Menunggu Keputusan Fed Rate, IHSG Lanjut Konsolidasi

Bursa Wall Street ditutup bervariasi pada akhir pekan. Terjadi rotasi pada pasar, dimana saham sektor teknologi yang telah melonjak sepanjang tahun 2017, terkena profit taking. Sementara sektor saham keuangan dan saham energi mengimbanginya dengan mengalami kenaikan. Pasar mengabaikan peristiwa politik di Inggris dan AS. Dow Jones ditutup menguat 89,44 poin(+0,42%) ke level 21.271,97, sedangkan  Nasdaq melemah 113,85 poin (-1,8%) menjadi 6.207,92. Sementara S&P 500 bergerak flat dengan di tutup turun tipis 2,02 poin (-0,08%) ke posisi 2.431,77. Sepanjang pekan lalu, Bursa AS berakhir mixed dengan Dow Jones naik +0,31%, sedangkan S&P melemah -0,3% dan Nasdaq anjlok -1,55%.

Dari dalam negeri, mengakhiri perdagangan akhir pekan IHSG turun 27,399 poin (-0,48%) ke level 5.675,523.  Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp. 525 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan IHSG tercatat melemah sebesar -1,17%, dengan diikuti oleh keluarnya dana asing sebesar Rp. 856 milyar di pasar reguler.

Sepanjang pekan lalu IHSG cenderung mengalami tekanan. Pelaku pasar mengabaikan sentimen positif dalam negeri, yaitu rilis cadangan devisa yang mencapai US$ 124,95 miliar pada akhir Mei 2017, yang merupakan tertinggi sepanjang sejarah. Sentimen negatif dari sejumlah peristiwa global antara lain pemilu di Inggris dan teror bom di London, serta kesaksian mantan direktur FBI James Comey lebih membayangi laju IHSG. Selain itu, pelaku pasar juga tengah mengantisipasi pertemuan The Fed yang kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya pekan ini. Menurut survey dari CME Group, ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps menjadi 1,25% pada pertemuan tanggal 13-14 Juni 2017 telah mencapai 99,6% pada akhir pekan kemaren.

Pertemuan FOMC yang akan digelar pekan ini untuk menentukan kenaikan suku bunga AS memang akan menjadi perhatian pelaku pasar saham dunia. Selain tertuju pada rencana kenaikan suku bunga The Fed pada pekan ini, pasar juga tengah mencermati kebijakan suku bunga dari beberapa bank sentral dunia termasuk Indonesia. Dalam pertemuan hari kamis tanggal 15 Juni 2017, BI diperkirakan masih akan menahan tingkat suku bunga acuannya. Selain mencermati BI rate, pada hari tersebut pelaku pasar juga tengah menanti rilis data perdagangan Indonesia.

Disamping data dalam negeri,  beberapa agenda dan data ekonomi penting dari luar negeri yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini adalah:

  • Hari Selasa 13 Juni 2017: Rilis data inflasi Inggris; Rilis indeks sentimen ekonomi Jerman; Rilis data harga produsen AS
  • Hari Rabu 14 Juni 2017: Rilis data industri China; Rilis data tingkat pengangguran Inggris; Rilis data inflasi, penjualan ritel dan data persediaan minyak AS
  • Hari Kamis 15 Juni 2017: Kebijakan suku bunga Fed; Rilis data penjualan ritel dan Kebijakan suku bunga Inggris, Rilis data klaim pengangguran AS
  • Hari Jum’at 16 Juni 2017: Kebijakan suku bunga Jepang, Rilis data sentimen konsumen dan ijin pembangunan AS

Selain menantikan kebijakan suku bunga dari bank sentral AS, Inggris, Jepang dan Indonesia, pelaku pasar juga mencermati konferensi pers dan pernyataan dari kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank-bank sentral tersebut. Pernyataan yang dikeluarkan akan menjadi momen penting yang bisa menggerakan market, apakah akan direspon positif atau negatif oleh pasar.

Secara teknikal, IHSG masih bergerak naik didalam uptrend channel jangka menengahnya. Akan tetapi dalam jangka pendek, IHSG terlihat masih berkonsolidasi dengan bergerak sideways. Namun jika diperhatikan pergerakan IHSG terlihat mulai kurang kondusif. Indikator teknikal Stochastic dan MACD bergerak turun, mengindikasikan kecenderungan IHSG untuk melemah dalam jangka pendek. Saat ini IHSG sedang menguji support 5672, dan jika gagal bertahan akan berpeluang melemah menuju support selanjutnya di 5577. Sementara untuk resistennya saat ini berada di 5765, yang jika dapat dilewati akan menuju resisten all time high di 5874 kembali.

Sejak mengalami rally naik karena upgrade rating investment grade dari S&P, IHSG cenderung berkonsolidasi. Minimnya sentimen memicu asing untuk mengambil untung setelah IHSG menguat tajam ke level all time high. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa asing justru melakukan sell pada saat peringkat Indonesia naik menjadi layak investasi? Apakah asing melakukan profit taking dan keluar dari pasar saham Indonesia?

Well.. kalo menurut perkiraan saya, investor asing belum keluar dari IHSG. Memang dalam 2 pekan terakhir asing membukukan net sell, namun jumlah tersebut tidaklah besar di transaksi pasar reguler. Tercatat sejak awal tahun, net buy asing masih ada kisaran 25 triliun. Bahkan sejak peringkat Indonesia dinaikan oleh S&P, dana asing masih terus mengalir masuk ke Indonesia. Namun untuk sementara dana tersebut masuk ke Obligasi pemerintah atau SUN (Surat Utang Negara). Jadi sementara ini dana tersebut masih diparkir disana, karena masih adanya resiko dari ketidakpastian di global dan pendeknya periode perdagangan bulan ini oleh adanya libur panjang lebaran. Selain itu, kemungkinan investor asing masih menunggu rilis kinerja laporan keuangan kuartal II/2017 yang akan mulai dirilis pada bulan depan. Jika kinerja emiten terus membaik seperti di kuartal pertama, maka besar kemungkinan IHSG bakal melanjutkan bullish rally nya lagi dan bahkan dapat menuju level 6000 di kuartal III nanti.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Diperkirakan sampai akhir bulan ini, IHSG masih akan berkonsolidasi dengan bergerak di support 5577 dan resisten di 5874. Tetap disarankan untuk safe trading mengingat masih minimnya sentimen dan jelang kenaikan fed rate. Selalu kontrol resiko terutama apabila kondisi market menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian pada pasar. Untuk investor, jika terjadi koreksi bisa melakukan akumulasi bertahap, mengingat kondisi perekonomian dalam negeri yang masih cukup bagus dan stabil. Jika terjadi koreksi sehat, lakukan buy on weakness secara bertahap pada saham-saham yang masih berkinerja bagus dan memiliki prospek kinerja cemerlang kedepan.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Join layanan messaging satu arah di Channel Telegram Messenger kami untuk mendapatkan update rekomendasi langsung melalui smartphone Anda. Silahkan download Telegram Messenger di Playstore atau Appstore anda. Temukan kami dengan search: @steptrader

atau…

klik link berikut: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *