Gejolak Bursa China Rontokan Bursa Global, Bagaimana Dengan IHSG?

Business People Facing China Debt Crisis

Bursa saham AS melanjutkan pelemahannya pada penutupan perdagangan akhir pekan. Padahal data ekonomi AS yang dirilis bagus. Data nonfarm payrolls melonjak ke 292.000 pada bulan Desember dan tingkat pengangguran bertahan stabil pada level 5%. Namun investor gelisah dan takut karena banyaknya ketidakpastian, terutama prospek ekonomi China dan melemahnya harga minyak dunia. Dow Jones ditutup turun 167,65 poin (-1,02%) ke level 16.346,45, S&P 500 melemah 21,06 poin (-1,08%) menjadi 1.922,03 dan Nasdaq berkurang 45,79 poin (-0,98%) ke 4.643,64. Sepanjang pekan pertama tahun 2016 ini, Bursa AS terpuruk ke pelemahan mingguan terburuk dalam hampir lebih dari 4 tahun, membuat Dow Jones anjlok -6,19%, S&P 500 rontok -5,96% dan Nasdaq merosot -7,26%.

Sementara dari dalam negeri, mengakhiri perdagangan akhir pekan, IHSG berhasil ditutup naik 15,840 poin (+0,35%) ke level 4.546,288. Meningkatnya Cadangan Devisa RI akhir Desember 2015 naik menjadi US$ 105,9 Miliar dibandingkan bulan sebelumnya US$ 100,2 miliar, menjadi sentimen positif bagi IHSG pada akhir pekan. Namun kenaikan ini tidak disertai oleh masuknya aliran dana asing. Tercatat investor asing malah membukukan net sell sebesar Rp. 600 Miliar dipasar reguler. Dalam mengawali pekan pertama tahun ini, IHSG mengalami penurunan sebesar -1,02%, tertekan oleh sentimen negatif dari bursa global. Investor asing membukukan penjualan bersih senilai Rp. 518 miliar sepanjang pekan lalu.

Mengawali perdagangan tahun 2016, pasar saham dunia turun tajam. Dipicu dari anjloknya bursa saham China, terpuruknya harga minyak dan memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah antara Arab Saudi dan Iran, serta percobaan nuklir Korea Utara, membuat hampir semua bursa saham global rontok. Sentimen negatif tersebut ikut menekan IHSG. Padahal dari dalam negeri sedang banyak sentimen positif diawal tahun ini. Turunnya harga BBM dan listirk, rendahnya inflasi sepanjang 2015 yang tercatat sebesar 3,35%, dan naiknya cadangan devisa membuka peluang akan diturunkannya BI rate pada pertemuan RDG BI pekan depan 13-14 Januari 2015. Namun tekanan ekternal yang datang bertubi-tubi, meningkatkan resiko pada market dan membuat kenaikan IHSG tertahan.

Awal pekan pertama tahun ini bisa dibilang menjadi yang terburuk bagi bursa global sejak krisis 2008 lalu. Bahkan George Soros meramalkan krisis ekonomi 2008 tengah mengintai dunia gara-gara China, dan investor diingatkan untuk sangat berhati-hati akan kemungkinan terulangnya krisis itu kembali. Perlambatan ekonomi di China membuat negara tersebut melakukan devaluasi mata uangnya. Langkah China yang kembali mendevaluasi yuan mengguncangkan pasar financial global, memberikan masalah baru bagi dunia dan membuat nilai tukar mata uang global, harga saham dunia serta harga komoditas bergejolak tajam di pekan pertama tahun ini. Harga Minyak dunia bahkan sempat menyentuh level US$ 32/barel, anjlok turun 10% dalam sepekan dan mencapai posisi terendah dalam 12 tahun. Goldman Sachs memperkirakan harga minyak bisa turun lebih dalam hingga ke level US$ 20/barel.

Pekan ini bursa global diperkirakan masih akan terus bergolak. Kombinasi dari kekhawatiran akan perlambatan ekonomi China dan penurunan harga minyak masih akan menjadi fokus perhatian investor. Namun demikian tekanan jual bursa global diperkirakan akan sedikit mereda pada pekan ini. Kondisi oversold akibat tekanan jual yang besar dan tiba-tiba diawal tahun berpotensi membuka peluang terjadinya technical rebound, yang diperkirakan kemungkinan besar akan terjadi paling lambat pertengahan atau akhir pekan ini.

Dari China, data inflasi yang dirilis sabtu akhir pekan kemaren, mulai membaik. Data inflasi China Desember 2015 dirilis naik dari 1,5% menjadi 1,6%, serta data PPI bertahan di level minus 5,9%. Hal ini diperkirakan bisa menenangkan kondisi bursa regional di awal pekan besok, setelah selama pekan lalu isu ekonomi negara tersebut diterpa serangan ketidakpastian yang tinggi. Data penting China lainnya yang akan rilis pada rabu ini adalah data perdagangan China, yaitu trade balance dan export-import.

Sedangkan dari AS, untuk pekan ini data indikator ekonomi AS yang dirilis minim. Selain pidato dari beberapa pejabat The Fed, data penting yang dicermati oleh investor adalah data inventory minyak AS pada rabu depan dan penjualan ritel serta sentimen konsumen bulan Desember pada jum’at depan. Sementara dari dalam negeri, investor mencermati interest rate decision pada hari kamis depan. Ada peluang bagi BI untuk menurunkan BI Rate. Dan ketika BI Rate turun, maka itu akan direspon positif oleh pasar.

Secara teknikal, IHSG terlihat bergerak datar dan masih berkonsolidasi. Indikator teknikal Stochastic bergerak turun, sedangkan MACD masih bergerak sideways diarea positif, mengindikasikan bahwa dalam jangka pendek IHSG masih berkonsolidasi mencari arah pergerakan selanjutnya. Untuk pekan ini, IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support di area gap bawah 4409-4429, sedangkan untuk resistennya berada dikisaran 4639 hingga 4696. Penurunan di bawah support gap berpotensi membuat IHSG kembali dalam trend turun. Sedangkan jika mampu melewati resisten 4696, maka IHSG akan kembali dalam trend naik.

10Januari16-IHSG

Kinerja IHSG di awal tahun 2016 ini dianggap jauh lebih baik jika dibanding indeks dunia lainnya. Walalupun tertekan turun -1,02% year to date, namun pencapaian ini dianggap sebagai salah satu kinerja terbaik. IHSG termasuk indeks dengan kinerja terbaik ke-3 di dunia dan bahkan termasuk kinerja terbaik pertama dikawasan regional asia untuk awal tahun 2016 ini.

IHSG-Return(double klik untuk memperbesar gambar)

Akan tetapi mengingat bahwa faktor global yang masih negatif, maka disarankan untuk tetap berhati-hati, terutama dalam memilih saham yang akan dibeli. Saham yang tampak mulai menunjukan pergerakan yang menjanjikan di awal tahun ini adalah saham konstruksi BUMN. Kenaikan saham sektor ini di awal tahun, karena upaya Pemerintah untuk terus menggenjot percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia dan seiring bergulirnya proyek-proyek infrastruktur pemerintah sejak awal tahun ini. Mengawali tahun 2016, pemerintah telah melakukan penandatanganan 644 paket kontrak kegiatan senilai Rp. 8,81 triliun sejak dari awal tahun. Beda dengan tahun lalu, akibat dari perubahan nomenklatur, beberapa tender proyek sempat mundur dan baru diadakan pada akhir kwartal I atau awal kwartal II-2015.

Kenaikan saham-saham sektor konstruksi BUMN ini memang sudah lama ditunggu-tunggu oleh para investor, setelah tahun lalu saham-saham tersebut hanya condong bergerak stagnan. Selain saham sektor ini, saham-saham perbankan, infrastruktur, properti dan consumer goods juga perlu diperhatikan, sebagai imbas dari paket kebijakan pemerintah yang telah dirilis sejak tahun lalu.

Tetap berhati-hati untuk trader dalam menyiapkan pola trading jangka pendeknya mengingat masih adanya resiko pada IHSG dari market global. Jangan lupa untuk selalu kontrol resiko dan disiplin dengan trading plans yang telah dibuat. Keep safe trading !! Sementara bagi investor, boleh melakukan akumulasi dengan buy bertahap jika terjadi koreksi tajam, terutama pada saham-saham yang masih memiliki prospek dan kinerja bagus.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*