Menanti Sentimen Positif, IHSG Masih Cenderung Tertekan

Setelah sempat dibuka menguat cukup tajam, berkat laporan revisi pertumbuhan ekonomi AS kuartal kedua yang meningkat pada level 3,9%, dan pidato ketua The Fed Janet Yellen yang mengatakan bahwa gejolak pasar ekonomi dan keuangan global saat ini tidak akan mengubah arah kebijakan The Fed untuk menaikkan suku bunga pada tahun ini, bursa saham utama AS akhirnya di tutup bervariasi pada akhir pekan kemaren. Penguatan saham Nike +8,9% yang mencapai rekor tertinggi berkat dorongan laba yang kuat & melampaui ekspektasi berhasil mengangkat Dow Jones, sementara pelemahan di saham Bioteknologi mendorong Nasdaq turun. Dow Jones ditutup naik 113,35 poin (+0,7%) ke level 16,314.67, sementara S&P 500 cenderung flat dengan turun tipis 0,9 poin (-0,05%) ke 1,931.34 dan Nasdaq melemah 47,98 poin (-1,01%) ke 4,686.50. Kekhawatiran terkait melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan ketidakpastian tentang kebijakan moneter AS, membuat bursa utama AS berakhir turun dalam sepekan, dengan Dow Jones melemah -0,43%, S&P 500 berkurang -1,36, dan Nasdaq anjlok -2,92%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 34,988 poin (-0,82%) ke 4.244,427 pada akhir pekan, dengan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp. 678 Milyar di pasar reguler. Minimnya sentimen positif, ditengah terus tak berdayanya nilai tukar Rupiah terhadap USD dan aksi jual investor asing, membuat IHSG tertekan sepanjang pekan dengan melemah -3,9%. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sebesar Rp. 1,655 triliun dipasar reguler dalam sepekan.

Trend pelemahan Rupiah yang sempat menembus level Rp. 14.700/US$ diprediksikan masih akan terus berlanjut. Pernyataan The Fed pada akhir pekan kemaren yang tetap akan menaikkan suku bunga acuan tahun ini, diperkirakan akan membuat mata uang sejumlah negara emerging market, termasuk Rupiah, masih berpotensi untuk melemah terhadap USD. Pertumbuhan ekonomi global yang belum menunjukkan tanda2 membaik, membuat harga komoditas masih melemah dan menyebabkan kinerja ekspor terus menurun sehingga menyulitkan Rupiah untuk menguat. Faktor lain yang menyababkan pelemahan rupiah adalah terus turunnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, baik dari paket kebijakan ekonomi, maupun intervensi BI terhadap rupiah dengan mengucurkan cadev juga tidak terlihat efeknya. Hal inilah yang membuat kinerja IHSG ikut terperosok.

Mendekati akhir bulan September, pasar saham masih belum ada sentimen positif. Dari dalam negeri, pelaku pasar saat ini sedang menantikan paket kebijakan ekonomi jilid II yang rencananya akan dikeluarkan oleh pemerintah pada akhir bulan ini. Disamping itu, data makroekonomi yang akan dirilis pada awal bulan Oktober seperti data inflasi, data manufakturing PMI dan tingkat kepercayaan investor juga tengah dinantikan oleh investor. Sementara dari luar negeri, pelaku pasar tengah mencermati data tenaga kerja dan manufaktur AS pada pekan depan. Data tersebut akan menjadi acuan bagi potensi kenaikan suku bunga Fed kedepannya. Selain itu, investor juga akan mencermati data manufaktur China yang akan rilis hari Rabu depan, yang akan menunjukan kondisi perekonomian negara tersebut.

Technically, IHSG saat ini cenderung downtrend setelah breakdown dari support 4269. Penurunan tersebut sekaligus telah menutup gap di 4237. Dari indikator teknikal, mengindikasikan pelemahan lebih lanjut. Stochastic kembali bergerak turun, sedangkan MACD telah death cross. Sementara MA5 gagal golden cross keatas MA 20 dan malah bergerak turun semakin menjauhi MA 20. Dari kondisi ini, IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahannya dengan menguji support level 4111 lagi. Waspadai jika support tersebut dijebol, karena IHSG berpeluang melemah menuju level 3865, dengan minor target di 4017. Sementara untuk resisten terdekat di 4269, dan resisten selanjutnya di gap 4308-4337.

27September15-IHSG

Untuk awal pekan besok kemungkinan IHSG akan cenderung bergerak mendatar. Fluktuatif akan kembali terjadi pada pertengahan hingga akhir pekan seiring dengan rilis beberapa data ekonomi penting baik dari dalam maupun luar negeri. Tetap pantau pergerakan nilai tukar Rupiah dan aksi jual investor asing. Selama Rupiah tertekan dan asing terus melepas portfolionya, maka IHSG akan kesulitan untuk menguat. Bagi investor yang belum ada posisi tidak ada salahnya menunggu sedikit lebih lama (wait & see) hingga kondisi sedikit membaik. Sementara bagi trader jangka pendek tetap disarankan agar berhati-hati dalam menerapkan strategi tradingnya dengan selalu kontrol resiko.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Tetap safe trading. Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *