IHSG Masih Naik, Ditengah Meningkatnya Aksi Jual Asing, What Next?

Bursa Wall Street ditutup naik pada akhir pekan usai keluarnya data ekonomi AS yang melemah, sehingga menurunkan prospek kenaikan suku bunga The Fed yang agresif di akhir tahun ini. Indeks harga konsumen AS pada Juni tak berbeda jauh dengan bulan sebelumnya, sedangkan untuk penjualan ritel mengalami penurunan. Dengan adanya data tersebut, menunjukkan bahwa angka inflasi AS masih cenderung melemah.  Setelah keluarnya data-data tersebut, kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed pada Desember turun menjadi 48% dari angka 55% sebelumnya, berdasarkan data Reuters.

Dow Jones ditutup naik 84,65 poin (+0,39%) menjadi 21.637,74, S&P 500 menguat 11,44 poin (+0,47%) menjadi 2.459,27 dan Nasdaq bertambah 38,03 poin (+0,61%) ke level 6.312,47. Dengan penguatan tersebut, maka Dow Jones dan S&P 500 kembali mencetak rekor all time high. Sepanjang pekan lalu bursa AS ditutup menguat, dengan Dow Jones naik +1,04%, S&P meningkat +1,41%, dan Nasdaq melonjak +2,59%.

Dari dalam negeri, mengakhiri akhir pekan IHSG ditutup naik tipis 1,751 poin (+0,03%) ke level 5.831,79. Investor asing melepas saham sebesar Rp. 777 milyar di pasar reguler. Selama sepekan, IHSG mengalami kenaikan +0,29%, walaupun investor asing masih terus mencatatkan aksi jual sebesar Rp. 3,047 triliun dipasar reguler.

Kenaikan bursa saham utama dunia pada pekan lalu tak lepas dari pernyataan pimpinan The Fed Janet Yellen yang menekankan pada pemulihan ekonomi AS, serta rencana untuk mulai mengurangi memegang obligasi. Yellen juga memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga AS akan dilakukan secara bertahap. Pernyataan tersebut mendorong kenaikan harga saham dan menekan imbal hasil obligasi global. Sementara dari dalam negeri, rilis data kinerja keuangan emiten semester I 2017, menjadi pendorong bagi kenaikan IHSG. Rilis kinerja keuangan yang positif dari BBNI memberi efek positif bagi IHSG pada pekan lalu.

Dengan naiknya IHSG pada pekan lalu, maka secara teknikal trend kenaikan indeks masih terjaga. IHSG masih terus bergerak naik didalam up trend channel yang terbentuk sejak akhir tahun lalu, seperti yang terlihat pada gambar chart dibawah ini.

Kondisi IHSG saat ini masih belum berubah dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Meskipun masih dalam trend bullish, tapi dalam jangka pendek, IHSG masih relatif bergerak sideways. Support IHSG saat ini berada di 5765, sedangkan untuk resistennya berada di level 5910. Indikator teknikal Stochastic telah golden cross lagi, sedangkan MACD masih cenderung bergerak mendatar. Dari kondisi ini menunjukan bahwa IHSG masih cenderung berkonsolidasi dalam jangka pendek.

Perlu menjadi perhatian disini adalah support dari uptrend channel di 5765. Apabila support tersebut gagal dipertahankan, maka trend kenaikan IHSG akan patah, sehingga berpotensi untuk turun menuju target di 5577, dengan minor target dikisaran 5670 an. Namun apabila support tersebut terjaga dan IHSG masih berlanjut naik dengan menembus level tertingginya di 5910, maka peluang bagi IHSG untuk meneruskan bullish rally-nya menuju level psikologis 6000 menjadi sangat terbuka.

Untuk pekan ini, pelaku pasar akan mencermati data neraca perdagangan bulan Juni yang akan dirilis pada hari senin besok. Diperkirakan surplus neraca perdagangan akan kembali meningkat. BI memperkirakan surplus neraca perdagangan pada Juni akan naik menjadi USD 1,4 miliar, atau tumbuh kurang lebih sebanyak 3 kali lipat dari bulan sebelumnya sebesar USD 474 juta. Jika perkiraan BI tersebut benar, maka akan menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG pada awal pekan ini. Sementara pada hari kamis tanggal 20 Juli 2017, BI diperkirakan masih akan menahan tingkat suku bunga acuannya dalam rapat pertemuannya. Pelaku pasar memperkirakan tidak akan ada perubahan dalam penetapan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 4,75%.

Disamping data dalam negeri,  beberapa agenda dan data ekonomi penting dari luar negeri yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini adalah:

  • Hari Senin 17 Juli 2017: Rilis data GDP dan produksi pabrik China
  • Hari Selasa 18 Juli 2017: Rilis data inflasi Inggris dan Pidato Gubernur BOE Carney
  • Hari Rabu 19 Juli 2017: Rilis data perizinan pembangunan dan persediaan minyak AS
  • Hari Kamis 20 Juli 2017: Kebijakan moneter dan suku bunga serta Konferensi pers BOJ, Rilis data neraca perdagangan Jepang, Rilis data penjualan ritel Inggris, Kebijakan suku bunga dan Pernyataan Pers ECB, Rilis data keyakinan konsumen zona euro, Rilis data klaim pengangguran AS

Minggu ini banyak data dan kejadian ekonomi penting dari luar negeri. Beberapa bank sentral akan merilis kebijakan moneter suku bunganya dan menggelar konferensi pers, diantaranya adalah BOJ dan ECB. Hal ini akan menjadi momen penting bagi market, bisa menjadi sentimen positif atau negatif tergantung dari kebijakan yang diambil dan reaksi pasar. Kemudian rilis data kinerja keuangan emiten semester I 2017 mulai menjadi perhatian pelaku pasar. Antisipasi pertumbuhan kinerja perusahaan akan menjadi salah satu faktor sentimen yang akan menjadi penggerak market.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Untuk awal pekan besok, IHSG diperkirakan masih dapat melanjutkan penguatannya walaupun terbatas. IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang 5800-5861. Tetap disarankan untuk safe trading mengingat aksi jual investor asing masih berlanjut. Langkah pemerintah yang merevisi anggaran diperkirakan akan berdampak terhadap melebarnya defisit anggaran menjadi 2,9% di akhir tahun, sehingga investor asing khawatir hal itu akan berdampak negatif untuk Indonesia ke depan. Selalu kontrol resiko terutama apabila kondisi market menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian atau force majeure sesaat pada pasar.

Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa dimanfaatkan untuk akumulasi, mengingat kondisi perekonomian dalam negeri yang masih cukup bagus dan stabil. Jika terjadi koreksi sehat, lakukan buy on weakness secara bertahap pada saham-saham yang masih berkinerja bagus dan memiliki prospek kinerja cemerlang, terutama jelang rilis kinerja kuartal kedua 2017 yang sebentar lagi akan banyak keluar laporan keuangannya mendekati akhir bulan ini.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *