Jelang Keputusan Fed Rate, IHSG & Rupiah Makin Tertekan, What Next?

Bursa Wall Street menutup perdagangan akhir pekan di zona merah. Penurunan tajam harga minyak yang menyentuh level terendah dalam 7 tahun, akibat kelebihan pasokan setelah OPEC memutuskan tidak akan mengurangi produksinya, menambah ketidakpastian market ditengah rencana The Fed yang akan menaikan suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juni 2006 pada pertemuan minggu depan. Sentimen negatif ini bertambah suram setelah Yuan China jatuh ke posisi terendahnya dalam 4,5 tahun, makin menambah kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global. Kondisi tersebut membuat Dow Jones turun 309,54 poin (-1,76%) ke level 17.265,21, S&P 500 melemah 39,86 poin (-1,94%) menjadi 2.012,37 dan Nasdaq anjlok 111,71 poin (-2,21%) ke 4.933,47. Dengan pelemahan tersebut, maka sepanjang pekan kemaren Wall Street mencatatkan kinerja negatif, dengan Dow Jones anjlok -3,26%, S&P 500 merosot -3,79% dan Nasdaq rontok -4,06%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG juga tertekan turun ditutup dibawah level psikologis 4400, dipicu sentimen negatif dari bursa saham global, seiring makin dekatnya rencana keputusan Fed Rate. Nilai tukar Rupiah juga melemah menembus level psikologis 14.000/USD dan arus modal asing terus keluar dari bursa. IHSG menutup perdagangan akhir pekan dengan melemah 72,688 poin (-1,63%) ke posisi 4.393,522, dengan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp. 538 milyar dipasar reguler. Dalam sepekan, IHSG turun sebesar -2,5%, dan dana asing tercatat keluar mencapai Rp. 1,23 Triliun.

Rilis data indikator ekonomi AS pada akhir pekan, seperti penjualan ritel dan PPI yang diatas ekspektasi pasar semakin mempertegas peluang naiknya suku bunga The Fed pada pertemuan FOMC pekan depan. Peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis point bahkan sudah melesat hingga 79,4%, menurut pooling yang ada di CME Group FedWatch tool seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

cme group fedwatch

Dengan semakin meningkatnya peluang kenaikan suku bunga AS, jelas ini akan menjadi beban bagi pergerakan komoditas dan mata uang emerging market seperti Rupiah. Rupiah pada akhir pekan kemaren ditutup melemah tajam, tembus level Rp 14.100/USD. Hal ini tentu akan menjadi beban bagi pergerakan IHSG pada pekan depan. Diperkirakan sepanjang pekan depan hingga pengumuman hasil FOMC pada tanggal 17 Desember 2015 subuh, Rupiah dan IHSG akan cenderung mengalami tekanan.

Untuk pekan depan, perhatian seluruh investor global akan tertuju pada FOMC meeting yang akan diselenggarakan pada hari selasa-rabu tanggal 15-16 Desember 2015. Sebelum keputusan kenaikan Fed Rate, investor akan mencermati data inflasi AS yang akan rilis pada hari selasa 15 Desember 2015. Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati data neraca perdagangan, dan data export-import pada hari selasa depan. Sedangkan pada hari kamisnya investor menunggu keputusan BI terkait BI rate. Kemungkinan BI akan merespon hasil FOMC terkait kenaikan suku bunga AS. Jadi untuk pekan depan diperkirakan pasar saham mungkin akan sangat fluktuatif.

Technically, IHSG mulai bergerak turun dan berpeluang mengakhiri konsolidasinya. IHSG di tutup di bawah support 4395, sehingga berpotensi menutup gap bawah di 4346-4381. Jika tekanan jual berlanjut, maka IHSG akan kembali downtrend dan berpeluang menuju support berikutnya dikisaran 4270-4286. Sementara untuk resisten IHSG pekan depan diperkirakan akan berada dikisaran 4447 hingga 4505. Indikator teknikal Stochastic bergerak turun memasuki area oversold, sedangkan MACD telah turun dibawah centreline dengan histogram bar menurun diarea negatif. Dari indikasi ini, maka IHSG dalam jangka pendek telah kembali ke pola downtrend.

13Desember15-IHSG

Diperkirakan untuk awal pekan besok, IHSG kemungkinan akan melanjutkan penurunannya dan berpeluang menutup gap bawah diarea 4346-4381, sebagai imbas dari sentimen negatif penurunan tajam yang terjadi pada Bursa AS dan Eropa pada akhir pekan kemaren. Tetap berhati-hati untuk trader dalam menyiapkan pola trading jangka pendeknya. Sebaiknya wait & see sambil menunggu situasi kembali kondusif. Sementara bagi investor, boleh melakukan akumulasi dengan buy bertahap jika terjadi koreksi tajam, terutama pada saham-saham yang masih memiliki prospek dan kinerja bagus.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*