IHSG Akan Turun, Siap-Siap Untuk Menangkap Peluangnya

Wall Street ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan seiring penurunan harga minyak akibat penguatan USD. Tekanan dari saham energi, bank dan konsumen pasca laporan earnings kuartalan yang buruk dari para peritel seperti Nordstrom dan J.C. Penney menambah beban pada market, sehingga menutupi data penjualan ritel AS bulan April yang positif, naik 1,3% dan melebihi estimasi. Dow Jones ditutup merosot 185.18 poin (-1.05%) pada level 17,535.32, S&P 500 turun 17.50 poin(-0.85%) ke level 2,046.61 dan Nasdaq melemah 19.66 poin (-0.41%) ke 4,717.68. Dengan pelemahan ini, maka Dow Jones dan S&P 50 memperpanjang pelemahan menjadi tiga minggu beruntun dengan turun sebesar -1,16% dan -0,51%. Sedangkan Nasdaq mencatatkan empat pekan negatif berturut-turut, dengan melemah -0,39%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 41,607 poin (-0,87%) ke level 4.761,715, seiring dengan pelemahan mayoritas bursa saham Asia. Dana asing yang keluar dari pasar reguler tercatat Rp 287 miliar. Selama sepekan, IHSG kehilangan -1,26% dan memperpanjang koreksi menjadi tiga pekan berturut-turut, dengan disertai keluarnya dana asing dari market sebesar Rp. 408 milyar dalam sepakan.

Memasuki pertengahan bulan Mei, pasar saham dunia terlihat cenderung mulai bergerak turun. Fenomena Sell in May and Go Away yang mulai nampak di awal Mei, makin terlihat terjadi keseluruh bursa saham dunia. IHSG pun saat ini juga cenderung turun dan berpeluang mengakhiri konsolidasi yang terbentuk sejak 2 bulan lalu.

Jika kita perhatikan indeks Dow Jones (DJIA), tampak bahwa dalam jangka pendek trend sudah berubah menjadi turun. Akhir pekan kemaren DJIA bahkan mengkonfirmasi penurunannya setelah melemah menembus ke bawah support 17.580. Penembusan support tersebut mengkonfirmasi pembentukan pola Head & Shoulder, sehingga DJIA berpotensi turun menuju level 17.000.

15Mei16-DJIA

Apa yang menjadi penyebab bursa saham dunia cenderung bergerak turun memasuki bulan Mei tahun ini?

Setidaknya akan ada 2 issue global yang akan menjadi perhatian pelaku pasar pada bulan Juni depan. Issue pertama adalah kenaikan suku bunga The Fed (FFR) yang diperkirakan akan dilakukan pada pertengahan bulan depan. The Fed akan menggelar FOMC meeting untuk menentukan FFR  pada tanggal  14-15 Juni 2016. Dari berbagai kesempatan, beberapa petinggi The Fed mengatakan bahwa tahun ini akan menaikan FFR sebanyak 2 kali. Kemungkikanannya kenaikan akan dilakukan pada bulan Juni, September atau Desember. Terkait jadi naik atau tidak, biasanya mendekati gelaran FOMC meeting yang menentukan kenaikan FFR, market dunia akan cenderung tertekan, terutama jika data-data ekonomi AS mulai menunjukan perbaikan.

Lalu issue yang kedua adalah Brexit. Beberapa analis memperkirakan akan terjadi goncangan pada pasar saham dunia jika Inggris meninggalkan Uni Eropa. Akhir pekan kemaren, Pimpinan IMF Christine Lagarde memperingatkan jika hasil referendum 23 Juni 2016 Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa, maka akan terjadi volatilitas di pasar keuangan global dan Inggris akan mengalami kejatuhan pasar saham serta penurunan harga rumah, karena akan tercipta ketidakpastian di market (klik disini untuk melihat beritanya).

Lalu bagaimana dengan IHSG?

Selain tertekan oleh issue global, IHSG juga mengalami tekanan akibat banyak isu-isu yang enggak jelas di market, sehingga berpotensi terjadi koreksi dalam jangka pendek. Ketidakpastian mengenai kapan disahkannya UU tax amnesty dan pemberian peringkat investment grade oleh S&P, serta tekanan yang terjadi pada saham-saham perbankan besar, khususnya bank BUMN, setelah Pemerintah menginginkan pemangkasan suku bunga hingga level single digit, menjadi katalis tertekannya IHSG saat ini.

Secara teknikal, tekanan yang terjadi pada IHSG diperkirakan akan berlanjut pada awal pekan depan. Indikator teknikal MACD yang mulai turun kebawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih dalam trend pergerakan negatif untuk jangka pendek. Walaupun IHSG masih dapat close di level 4761 dan terlihat masih berkonsolidasi, namun jika kita perhatikan IHSG telah turun menembus support trend naik jangka menengah yang terbentuk sejak bulan september tahun lalu (garis warna merah dari chart di bawah ini). Apabila besok senin, kembali turun dan di tutup di bawah level 4757, maka IHSG akan confirm turun dengan target menuju kisaran 4600-4630, dan minor target di kisaran level 4680-4690.

15Mei16-IHSG

Dari kondisi tersebut diatas, maka kedepan investor diharapkan untuk lebih berhati-hati, khususnya memasuki awal bulan Juni. Selain issue global (kenaikan FFR dan Brexit), IHSG juga akan mulai memasuki awal bulan puasa. Seperti biasa, awal puasa dalam beberapa tahun terakhir identik dengan turunnya volume transaksi perdagangan. Kemungkinan aktivitas transaksi di bursa saham pada Ramadhan tahun ini juga akan cenderung sepi, kecuali jika tiba-tiba S&P memberikan peringkat investment grade pada Indonesia  (dikabarkan S&P akan memberikan investment grade kurang dari sebulan).

Jadi walaupun secara teknikal IHSG cenderung turun, tapi itu bagus dan merupakan peluang. Investor bisa memanfaatkan penurunan ini untuk mendapatkan saham dengan harga murah. Karena jika Indonesia nantinya mendapatkan rating investment grade, ataupun UU Tax amnesty jadi disahkan, maka IHSG akan kembali bergerak naik.

“Hitungan saya jika kedua katalis tersebut terjadi, maka IHSG akan dengan mudah menembus keatas level 5000 lagi. Hal ini terjadi karena IHSG akan kebanjiran likuiditas, baik dari investor asing akibat naiknya peringkat investment grade, maupun dari investor lokal yang akan mengalihkan dananya dari luar negeri  masuk ke dalam bursa. Jadi pergunakan kesempatan turunnya IHSG sebagai peluang untuk mendapatkan barang murah. Tentunya juga harus memilih saham-saham dengan kinerja bagus.”

Untuk pekan ini, pelaku pasar akan mencermati rilis data export-import dan neraca perdagangan bulan April yang akan rilis besok senin. Sedangkan pada hari kamis, investor menantikan keputusan BI rate mengenai suku bunga yang diperkirakan akan tetap di level 6,75%. Sementara dari luar negeri, beberapa data ekonomi dan agenda penting yang akan menjadi perhatian para pelaku pasar adalah:

  • Hari Selasa: rilis data neraca perdagangan zona euro, rilis data inflasi AS
  • Hari Rabu: rilis data perumahan China, ECB Governing Council Meeting dan rilis data inflasi Euro zone, rilis data persediaan minyak AS dan FOMC Meeting Minutes
  • Hari Kamis: Awal Meeting G7
  • Hari Jum’at: Meeting G7, rilis data penjualan perumahan AS

Untuk besok senin, IHSG diperkirakan masih akan mencoba bertahan di level 4700 sebagi level supportnya. Sedangkan untuk resistennya diperkirakan akan berada di level 4788. Melihat kondisi teknikal, bagi trader tetap disarankan untuk lebih berhati-hati dalam menerapkan pola trading jangka pendek. Mengenai detail support dan resisten, serta target dari saham-saham yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek, akan diulas khusus di area member premium.  Tetap disarankan selalu kontrol resiko dan disiplin dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi pada saham-saham yang telah merilis kinerja bagus dan memiliki prospek cemerlang kedepan, dapat melakukan akumulasi pada saham-saham tersebut.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis untuk pekan ini. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*