IHSG Berpeluang Kembali Mencetak Rekor, Namun Perlu Tetap Waspada

Bursa Wall Street ditutup melemah pada akhir pekan akibat kekacauan yang terjadi di Gedung Putih. Salah satu penasihat utama Presiden Donald Trump, Steve Bannon mengundurkan diri setelah bersitegang dengan sejumlah penasihat utama Trump lainnya, seperti Chief Economic Advisor Gary Cohn dan National Security Advisor H.R. McMaster. Dow Jones ditutup turun 76,22 poin (-0,35%) ke level 21.674,51, S&P 500 kehilangan 4,46 poin (-0,18%)  menjadi 2.425,55 dan Nasdaq melemah tipis 5,39 poin (-0,09%) menjadi 6.216,53. Sepanjang pekan lalu, bursa saham AS tertekan dengan Dow Jones turun -0,84% S&P 500 melemah -0,65% dan Nasdaq berkurang -0,64%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berkonsolidasi dengan ditutup menguat tipis 1,89 poin (+0,03%) ke level 5.893,84 pada akhir pekan. Investor asing masih melakukan aksi jual dengan mencatatkan net sell sebesar Rp. 270 milyar dipasar reguler. Dalam sepekan, IHSG berhasil naik +2,21% dengan total net sell investor asing sebesar Rp. 387 milyar dipasar reguler.

Diluar dugaan, meski masih diwarnai aksi jual dari bursa saham global oleh isu geopolitik dan aksi jual investor asing, IHSG mampu ditutup menguat sepanjang pekan lalu. Meredanya ketegangan antara AS dan Korut dan berkurangnya harapan kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun menjadi sentimen positif untuk IHSG. Pelaku pasar juga merespon positif pidato Presiden Jokowi didepan DPR dalam perayaan HUT kemerdekaan RI mengenai RAPBN 2018, dimana target penerimaan pajak dan belanja dianggap lebih konservatif. Selain itu, defisit anggaran yang lebih rendah dan  asumsi makro ekonomi antara lain pertumbuhan ekonomi 5,4% dan inflasi 3,5% diapresiasi cukup positif.

Untuk pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada pertemuan BI hari selasa tanggal 22 Agustus 2017. Ada kemungkinan BI akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps guna mendorong pekonomian nasional, setelah melihat rilis data makro ekonomi seperti rendahnya inflasi, pertumbuhan ekonomi yang stagnan, dan pasar obligasi yang kuat serta rupiah yang stabil. Disisi lain, isu geopolitik masih berpotensi menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Tekanan bursa global akibat ketegangan politik di AS dan serangan teroris di Barcelona Spanyol pada akhir pekan, serta kekhawatiran pasar atas ketegangan Korut dan AS yang belum sepenuhnya hilang, diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan IHSG kedepan.

Tidak banyak agenda dan data ekonomi serta kejadian penting dari luar negeri yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar. Berikut agenda dan data ekonomi yang perlu diperhatikan pada pekan ini:

  • Hari Rabu 23 Agustus 2017: Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi, Rilis data manufaktur zona Euro, Rilis data persediaan minyak AS
  • Hari Kamis 24 Agustus 2017: Rilis data GDP Inggris, Rilis data klaim pengangguran AS
  • Hari Jum’at 25 Agustus 2017: Rilis data inflasi Jepang, Rilis data durable goods AS, Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi

Secara teknikal, IHSG kembali bergerak naik dan bahkan sempat mencapai level tertinggi sepanjang sejarah di 5.912 pada akhir pekan kemaren, sebelum akhirnya ditutup dilevel 5893. Kenaikan IHSG ini diluar perkiraan, karena terjadi di tengah bursa saham dunia yang cenderung melemah. Walaupun telah bergerak naik, tapi jika dilihat IHSG masih cenderung berkonsolidasi dikisaran 5750-5910. Hanya penembusan keatas 5910 yang akan mengkonfirmasi uptrend IHSG bakal berlanjut.

Technically, kondisi IHSG saat ini terlihat membaik jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Indikator teknikal MACD telah golden cros lagi dan kembali bergerak naik, tidak jadi turun kebawah centreline. Dari kondisi ini menunjukan bahwa IHSG masih bergerak positif dan mulai memasuki pola uptrend jangka pendeknya lagi. IHSG diperkirakan akan bergerak dikisaran 5830-5950 pada pekan ini.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Walaupun secara teknikal IHSG berpeluang melanjutkan penguatannya, namun ketidakstabilan geopolitik dan kecenderungan bursa saham dunia yang mulai bergerak melemah, dapat menjadi penghalang bagi IHSG untuk mencetak rekor lagi. Apabila nantinya IHSG gagal melanjutkan penguatannya keatas 5910 dan malah bergerak turun kebawah 5750 mengikuti pelemahan bursa global, maka IHSG berpotensi membentuk pola double tops. Untuk itu disarankan tetap hati-hati dan lakukan safe trading serta selalu kontrol resiko, terutama jika kondisi market global menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian atau force majeure sesaat pada pasar.

Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, mengingat kondisi makro ekonomi dalam negeri yang masih cukup bagus dan stabil. Jika terjadi koreksi, bisa melakukan buy on weakness secara bertahap pada saham-saham yang masih berkinerja bagus, terutama emiten yang diperkirakan masih memiliki prospek kinerja cemerlang kedepan.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Join layanan messaging satu arah di Channel Telegram Messenger kami untuk mendapatkan update rekomendasi langsung melalui smartphone Anda. Silahkan download Telegram Messenger di Playstore atau Appstore anda. Temukan kami dengan search: @steptrader

atau…

klik link berikut: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *