Dana Asing Terus Keluar Pasca Kenaikan Fed Rate, What Next?

Bursa  Wall Street ditutup melemah tipis pada akhir pekan, dipimpin oleh sektor keuangan, menyusul kecemasan adanya ketegangan geopolitik. Reuters melaporkan bahwa kapal perang China telah menyita drone bawah laut yang diluncurkan oleh sebuah kapal oseanografis asal AS di perairan internasional di Laut China Selatan. Hal ini memicu sebuah protes diplomatik dari AS dan permintaan untuk dikembalikan. Dow Jones ditutup turun tipis 8.83 poin (-0,04%) ke level 19,843.41, S&P 500 melemah 3.96 poin (-0,18%) ke 2,258.07, dan Nasdaq berkurang 19.69 poin (-0,36%) menjadi 5,437.16. Sepanjang pekan kemaren Wall Street berakhir mixed, dengan Dow Jones mengalami kenaikan +0,44%, sedangkan S&P 500 turun tipis -0,06% dan Nasdaq melemah -0,13%.

Dari dalam negeri, IHSG mengakhiri perdagangan di akhir pekan dengan ditutup turun 22,710 poin (-0,43%) ke 5.231,652. Dana asing keluar tercatat Rp 792 miliar di pasar reguler. Selama sepekan kinerja IHSG turun -1,36%, tertekan oleh aksi jual investor asing yang mencapai sekitar Rp. 2,6 triliun. Faktor yang menekan kinerja IHSG dan keluarnya dana asing adalah kenaikan suku bunga The Fed sebesar  25 bps menjadi 0,50%-0,75%. Selain itu, pimpinan The Fed Janet Yellen memberikan sinyal lebih agresif akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017, sehingga diharapkan mencapai 1,25%-1,50% pada akhir tahun depan.

Sinyal kenaikan suku bunga lebih agresif dari yang diharapkan oleh The Fed berdampak bagi kondisi market dunia, termasuk IHSG dan rupiah. Pasalnya, kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017, diluar dugaan pelaku pasar, sebab dalam FOMC sebelumnya pada bulan September, The Fed hanya memberikan sinyal kenaikan sebanyak dua kali pada tahun depan.

Kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali menjadi sesuatu yang mengejutkan, karena belum diantisipasi oleh pasar, sehingga butuh waktu bagi pelaku pasar untuk mencernanya. Pasca pernyataan The Fed tersebut, indeks dolar yang mengukur return mata uang dolar AS terhadap beberapa mata uang utama lainnya di dunia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dan mencapai puncaknya dalam 2 tahun terakhir diatas level 103. Selain itu, setelah The Fed memutuskan untuk menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 bps, BI kembali mempertahankan suku bunga 7-day RR Rate tetap pada level 4,75%. Dengan semakin pendeknya jarak (spread) antara suku bunga AS dengan BI, membuat dana asing yang keluar dari bursa Indonesia semakin deras, dikarenakan sebagian investor menarik dananya kembali pulang ke AS.

Walaupun dana asing yang keluar makin deras dan USD indeks naik menembus level tertingginya dalam 2 tahun terkahir, namun rupiah malah bergerak stabil dikisaran 13.300-13.450/USD, seperti yang terlihat pada chart dibawah ini.

Stabilnya nilai tukar rupiah, kemungkinan karena adanya intervensi dari BI, guna menjaga stabilitas ekonomi Indonesia yang telah menunjukan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Seperti kita ketahui, pekan kemaren Indonesia masih mencatatkan surplus neraca perdagangan di bulan November 2016 sebesar US$ 840 juta. Hal ini didorong oleh nilai ekspor Indonesia yang membaik dan bahkan melesat cukup tajam diluar perkiraan, naik hampir +22%. Membaiknya nilai ekspor Indonesia disebabkan karena membaiknya harga komoditas seperti tambang dan perkebunan yang menjadi andalan eksport Indonesia. Kondisi ini diperkirakan akan terus terjadi hingga tahun depan.

Menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi ditengah risiko ketidakpastian dari sisi eksternal dianggap penting dilakukan oleh pemerintah. Bersama dengan BI, pemerintah mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan memperkuat koordinasi kebijakan bersama untuk memastikan pelaksanaan reformasi struktural berjalan dengan baik, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan stabilnya pergerakan nilai tukar rupiah, maka IHSG diharapkan juga akan bertahan di tengah tekanan jual investor asing. Selama rupiah tidak melemah diatas level 13.700/USD, maka IHSG juga diperkirakan masih akan mampu bertahan.  Secara teknikal, IHSG masih bergerak dalam pola kecenderungan konsolidasi dikisaran 5211-5308 dalam jangka pendek. Selama IHSG masih mampu bertahan diatas support 5200-5211, maka masih ada potensi bagi IHSG untuk naik menuju gap atas di kisaran 5380-5443 pada akhir tahun yang tinggal menyisakan 2 pekan lagi, didorong oleh aksi window dressing.

Technically, kondisi IHSG saat ini masih belum membaik. Bahkan IHSG terlihat sedikit lebih buruk dari pekan sebelumnya. Dari indikator teknikal Stochastic terlihat mulai bergerak turun, keluar dari area overbought. Sedangkan MACD sedikit berada di bawah centreline. Diharapkan MACD mampu bergerak naik lagi dengan cross up keatas centreline. Dari kondisi teknikal ini, IHSG mengindikasikan masih berada dalam pola konsolidasi jangka pendek dengan kecenderungan melemah. Untuk besok senin, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang support 5211, sedangkan resistennya diperkirakan berada di 5260.

Tidak ada data ekonomi penting yang akan dirilis pada pekan ini. Sementara dari luar negeri, beberapa agenda dan data ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar adalah:

  • Hari Senin: Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data iklim usaha Jerman
  • Hari Selasa: Kebijakan ekonomi dan suku bunga BOJ
  • Hari Rabu: Rilis persediaan minyak AS, Rilis data kepercayaan konsumen zona uero
  • Hari Kamis: Rilis data persediaan barang tahan lama dan klaim pengangguran serta data GDP AS
  • Hari Jum’at: Rilis penjualan rumah baru AS, rilis data kepercayaan konsumen Jerman

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pasca pernyataan The Fed akan potensi naiknya suku bunga AS tahun depan sebanyak 3 kali, market masih mencari keseimbangan baru. Walaupun IHSG masih berkonsolidasi, namun secara teknikal masih ada potensi tekanan jual berlanjut dalam jangka pendek. IHSG masih akan menguji kekuatan area support 5200-5211, sambil menanti window dressing diakhir tahun. Walaupun secara historis window dressing biasanya terjadi diakhir tahun, karena banyak kepentingan baik dari emiten maupun para fund manajer, namun tidak ada jaminan bahwa window dressing pasti ada. Untuk itu disarakan selalu berhati-hati dengan melakukan safe trading, dan selalu kontrol resiko dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor jika terjadi koreksi, bisa melakukan buy on weakness dengan cara beli bertahap pada saham-saham yang diperkirakan masih memiliki prospek kinerja cemerlang kedepan.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Join layanan messaging satu arah di Channel Telegram Messenger kami untuk mendapatkan update rekomendasi langsung melalui smartphone Anda. Silahkan download Telegram Messenger di Playstore atau Appstore anda. Temukan kami dengan search: @steptrader

atau…

klik link berikut: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *