp. 290 milyar dalam sepekan. Walupun berhasil bangkit dan menguat +8% lebih dari posisi terendahnya, namun IHSG masih menjadi bursa dengan kinerja saham terburuk di kawasan Asia, melorot -14,94% sejak awal tahun atau turun -19,51% dari posisi tertingginya pada bulan April lalu.

Stimulus yang dilakukan People’s Bank of China untuk menyelamatkan perekonomian China dan pernyataan beberapa pejabat The Fed yang mengatakan peluang kenaikan suku bunga The Fed semakin kecil kemungkinannya terjadi di bulan September 2015, berimbas pada reboundnya bursa saham dunia dari aksi sell off (penurunan tajam) sejak 3 tahun terakhir. IHSG pun turut menguat, setelah sebelumnya berhasil rebound dari koreksi massive yang terjadi. Rebound IHSG diawali dari tindakan cepat yang diambil oleh pemerintah untuk meredam kejatuhan saham2 atas IHSG. Melalui Kementerian BUMN dan dana pensiun serta BPJS, pemerintah menginstruksikan buy back kepada saham2 BUMN yang telah merosot tajam. BEI pun turut bertindak cepat dengan mengeluarkan regulasi baru yaitu menerapkan batas auto rejection saham dengan batas bawah maksimal 10% dan melarang Anggota Bursa untuk melakukan short selling. Tindakan cepat tersebut berhasil meredam aksi jual dan menahan koreksi lanjutan yang terjadi pada IHSG.

Lalu apakah rebound pada IHSG dan Bursa saham global dapat berlanjut?

Well, jika melihat upaya dari Pemerintah China yang kembali “ngotot” melakukan intervensi dengan menurunkan suku bunga acuan dan memberikan stimulus hingga miliaran yuan kedalam pasar ekuitas, memang untuk sementara membuat aksi jual berhenti. Mayoritas bursa saham dunia juga mulai rebound dan kembali menguat. Namun dengan masih adanya ketidakpastian mengenai kenaikan suku bunga bank sentral AS, maka gejolak di pasar keuangan masih dapat berulang kembali. Terutama nanti jelang FOMC meeting tanggal 16-17 September bulan depan. Biasanya seminggu jelang meeting The Fed, market akan kembali tertekan dan volatilitas akan kembali meningkat.

Sementara di dalam negeri, kondisinya juga sedikit mulai membaik. Rupiah yang terus merosot hingga diatas Rp. 14.100/US$, akhir pekan kemaren mulai “jinak” dengan turun di bawah level 14.000. Aksi beli dari pemodal asing juga mulai nampak dalam 2 hari terakhir, walaupun belum signifikan. Semua terjadi setelah pemerintah berniat mengeluarkan stimulus dalam waktu dekat, berupa paket kebijakan untuk mendongkrak nilai tukar Rupiah dan memancing investor asing masuk ke Indonesia, serta memperbaiki daya beli masyarakat yang lemah. Inti tujuan dari paket tersebut adalah memperbaiki kondisi ekonomi secara makro dan mendorong aktivitas ekonomi tetap bertumbuh. Paket kebijakan ini nantinya akan berkaitan dengan sektor riil, sektor keuangan, deregulasi, dan pemberian insentif pajak atau tax holiday. Selain stimulus paket kebijakan pemerintah, jelang awal bulan September, pelaku pasar juga menantikan data-data makro ekonomi seperti tingkat inflasi bulan Agustus yang diperkirakan berada di 0,63%, manufakturing PMI, tingkat kepercayaan investor dan cadangan devisa Agustus.

Walaupun sudah mulai membaik, namun tantangan dari luar masih cukup banyak. Tekanan jual sewaktu2 masih bisa kembali ke pasar, mengingat kondisi saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor dari luar. Ketidakpastian mengenai kenaikan suku bunga AS oleh The Fed masih menghantui market. Belum lagi tidak ada jaminan dari pemerintah China untuk tidak mendevaluasi mata uang Yuan kembali. Tindakan untuk memperlemah Yuan dapat kembali diambil, jika perekonomian mereka khususnya eksport masih melambat.

Dari kondisi tersebut, kami perkirakan untuk pekan depan IHSG akan cenderung bergerak sideways mengalami konsolidasi. Setelah berhasil rebound dan naik cukup tajam pada minggu lalu, kemungkinan minggu ini IHSG mulai mencari ekuilibrium baru, sebelum kembali bervolatile di pertengahan bulan depan, jelang FOMC meeting. Secara teknikal, IHSG masih downtrend, walaupun untuk short term sudah mulai bergerak naik. Indikator teknikal mulai membaik, dimana Stochastic bergerak naik keluar dari area oversold, sedangkan MACD berpotensi golden cross tapi masih di area negatif. Untuk pekan depan, IHSG diperkirakan akan mengalami konsolidasi dengan gap bawah di 4295-4237 sebagai level supportnya. Sementara gap atas di 4572-4619 sebagai area resistennya. Penembusan keatas gap 4619, akan mengakhiri trend turun jangka menengah IHSG. Tapi untuk dapat dikatakan IHSG telah bergerak kembali dalam trend naik, indeks harus dapat melewati level 4985.

30Agustus15-IHSG

Jika pada minggu lalu saham2 blue chip atau saham2 gerbong pertama seperti banking dan konstruksi naik tajam, kemungkinan minggu ini giliran saham2 second liner dan saham2 komoditas energi, tambang serta CPO yang akan bergerak, merujuk pada rebound tajam harga minyak mentah dan komoditas yang memasuki hari kedua. Walaupun market sudah agak tenang, tapi tetap saja posisi trading jangka pendek akan lebih bijak dilakukan dari pada posisi beli simpan. Posisi beli simpan sepertinya hanya menarik dilakukan jika sudah ada kepastian dari rencana kenaikan Fed rate. Tetap safe trading dan selalu lakukan kontrol resiko untuk mengantisipasi pembalikan arah secara tiba2, karena signal mid term masih condong melemah.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Mengenai detail support dan resisten, serta target dari saham-saham yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always

One thought on “IHSG Rebound, Masih Mampukah Berlanjut?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *