Kembali Bergerak Sideways, IHSG Berada Dipersimpangan

Bursa Wall Stret ditutup mixed dan cenderung flat pada akhir pekan, usai keluarnya data ekonomi yang menunjukkan pasar tenaga kerja AS mengalami kontraksi pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa pada bulan September, AS kehilangan sekitar 33.000 lapangan pekerjaan akibat hantaman dua badai besar di negara ini, yaitu Badai Harvey dan Irma. Namun demikian, tingkat rata-rata pendapatan per jam naik 2,9%, dan tingkat pengangguran juga turun ke level terendah dalam 16 tahun terakhir di level 4,2%.

Dow Jones ditutup turun 1,72 poin (-0,01%) ke level 22.773,67. S&P 500 kehilangan 2,74 poin (-0,11%) berakhir di level 2.549,33. Sementara Nasdaq justru naik 4,82 poin (+0,07%) menjadi 6.590,18. Untuk sepanjang pekan lalu, Bursa AS masih memperpanjang rekor, terdorong oleh sentimen positif dari adanya tanda-tanda bahwa Kongres mendekati kesepakatan mengenai pemotongan anggaran dan pajak. Dalam sepekan, Dow Jones naik +1,65%, S&P 500 menguat +1,19% dan Nasdaq meningkat +1,45%.

Dari dalam negeri, mengakhiri perdagangan akhir pekan kemaren IHSG naik tipis 3,472 poin (+0,06%) ke level 5.905,378. Investor asing masih terus melakukan net sell dengan menjual saham senilai Rp 142 milyar di pasar reguler. Dalam sepekan, laju IHSG berhasil menguat tipis +0,08%. Namun investor asing masih terus melepas saham dengan membukukan net sell dipasar regular sekitar Rp. 1,345 triliun.

Sesuai perkiraan pada pekan sebelumnya, IHSG berhasil mencetak rekor all time high di level 5.967,119 pada pertengahan pekan lalu. Kenaikan tersebut didorong oleh sentimen penurunan BI rate dan masih stabilnya inflasi nasional, sebelum aksi profit taking menghentikan laju rekor IHSG untuk sementara waktu. Walaupun berhasil mencetak rekor, namun kenaikan IHSG masih terasa berat, sehingga indeks masih cenderung bergerak sideways. Salah satu penyebab laju IHSG terlihat berat adalah karena aksi jual investor asing yang masih terus menerus melepas portfolionya. Membaiknya ekonomi AS dan rencana reformasi pajak di AS serta kemungkinan kenaikan fed rate di akhir tahun, diduga sebagai penyebab investor asing terus melakukan net sell.

Walaupun sempat terkena aksi profit taking, tetapi IHSG masih berhasil bertahan dan ditutup di atas level 5.900. Secara teknikal IHSG masih berkonsolidasi dengan bergerak sideways, meskipun dalam jangka pendek masih terlihat bergerak uptrend. Indikator teknikal bergerak mixed, dimana Stochastic bergerak menurun, sementara MACD masih cenderung bergerak sideways diatas centreline. Dari kondisi ini menunjukan bahwa IHSG masih berada dipersimpangan dan berpeluang melanjutkan konsolidasinya.

Pekan ini IHSG diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang support di 5839, sementara resistennya berada di 5967. Penembusan keatas resisten akan membawa IHSG menuju level 6000. Sementara apabila IHSG gagal bertahan di support 5839, maka indeks akan kembali melemah ke kisaran 5770 lagi.

Untuk pekan ini tidak banyak data dan kejadian ekonomi penting yang ditunggu oleh pelaku pasar. Data dari dalam negeri yang akan dirilis adalah data penjualan ritel dan penjualan kendaraan bermotor. Sementara dari luar negeri, agenda dan kejadian ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor adalah sebagai berikut:

  • Hari Selasa 10 Oktober 2017 : Rilis data produksi manufaktur dan neraca perdagangan Inggris
  • Hari Kamis 12 Oktober 2017: Meeting The Fed, Rilis data produsen AS, klaim pengangguran dan persediaan minyak AS, Pernyataan Presiden ECB Mario Draghi
  • Hari Jum’at 13 Oktober 2017: Rilis data neraca perdagangan China, Rilis data inflasi dan penjualan ritel AS

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Rilis data cadangan devisa Indonesia yang keluar pada akhir perdagangan pekan kemaren dan mencapai rekor di angka US$ 129,14 miliar, diharapkan dapat memberikan sentimen positif di awal perdagangan besok. Namun pelemahan dan fluktuasi nilai tukar rupiah bisa menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG sepanjang pekan. Selain itu pelaku pasar juga tengah menunggu rilis kinerja laporan keuangan emiten kwartal ketiga.

Walaupun IHSG terlihat masih bergerak dalam pola uptrend, namun masih rawan koreksi jangka pendek. Apalagi investor asing masih belum berhenti melakukan aksi jual. Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu kontrol resiko, terutama jika kondisi market menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian atau force majeure sesaat pada pasar. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, terutama jelang rilis laporan kinerja keuangan kwartal ketiga. Jika terjadi koreksi, bisa melakukan buy on weakness secara bertahap pada saham-saham yang masih berkinerja bagus, terutama emiten yang diperkirakan masih memiliki prospek kinerja cemerlang kedepan.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Join layanan messaging satu arah di Channel Telegram Messenger kami untuk mendapatkan update rekomendasi langsung melalui smartphone Anda. Silahkan download Telegram Messenger di Playstore atau Appstore anda. Temukan kami dengan search: @steptrader

atau…

klik link berikut: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *