IHSG Tertekan Turun Tajam Akibat Trump Effect, What Next?

Mayoritas bursa saham AS menguat pada akhir pekan, pasca kemenangan mengejutkan Partai Republik dan Donald Trump dalam pemilu AS. Dominasi Partai Republik di Senat maupun House of Representative dipercaya akan memudahkan reformasi pajak baik individual maupun korporasi. Sementara terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS diperkirakan akan meningkatkan belanja untuk infrastruktur, serta pelonggaran regulasi perbankan, yang mendongkrak kinerja saham sektor-sektor tersebut. Dow Jones naik 39,78 poin (+0,21%) ke level 18.847,66, Nasdaq menguat 28,32 poin (+0,54%) ke posisi 5.237,11, namun S&P 500 melemah 3,03 poin (-0,14%) ke 2,164.45. Wall Street membukukan kinerja mingguan terbaik dan kembali mencetak rekor pada akhir pekan. Dalam sepekan Dow Jones melonjak +5,36% dan meraih persentase kenaikan mingguan terbesar sejak Desember 2011, S&P 500 naik +3,8%, menjadi yang terbaik sejak 2013, sedangkan  Nasdaq menguat +3,78% dan menjadi yang terbaik sejak bulan Februari.

Dari dalam negeri, akhir pekan kemaren IHSG ditutup melemah tajam 218,34 poin (-4,01%) ke level 5.231,97, terseret oleh pelemahan rupiah.  Investor asing pun melakukan aksi jual sekitar Rp. 3 Triliun di pasar reguler. Akibat penurunan tajam pada akhir pekan, IHSG membukukan kinerja negatif sepanjang pekan kemaren dengan turun sebesar -2,44% dan diikuti oleh keluarnya dana asing sebesar Rp. 7,97 triliun dipasar reguler.

Sesuai prediksi pada pekan sebelumnya dalam ulasan : “IHSG Bergerak Volatile Cenderung Melemah Pekan Ini “… IHSG benar-benar bergerak liar (volatile) dalam 3 hari terakhir dan berakhir turun tajam diakhir pekan. Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS memberikan dampak signifikan pada bursa saham dunia, tidak terkecuali IHSG.  Saat hari pemilihan, IHSG sempat anjlok turun gara-gara dalam perhitungan suara  Donald Trump diluar dugaan mengungguli rivalnya Hilary Clinton. Namun besoknya euforia, market rebound dan berasa IHSG akan break high karena Trump juga. Hingga akhirnya IHSG rontok, mencatat penurunan terdalamnya tahun ini, juga lagi-lagi karena Trump. Yeess… Trump Effect! benar-benar menjadi pemicu fluktuasi tajam pada IHSG.

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, membuat Ekonomi Global diperkirakan makin tidak pasti. Padahal uncertainty atau ketidakpastian di market, adalah hal yang paling tidak disukai oleh para investor. Beberapa kebijakan Trump yang dilontarkan selama kampanye, cenderung akan membawa ekonomi AS lebih tertutup dan cenderung proteksionis. Saat berkampanye, Trump pernah berjanji untuk membatalkan trade agreement yang merugikan AS dan mengenakan tarif masuk pada barang impor. Kebijakan proteksionis Trump ini dinilai investor akan memberikan dampak positif di dalam negeri AS, namun  memberikan dampak negatif pada negara lain, karena akan merugikan negara pengekspor seperti Indonesia.  Selain itu, kebijakan Trump lainnya yang berniat meningkatkan belanja infrastruktur diperkirakan akan membuat inflasi AS naik, sehingga akan mendorong kenaikan Fed rate lebih cepat. Hal inilah yang mendorong investor asing keluar dari Indonesia dan  membuat Rupiah sempat anjlok ke level 13.800/USD pada jum’at lalu, sebelum akhirnya di tutup dikisaran 13.365/USD diakhir pekan.

Pasar saham negara emerging market kompak melemah pada pekan lalu pasca pemilu AS, tapi yang paling parah turunnya memang Bursa Efek Indonesia. Ada yang bilang bahwa pelemahan Rupiah, anjloknya IHSG dan kaburnya investor asing, karena kekhawatiran akan kondisi politik Indonesia kurang kondusif seiring berita bahwa akan ada aksi demo besar lanjutan pada tanggal 25 November nanti. Saya sendiri tidak mau berandai-andai. Untuk sementara pelemahan Rupiah dan anjloknya IHSG saya perkirakan karena Trump Effect dan antisipasi kenaikan fed rate pada bulan desember yang makin menguat.  Pelemahan ini akan berakhir nanti setelah mencapai titik keseimbangan baru dan stabilisasi pasar mulai terbentuk. Saya juga berharap aksi demo tanggal 25 November nanti jika terjadi, akan berakhir damai. “Selama kondisi Indonesia aman, maka penurunan atau koreksi yang terjadi akan menemukan titik bottomnya dan akan berangsur-angsur membaik lagi, seperti koreksi-koreksi yang pernah terjadi setiap tahunnya “.

Secara teknikal, kondisi IHSG memang terlihat tidak terlalu bagus. Setelah gagal menembus area resisten kuat di 5480, IHSG malah turun menembus ke bawah support 5296, dengan volume transaksi yang meningkat. Indikator teknikal Stochastic bergerak turun, sedangkan MACD telah death cross. Dari kondisi ini menunjukan bahwa IHSG berpeluang melanjutkan penurunannya dalam jangka pendek. IHSG berpotensi menguji area support 5128 pada pekan ini, dengan resistennya berada di 5296.

13november16-ihsg

Untuk pekan ini pelaku pasar akan mencermati data neraca perdagangan dan export-import pada hari selasa. Sementara pada hari kamis, BI akan menentukan suku bunganya pada pertemuan pekan ini. Diperkirakan suku bunga BI rate akan tetap. Sedangkan dari luar negeri, beberapa agenda dan data ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar adalah:

  • Senin: Rilis data produksi industri dan penjualan ritel China, Rilis data GDP Jepang, Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi
  • Selasa: Rilis data GDP Zone Euro, Rilis data GDP dan index sentimen ekonomi Jerman, Rilis data penjualan ritel AS
  • Rabu: Rilis data persediaan minyak AS
  • Kamis: Pertemuan Kebijakan moneter ECB, Rilis data inflasi dan klaim pengangguran AS, serta pernyataan Ketua Fed Janet Yellen
  • Jumat: Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Jika melihat EIDO yang kembali turun tajam -4,46% pada akhir pekan kemaren, maka IHSG diperkirakan akan kembali turun, setidaknya diawal perdagangan pekan besok. Cermati pergerakan Rupiah dan pola investasi asing. Selama Rupiah bergerak volatile dengan kecenderungan melemah dan investor asing masih terus membukukan net sell dalam jumlah besar maka IHSG akan mengalami kesulitan untuk menguat.

Tetap lakukan safe trading, dan selalu kontrol resiko, sambil menunggu badai berlalu. Disarankan untuk lebih berhati-hati saat trading, terutama dalam menerapkan strategi trading jangka pendek. Bagi yang tidak berpengalaman, sebaiknya  menepi dulu sambil menunggu perkembangan pasar saham lebih kondusif. Sementara bagi investor bisa melakukan buy on weakness dengan cara beli bertahap pada saham-saham yang diperkirakan masih memiliki prospek cemerlang kedepan.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan, maka kami membuka layanan messaging satu arah di Telegram Messenger. Melalui Channel Steptrader yang memberikan update rekomendasi langsung melalui smartphone Anda. Kini mendapatkan rekomendasi StepTrader dapat diakses semakin cepat dan instan.

Silahkan download Telegram Messenger di Playstore atau Appstore anda. Temukan kami dengan search: @steptrader

atau…

klik link berikut: https://telegram.me/steptrader

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*