Chance Of End Consolidation, IHSG Ready To Step Forward

Bursa saham Wall Street menutup perdagangan akhir pekan dengan menguat tajam. Penguatan ini didorong oleh kenaikan saham-saham teknologi dan rilis pertumbuhan ekonomi AS yang melemah di kuartal keempat, sehingga menimbulkan spekulasi bahwa The Fed kemungkinan akan memperlambat kenaikan suku bunganya. Selain itu keputusan bank sentral Jepang (BOJ) yang memangkas suku bunga acuannya di bawah nol, alias negatif membuat Bursa saham global melonjak di akhir bulan Januari. Dow Jones berhasil naik 396,66 poin (+2,47%) ke level 16.466,30, S&P500 menguat 46,88 poin (+2,48%) menjadi 1.940,24 dan Nasdaq meningkat 107,28 poin (+2,38%) ke 4.613,95. Dalam sepekan, Dow Jones melonjak +2,32%, S&P meningkat +1,75% dan Nasdaq bertambah +0,50%. Namun sepanjang Bulan Januari 2016, Bursa saham AS mencatatkan kinerja negatif dengan Dow Jones turun -5,5%, S&P500 melemah -5,04% dan Nasdaq anjlok -7,9%.

Sementara dari dalam negeri, mengakhiri perdagangan akhir pekan IHSG ditutup menguat 12,334 poin (+0,27%) ke level 4.615,163. Keputusan Moody’s yang kembali mengafirmasi peringkat Indonesia pada level investment grade, membuat aliran dana asing kembali masuk ke bursa sehingga mencatatkan net buy sebesar Rp. 1,4 triliun dipasar reguler. Sepanjang pekan kemaren, IHSG berhasil menguat +3,55%, dengan diikuti oleh net buy asing sebesar Rp. 1,91 Triliun dalam sepekan. Dan sepanjang bulan Januari 2016, IHSG berhasil naik sebesar +0,48%.

IHSG dan Bursa Regional berhasil rebound, sesuai dengan perkiraan kami pekan lalu dalam ulasan “Bursa Global Rebound, Bagaimana Dengan IHSG? “. Kenaikan Bursa saham dunia pada akhir pekan kemaren merupakan efek dari reboundnya harga minyak dunia dan langkah kebijakan stimulus moneter yang dilakukan oleh BOJ. Harga minyak dunia naik setelah investor berspekulasi terhadap rencana pertemuan pejabat Russia dengan OPEC yang berkemungkinan untuk menurunkan produksi minyak. Sementara aksi BOJ yang menurunan tingkat suku bunga menjadi -0,1%, dilakukan untuk mendorong masyarakat Jepang agar mau membelanjakan uangnya ketimbang menyimpan di bank, sehingga merangsang konsumsi dan investasi Jepang dan dapat meningkatkan inflasi.

Sesuai prediksi kami pekan lalu, harga minyak kembali rebound dan sempat mencapai level US$ 34,5/barel. Namun untuk meningkat lebih jauh kami masih ragu, mengingat secara fundamental belum ada perubahan dari supply dan demand. Bahkan spekulasi pertemuan pejabat Rusia dengan OPEC sudah dibantah oleh delegasi OPEC, yang beritanya dapat dibaca disini.  Sementara dari Bursa AS, Dow Jones masih ada potensi untuk naik lebih lanjut. Setelah rebound dari support psikologis 16.000, secara teknikal Dow Jones masih ada potensi kenaikan menuju target dikisaran 16.600-16.650. Satu-satunya yang mbleset dari perkiraan kami pekan lalu adalah turunnya Bursa Shanghai menembus support level 2850. Penembusan support tersebut berpotensi membawa Bursa Shanghai untuk melanjutkan pelemahannya menuju kisaran 2500-2350. Namun untuk turun ke level tersebut pada pekan ini kemungkinannya kecil, karena jelang tahun baru imlek biasanya pemerintah China akan menjaga market dengan menginjeksikan dana untuk melonggarkan likuiditas. Kesimpulannya dari ekternal, sentimen dari minyak dan China akan netral, sementara dari Wall Street masih cenderung positif.

Lalu bagaimana dengan pergerakan IHSG pada pekan ini?

Sesuai dengan analisa kami pada pekan sebelumnya, IHSG dalam jangka menengah masih cenderung berkonsolidasi . Ketika perekonomian dunia dilanda resesi dan bursa saham dunia turun pada awal tahun ini, laju perekonomian Indonesia memang masih tergolong stabil. Hal ini dapat dilihat dari stabilnya pergerakan nilai tukar Rupiah dan juga data-data ekonomi yang telah dirilis dari awal tahun. Stabilnya ekonomi Indonesia juga mendapatkan pengakuan dari Moody’s yang kembali menyematkan peringkat layak investasi di penghujung bulan Januari. Langkah salah satu lembaga pemeringkat yang diakui dunia tersebut, menjadi sentimen positif bagi IHSG. Untuk pertama kalinya sejak perdagangan awal tahun 2016, foreign net buy masuk kembali ke bursa senilai Rp. 1,4 Triliun dalam sehari. Sentimen positif lainnya adalah kembali menguatnya nilai tukar Rupiah ke kisaran level Rp. 13.700/USD dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun ke level 8,25. Diperkirakan sentimen positif ini dapat berlanjut bagi IHSG pada pekan ini.

Technically, trend jangka menengah IHSG masih bergerak sideways dikisaran support 4330-4409, sedangkan resistennya berada di 4639-4696. Pekan ini IHSG mencoba untuk menembus keatas resisten area konsolidasinya tersebut. Jika dapat melewati resisten level 4696, maka kita akan melihat IHSG menuju target di 4850 pada bulan Februari ini. Indikator teknikal Stochastic berada di area overbought, sedangkan MACD bergerak sideways condong naik diatas centerline dengan histogram bar positif, mengindikasikan IHSG dalam jangka pendek sideways cenderung menguat. Diperkirakan untuk pekan ini IHSG akan bergerak dengan support di area gap 4517-4526, sedangkan resistennya ada di 4696.

31Januari16-IHSG

Pekan ini IHSG akan banyak dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri. Untuk awal pekan, seperti biasa memulai awal bulan, pelaku pasar menunggu data inflasi dan manufaktur. BI memperkirakan inflasi bulan Januari 2016 akan berada pada angka 0,75%. Data penting lain yang ditunggu adalah rilis GDP 4Q-2015 dan cadangan devisa pada jum’at akhir pekan. Selain itu pelaku pasar juga tengah menunggu rilis laporan keuangan FY emiten tahun 2015.

Sementara dari luar negeri, ada beberapa data ekonomi dan agenda penting yang diperhatikan oleh investor yaitu:

  1. Di awal bulan Februari atau hari senin: dibuka oleh data kinerja sektor manufaktur di China, AS dan zona Euro, serta pernyataan Presiden ECB Mario Draghi.
  2. Hari selasa: data unemplyment rate zona eropa
  3. Hari Rabu: data inventory minyak AS, ADP Employment Change dan ISM Manufacturing.
  4. Hari Jum’at: Neraca perdagangan AS, data ketenagakerjaan NFP dan tingkat pengangguran AS.

Walaupun masih cenderung menguat, namun kenaikan IHSG yang telah memasuki hari ke-6 berturut-turut dan telah memasuki area resisten kuat, membuka potensi untuk terjadinya minor profit taking. Tetap disarankan untuk berhati-hati dan lakukan safe trading, mengingat masih ada fluktuatif dari banyaknya tantangan dan persoalan pada bursa saham dunia yang belum terlihat solusi yang jelas. Namun jika terjadi koreksi, dapat melakukan akumulasi beli terutama pada saham-saham yang akan merilis LK FY 2015 yang diperkirakan masih memiliki prospek dan kinerja bagus.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Jangan lupa untuk selalu kontrol resiko dan disiplin dengan trading plans yang telah dibuat. Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *