Masih Cenderung Melemah, Tapi IHSG Punya Potensi Untuk Naik

Bursa saham Wall Street ditutup naik pada akhir pekan, didorong oleh penguatan saham sektor teknologi. Dow Jones berhasil naik 65,54 poin (+0,38%) ke level 17.500,94, S&P 500 menguat 12,28 poin (+0,6%) menjadi 2.052,32 dan Nasdaq melonjak 57,03 poin (+1,21%) ke 4.769,56. Bursa AS  berupaya rebound dari segala perbincangan mengenai Fed Rate pada minggu lalu. Sepanjang pekan Wall Street di tutup mixed, dimana Dow Jones melemah -0,2%, sedangkan S&P 500 berhasil naik +0,28% dan Nasdaq menguat +1,1%. Investor masih menunggu sejumlah data ekonomi baru yang akan keluar untuk menentukan apakah suku bunga acuan The Fed jadi dinaikkan atau tidak.

Dari dalam negeri, setelah bergerak naik turun di akhir pekan, IHSG akhirnya mampu ditutup menguat 7,661 poin (+0,16%) ke 4.711,878, dengan investor asing membukukan net buy tipis sebesar Rp. 10 milyar di pasar reguler. IHSG melanjutkan pelemahan menjadi 4 pekan berurutan, setelah pada pekan lalu masih anjlok -1,05%, tertekan oleh pelemahan Rupiah. Dalam sepekan dana asing yang keluar dari bursa tercatat  sebesar Rp. 462 milyar.

Spekulasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada bulan Juni yang makin kuat, membuat Dollar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Lonjakan nilai tukar dolar AS ini menekan Rupiah sehingga melemah keatas level Rp13.600/USD dan menjadi depresiasi terburuk sejak 25 September 2015. Pelemahan nilai tukar Rupiah ini membuat  IHSG turut tertekan, namun masih sanggup bertahan di level psikologis 4700.

Sesuai analisa sebelumnya pada pekan lalu, IHSG akhirnya bergerak turun dan mengakhiri konsolidasinya. Penurunan IHSG tepat tertahan di area minor target di level 4690 sesuai ulasan pekan lalu. Secara teknikal, IHSG masih berpeluang untuk turun lebih lanjut menuju target pelemahan dikisaran 4600-4630. Sentimen negatif dari spekulasi kenaikan FFR dan Brexit (dari ekternal) pada bulan Juni, serta ketidakpastian mengenai kapan disahkannya UU Tax Amnesty dan pemberian peringkat investment grade oleh S&P (dari internal), masih akan menjadi pemicu bagi penurunan IHSG.

Secara umum, IHSG masih belum bisa lepas dari downtrend channel jangka pendeknya (garis warna orange). Indikator teknikal bergerak mixed, dimana Stochastic golden cross diarea oversold, sedangkan MACD bergerak turun dibawah centreline dengan histogram bar diarea negatif. Dari kondisi teknikal tersebut mengindikasikan bahwa IHSG masih dalam kondisi downtrend dalam jangka pendek.

22Mei16-IHSG

Jika rebound, IHSG berpotensi menguji area resisten short term down trend channelnya dikisaran 4760-4778 pada pekan ini. Selama belum dapat keluar meninggalkan area down trend channel tersebut, maka IHSG masih akan bergerak turun menguji support kuat dikisaran 4600-4630 sebagai area target pelemahannya.

Untuk pekan ini tidak ada data penting dari dalam negeri.  Sementara dari luar negeri, beberapa data ekonomi dan agenda penting yang akan menjadi perhatian para pelaku pasar adalah:

  • Hari Senin: rilis data manufakturing Jerman dan data kepercayan konsumen Zona Euro
  • Hari Selasa: rilis data Sentimen Ekonomi Jerman dan data penjualan rumah baru AS
  • Hari Rabu: rilis data iklim bisnis Jerman, dan data persediaan minyak AS
  • Hari Kamis: rilis data klaim pengangguran dan durable goods orders AS
  • Hari Jum’at: rilis data GDP AS

Minimnya sentimen positif yang dapat mendorong market, akan membuat IHSG cenderung untuk berkonsolidasi lagi, dengan kecenderungan melemah terbatas. Walaupun ada potensi untuk melemah, tapi IHSG dapat bangkit dan rebound kencang jika tiba-tiba S&P memberikan peringkat investment grade kepada Indonesia. Demikian juga jika Rancangan UU Tax Amnesty selesai dibahas di DPR dan akan disahkan, maka akan menjadi katalis positif bagi IHSG untuk kembali menguat.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Melihat kondisi teknikal dimana peluang IHSG masih cenderung menurun, maka bagi trader tetap disarankan untuk lebih hati-hati dalam menerapkan pola trading jangka pendeknya dan selective dalam memilih saham. Untuk itu tetap disarankan selalu kontrol resiko dan disiplin dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, dapat mengakumulasi saham-saham yang turun namun memiliki kinerja bagus dan prospek cemerlang kedepan.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *