Pasca Kenaikan Fed Rate, Bagaimana Potensi Pergerakan IHSG Jelang Akhir Tahun??

Wall Street anjlok tajam pada akhir pekan, seiring dengan kembali turunnya harga minyak. Berakhirnya kontrak options turut menambah volatilitas pada bursa saham AS. Sementara data ekonomi yang negatif pasca kenaikan suku bunga oleh The Fed, yaitu penurunan indeks PMI sektor jasa AS bulan Desember menjadi 53.7 dari 56.1 yang merupakan angka terendah dalam 12 bulan, ikut menambah beban sentimen pasar. Dow Jones anjlok sebesar 367,29 poin (-2,1%) berakhir di level 17.128,55, S&P 500 melemah 36,34 poin (-1,78%) ke level 2.005,55 dan Nasdaq turun 79,47 poin (-1,59%) menjadi 4.923,08 poin. Untuk pekan kemaren, Dow Jones turun -0,79%, S&P 500 merosot -0,33% dan Nasdaq melemah -0,21%.

Dari dalam negeri, IHSG merosot turun 87,310 poin (-1,92%) ke level 4.468,654, akibat maraknya aksi jual saham oleh investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp. 401 Milyar di pasar reguler. Ditengah pelemahan IHSG, nilai tukar Rupiah malah mencatatkan penguatan dengan berada di posisi Rp. 13.917/USD. Sepanjang pekan kemaren, sentimen dari kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps menjadi faktor penggerak market. IHSG berhasil naik +1,71% dalam sepekan, dengan investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp. 327 Milyar. Sedangkan dalam sepekan terakhir rupiah terangkat menguat +0,54%.

Ketidakpastian di pasar modal mulai berkurang setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada pertemuan 16 Desember 2015 lalu. Namun sehari pasca naiknya suku bunga The Fed, Bursa saham dunia malah tertekan. Salah satu sentimen yang mendorong kejatuhan Burasa Global diakhir pekan, karena investor masih melihat adanya prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Pelaku pasar terlihat cukup berhati-hati dalam bertransaksi setelah Bank Sentral AS memutuskan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. Investor melihat di tengah membaiknya ekonomi Amerika, justru prospek ekonomi global sedang tertekan. Perlambatan ekonomi yang dialami oleh China dan juga pelemahan harga komoditas karena penurunan harga minyak dunia yang diperdagangkan di sekitar tingkat terendah dalam hampir tujuh tahun terakhir, akan sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi global.

Untuk pekan depan, perdagangan IHSG akan berlangsung pendek dan terbatas dengan menyisakan 3 hari perdagangan lantaran libur nasional pada kamis dan jum’at mendatang. Dari data ekonomi tidak ada yang dirilis hingga awal tahun depan. Investor hanya menunggu pengumuman paket kebijakan ekonomi jilid VIII yang rencananya akan diumumkan pada besok Senin. Kabarnya Paket kebijakan ini bakal menitikberatkan pada persoalan logistik. Sementara dari luar negeri, investor mencermati rilis US GDP Growth Rate Q3-2015, data perumahan AS dan data durable goods orders yang akan rilis hari selasa dan rabu depan. Sedangkan dari zona Eropa, pelaku pasar menungu data indeks harga produksi dan tingkat kepercayaan konsumen kawasan tersebut diawal pekan.

Secara teknikal, IHSG masih bergerak dalam pola rectangles namun cenderung menurun didalam down trend channelnya. Indikator teknikal masih bergerak mixed. Stochastic bergerak naik, sedangkan MACD slips condong bergerak mendatar diarea negatif. Dari indikasi ini menunjukan bahwa dalam jangka pendek IHSG masih berkonsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Untuk pekan depan, IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support terdekat berada di kisaran gap bawah 4409-4429. Penurunan di bawah gap ini berpotensi membuat IHSG menguji support selanjutnya dikisaran 4330-4350 lagi. Sementara untuk resisten terdekat berada di 4556, dengan resisten selanjutnya berada di level 4621 hingga 4696. Sejauh ini belum terlihat ada indikasi perubahan trend. Indikasi kenaikan baru akan terlihat jika IHSG mampu menguat keatas 4696.

20Desember15-IHSG

Koreksi tajam yang terjadi pada Dow Jones dalam 2 hari terakhir memang mengkhawatirkan. Namun jika dilihat dari chartnya, Dow Jones sedang berada di area support cukup kuat dikisaran 16.933-17.100 seperti yang terlihat pada chart di bawah ini.

20Desember15-DJIA

Untuk awal pekan besok IHSG kemungkinan akan dibuka cenderung bergerak turun dan berpotensi menutup gap di area 4409-4429. Penurunan ini imbas dari sentimen negatif pasar saham global pada akhir pekan kemaren. Namun demikian peluang menguat di pekan depan masih terbuka, mengingat mulai memasuki liburan natal dan akhir tahun, seperti biasa para fund manager asing sudah banyak yang libur. Transaksi cenderung mulai sepi dan hal ini biasanya akan dimanfaatkan oleh fund manager lokal maupun emiten untuk melakukan aksi window dressing jelang akhir tahun.

Untuk trader bisa melakukan trading jangka pendek pada saham-saham yang biasanya melakukan window dressing jelang akhir tahun, seperti grup Astra, saham perbankan besar dan saham-saham konstruksi serta consumer. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa melakukan akumulasi buy bertahap terutama pada saham-saham yang memiliki prospek dan kinerja bagus untuk tahun depan.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *