IHSG Mencetak Rekor Tertinggi Baru, What Next?

Bursa  Wall Street ditutup bervariasi pada akhir pekan. Pidato Gubernur The Fed Janet Yellen  dan Presiden ECB Mario Draghi dalam pertemuan bank sentral dunia di Jackson Hole, menjadi sentimen penahan pelemahan gerak bursa AS. Janet Yellen tidak memberikan sinyal perubahan suku bunga AS yang agresif. Sikap Yellen ini menyeret sedikit imbal hasil US Treasury. Sementara dalam pidatonya Mario Draghi tidak mengumumkan rencana pengurangan stimulusnya, hanya memberikan sedikit panduan untuk merapikan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kepemilikan obligasi. Pernyataan Yellen dan Draghi ini menjadi salah satu pendorong kenaikan tipis bursa Wall Street. Dow Jones ditutup naik 30,27 poin (+0,14%) ke level 21.813,67, S&P 500 bertambah 4,08 poin (+0,17%) menjadi 2.443,05, sedangkan Nasdaq melemah tipis 5,68 poin (-0,09%) ke 6.265,64. Selama sepekan, Dow Jones berhasil menguat sebesar +0,64%, S&P 500 juga meningkat +0,72% dan Nasdaq bertambah +0,79%.

Dari dalam negeri, IHSG berhasil mencetak rekor dengan naik 21,246 poin (+0,36%) ke level 5.915,363 pada akhir pekan. Namun begitu, investor asing masih mencatatkan net sell di pasar reguler sebesar Rp. 170 miliar. Dalam sepekan IHSG berhasil menguat +0,37%, dengan total net buy investor asing tercatat sebesar Rp. 177 milyar dipasar reguler.

Sesuai perkiraan pekan sebelumnya, IHSG berhasil mencetak rekor harga tertinggi pada pekan lalu, terdorong oleh pelonggaran moneter yang dilakukan oleh BI. Pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 bps oleh BI pada pertengahan pekan, memberi dampak positif bagi IHSG. Penurunan suku bunga ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lesu dan menstimulasi ekonomi Indonesia. Disamping itu, BI juga berencana akan mengubah uang muka otomotif dan perumahan serta mengkaji peraturan likuiditas bank. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali berinvestasi di pasar saham.

Walaupun mencetak rekor, namun kenaikan IHSG terlihat masih cukup berat. Adapun sejumlah sentimen yang membayangi penguatan IHSG terutama berasal dari eksternal, antara lain masih adanya ancaman ketegangan geopolitik dan juga kekisruhan politik di AS serta potensi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada akhir tahun ini.

Secara teknikal, IHSG telah keluar dari pola konsolidasinya di kisaran 5750-5910 dan mulai bergerak naik. Indikator teknikal MACD yang masih bergerak naik dengan histogram meningkat diatas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih bergerak positif dengan berada dalam pola uptrend jangka pendek. Jika mampu bertahan di kisaran support 5830-5855, maka IHSG berpeluang terus melanjutkan kenaikannya menuju target di resisten 5968, sebelum terus berlanjut menembus keatas 6000. Namun apabila IHSG gagal bertahan di support 5830-5855, maka IHSG akan kembali berkonsolidasi menguji area support di 5750.

Untuk pekan ini memasuki akhir bulan, seperti biasa tidak ada data penting dari dalam negeri. Sementara dari luar negeri, pekan ini cukup banyak agenda dan kejadian ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar. Berikut ini adalah data ekonomi yang perlu diperhatikan:

  • Hari Selasa 29 Agustus 2017 : Rilis data tingkat pengangguran Jepang, Rilis data keyakinan konsumen AS
  • Hari Rabu 30 Agustus 2017: Rilis data pekerjaan ADP, persediaan minyak dan GDP AS
  • Hari Kamis 31Agustus 2017: Rilis data manufaktur China, Rilis data tingkat pengangguran zona eropa, Rilis data klaim pengangguran AS
  • Hari Jum’at 1 September 2017: Rilis data Caixin Manufaktur China, Data manufaktur Inggris, Rilis data pekerjaan dan manufaktur AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG diperkirakan masih berpotensi menguat dan kembali mencetak rekor all time high baru pada pekan ini, atau setidaknya berkonsolidasi dalam jangka pendek. Walaupun demikian tetap disarankan untuk safe trading. Tetap hati-hati dan  selalu kontrol resiko, terutama jika kondisi market global menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian atau force majeure sesaat pada pasar.

Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, mengingat kondisi makro ekonomi dalam negeri yang masih cukup bagus dan stabil. Jika terjadi koreksi, bisa melakukan buy on weakness secara bertahap pada saham-saham yang masih berkinerja bagus, terutama emiten yang diperkirakan masih memiliki prospek kinerja cemerlang kedepan.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Join layanan messaging satu arah di Channel Telegram Messenger kami untuk mendapatkan update rekomendasi langsung melalui smartphone Anda. Silahkan download Telegram Messenger di Playstore atau Appstore anda. Temukan kami dengan search: @steptrader

atau…

klik link berikut: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *