Jelang Akhir Tahun, Masih Adakah Efek Window Dressing Pada IHSG?

Sebelum memulai market outlook pekan terakhir di tahun ini, saya mau mengucapkan: “Selamat Natal bagi yang merayakannya. Semoga Terang Natal akan tinggal di hati kita. Teruslah berbuat baik, berbagi hati dengan cinta dan kasih. Karena itulah tujuan kelahiran Yesus, Tuhan juru selamat kita. God bless you all.”

Menutup perdagangan akhir pekan, Wall Street ditutup naik di tengah tipisnya volume perdagangan jelang libur Natal. Penguatan saham-saham di sektor kesehatan menutupi pelemahan yang terjadi di sektor konsumer dan energi. Dow Jones  kembali mendekati level 20.000, setelah ditutup naik tipis 14,93 poin (+0,07%) ke level 19.933,81 poin, S&P 500 menguat 2,83 poin (+0,13%) menjadi 2.263,79 poin dan Nasdaq bertambah 15,27 poin (+0,28%) ke 5.462,69 poin. Bursa AS mengakhiri kinerja mingguan dengan catatan positif, Dow Jones mengalami kenaikan +0,4%, S&P 500 menguat +0,25% dan Nasdaq naik +0,47%.

Dari dalam negeri, IHSG menutup perdagangan akhir pekan menjelang long weekend dengan mengalami penurunan 15,166 poin (-0,30%) ke level 5.027,704. Dana asing keluar tercatat Rp 552 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan terakhir IHSG terus bergerak di teritori negatif dan berakhir melemah -3,9%, tertekan oleh aksi jual investor asing jelang libur Natal dan Tahun Baru. Asing membukukan net sell mencapai sekitar Rp. 2,3 triliun dipasar reguler sepanjang pekan lalu.

Seperti ulasan pekan sebelumnya, dana asing terus bergerak keluar dari bursa Indonesia sejak kenaikan Fed Rate. Akibatnya IHSG terus bergerak melemah. Penurunan IHSG bahkan telah terjadi dalam 9 hari berturut-turut, sehingga mematahkan ekspektasi pelaku pasar akan peluang terjadinya window dressing di akhir tahun. Bahkan akibat koreksi yang terus berlangsung, pertumbuhan IHSG sejak awal tahun tergerus menjadi hanya naik +9,46% year to date, turun dari puncaknya +19,5% saat mencapai level 5.491,701 yang pernah dicapai pada tanggal 11 September lalu.

Selama 9 hari terakhir, IHSG telah mengalami penurunan sebesar -5,29%, yaitu sejak IHSG ditutup di level 5308 pada tanggal 9 Desember hingga penutupan perdagangan akhir pekan lalu di 5027. Padahal IHSG mendapatkan sentimen positif dari dinaikannya outlook Indonesia menjadi positif dari sebelumnya stabil oleh lembaga pemeringkat global Fitch Ratings, dengan menegaskan rating BBB-. Seharusnya sentimen positif dari Fitch Ratings ini memberikan dampak yang positif terhadap kepercayaan investor asing akan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan investasi. Lalu mengapa investor asing terus keluar dari bursa dan belum kembali masuk ke Indonesia?

Well.. seperti yang sudah kami ulas pada pekan lalu, ekspektasi bahwa The Fed tahun depan akan terus menaikan suku bunga sebanyak 3 kali guna mengatisipasi kenaikan inflasi akibat perbaikan pertumbuhan ekonomi AS, telah membuat USD pulang kembali ke negaranya sehingga membuatnya menguat terhadap mata uang negara lain. Keperkasaan USD ini juga berdampak negatif terhadap pelemahan mata uang rupiah. Dan seperti yang kita ketahui, bahwa IHSG berjalan seiring dengan pergerakan rupiah. Maka jika Rupiah melemah, IHSG akan cenderung tertekan.  Apalagi disaat asing terus melakukan penjualan tidak terlihat adanya perlawanan dari para manajer investasi besar lokal untuk menahan kejatuhan IHSG. Kondisi ini membuat IHSG perlahan-lahan mengalami penurunan hingga menembus kebawah MA 200 nya dan mendekati support psikologis 5000.

Secara teknikal, penurunan IHSG dibawah garis MA 200 nya, menunjukan bahwa IHSG dalam kondisi down trend. IHSG juga telah membentuk lower low setelah turun dibawah support 5043, sehingga makin membuat kondisinya terlihat jelek. Selama IHSG tidak mampu menguat kembali keatas MA 200 nya, maka IHSG berpeluang melanjutkan pelemahannya menuju target di level 4937. Bahkan IHSG berpeluang untuk menutup gap bawah dikisaran 4890-4905 jika tekanan jual terus berlanjut.

Dari indikator teknikal, MACD telah death cross dan berada dibawah centreline, sedangkan penurunan Stochastic telah berada diarea oversold. Kondisi ini menunjukan bahwa IHSG masih dalam trend pergerakan negatif. Untuk hari selasa diawal perdagangan pekan ini, IHSG diperkirakan akan bergerak di support psikologis 5000, sedangkan resistennya berada di level 5091.

Tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri pada pekan ini.  Sementara dari luar negeri, beberapa agenda dan data ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar adalah:

  • Hari Senin: Meeting Kebijakan moneter BOJ dan pidato pimpinan BOJ Kuroda
  • Hari Selasa: Rilis data inflasi dan tingkat pengangguran Jepang, Rilis data kepercayaan konsumen AS
  • Hari Kamis: Rilis data klaim pengangguran AS
  • Hari Jum’at: Rilis data persediaan minyak AS

Mendekati akhir tahun, tidak banyak data dan agenda penting yang akan dirilis membuat pergerakan pasar saham akan cenderung sepi.  Pelaku pasar juga cenderung telah berlibur dan meninggalkan market guna mengamankan profit yang telah didapat sepanjang tahun ini. Namun dengan menyisakan 4 hari perdagangan sebelum akhir tahun, harapan bahwa sejumlah fund manajer lokal akan melakukan aksi window dressing untuk memperbaiki portfolio investasi mereka jelang tutup buku tahun 2016, diharapkan dapat mengangkat IHSG diatas 5149 untuk menutup perdagangan tahun ini.

Secara historical dalam 15 tahun terakhir sejak 2001 hingga 2015, pergerakan IHSG di bulan Desember selalu berakhir positif, dengan rata-rata return sebesar +4,5%. Return tertinggi pernah dicapai pada bulan desember 2003 sebesar +12,12%. Sedangkan return terendah terjadi pada bulan Desember 2013 sebesar +0,42%. Selengkapnya dapat dilihat pada data dibawah ini:

Apabila tahun ini, bulan desember juga berakhir positif, maka IHSG harus dapat di tutup diatas penutupan bulan November di level 5.148,91. Itu artinya dengan menyisakan 4 hari perdagangan, IHSG harus dapat naik sebesar 2,41% agar dapat ditutup positif pada bulan ini. Hal yang masih memungkinkan dapat terjadi, karena jika melihat kondisi Indonesia tidaklah terlalu jelek dari sisi fundamentalnya. Angka inflasi terkendali, pertumbuhan ekonomi stabil di level 5%, neraca perdagangan mengalami surplus, dan angka cadangan devisa masih dalam level aman. Kita lihat saja bagaimana perdagangan disisa akhir tahun ini, apakah IHSG mampu dapat bergerak positif dengan di tutup naik untuk bulan desember ini.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Ekspektasi akan potensi naiknya suku bunga AS tahun depan sebanyak 3 kali, membuat market masih mencari titik keseimbangan baru. Walaupun secara teknikal kondisi IHSG saat ini terlihat jelek, namun disisa 4 hari perdagangan jelang tutup tahun diharapkan akan ada aksi window dressing, karena melihat secara historis potensi tersebut masih ada, meskipun tidak ada jaminan pasti. Untuk trading, tetap disarankan berhati-hati dengan melakukan safe trading, dan selalu kontrol resiko dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor jika terjadi koreksi, dapat melakukan buy on weakness dengan cara beli bertahap pada saham-saham yang diperkirakan masih memiliki prospek kinerja cemerlang kedepan.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Join layanan messaging satu arah di Channel Telegram Messenger kami untuk mendapatkan update rekomendasi langsung melalui smartphone Anda. Silahkan download Telegram Messenger di Playstore atau Appstore anda. Temukan kami dengan search: @steptrader

atau…

klik link berikut: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *