Bergerak Sideways, IHSG Masih Bertahan Di Level 5900 Dan Mencoba Mencetak Rekor Lagi

Bursa Wall Street mencetak rekor tertinggi, setelah Senat AS mengeluarkan resolusi anggaran, yang mengangkat harapan jika rencana pemotongan pajak Presiden Donald Trump dapat berlanjut. Dow Jones naik 165,59 poin (+0,71%) ke posisi 23.328,63, S&P 500 menguat 13,11 poin (+0,51%) menjadi 2.575,21 dan Nasdaq bertambah 23,99 poin (+0,36%) ke angka 6.629.05. Ketiga indeks tersebut mencatat penutupan tertinggi sepanjang masa, setelah pembahasan refomasi pajak yang mendekati hasil positif. Senat AS meloloskan hitungan awal bujet US$ 4 triliun pada Kamis malam. Secara keseluruhan pada pekan ini Bursa AS memperpanjang kenaikannya, dengan Dow Jones menguat +2%, S&P 500 naik +0,86% dan Nasdaq bertambah +0,35%.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup naik 19,019 poin (+0,32%) ke level 5.929,549 pada akhir pekan, dengan diikuti oleh net buy asing senilai Rp 130 milyar di pasar reguler. Dalam sepekan,  IHSG bergerak cenderung flat dengan hanya menguat tipis +0,09%. Sepanjang pekan kemaren, investor asing kembali membukukan net sell sekitar Rp 1,8 triliun dipasar regular.

Sesuai ulasan pada pekan sebelumnya, IHSG masih melanjutkan konsolidasinya dengan bergerak sideways dalam jangka pendek. Pergerakan IHSG fluktuatif selama sepekan terkahir, dengan berkutat di area level tertingginya dan bertahan dikisaran 5900. Adapun sentimen yang pengaruhi pergerakan IHSG pada pekan lalu antara lain, keputusan BI untuk mempertahankan BI 7-day RR Rate sebesar 4,25%. Sementara sentimen negatif masih datang dari terus keluarnya dana asing dari bursa kita, akibat dari rencana kenaikan Fed Rate pada Desember 2017 dan dampak normalisasi neraca bank sentral AS yang mulai dilaksanakan pada akhir Oktober 2017, serta reformasi fiskal berupa pemotongan pajak di AS. Namun sentimen negatif tersebut masih mampu diimbangi oleh sentimen positif yang datang dari rilis kinerja emiten, seperti BBNI, WSKT dan PTBA yang cukup baik.

Secara teknikal, kondisi IHSG masih sama dengan pekan sebelumnya.  IHSG masih bergerak dalam pola sideways jangka pendek. Saat ini IHSG masih berkonsolidasi, meskipun dalam jangka menengah masih terlihat uptrend. Indikator teknikal MACD masih berimpit dan terlihat bergerak relatif datar diatas centreline. Dari kondisi ini menunjukan bahwa IHSG masih berada dalam pola sideways jangka pendek, dengan bergerak di support 5860, dan resisten di 5967. Apabila nantinya  IHSG mampu menerombol keatas resisten 5967, maka indeks akan kembali mencetak rekor dan berpotensi besar menuju level psikologis 6000. Namun jika indeks bergerak turun menembus kebawah support 5860, maka IHSG berpeluang melemah kekisaran 5800-5750.

Walaupun masih cenderung berkonsolidasi, namun pekan ini IHSG berpeluang untuk menguat dan menembus level tertingginya, didorong oleh rilis kinerja emiten. Beberapa emiten besar dijadwalkan untuk merilis kinerja pada pekan ini antara lain BMRI, BBRI, UNVR, dan BBCA yang diperkirakan cukup baik. Tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang akan rilis pada pekan ini. Sementara dari luar negeri, agenda dan kejadian ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar antara lain adalah:

  • Hari Rabu 25 Oktober 2017 : RIlis data inflasi Australia, Rilis data GDP Inggris, Rilis data durable goods orders, penjualan rumah baru dan persediaan minyak AS
  • Hari Kamis 26 Oktober 2017: Keputusan suku bunga dan pernyataan ECB, Rilis data klaim pengangguran AS
  • Hari Jum’at 27 Oktober 2017: Rilis data inflasi Jepang, Rilis data GDP AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Untuk awal pekan besok, IHSG diperkirakan akan bergerak bervariasi dan masih cenderung dalam pola sideways dikisaran 5903-5955.  Jika aksi beli dapat muncul lagi, maka IHSG masih berkesempatan untuk mencetak rekor dan potensi menggapai level 6000 pada bulan ini makin terbuka. Walaupun demikian tetap disarankan untuk safe trading, khususnya apabila IHSG gagal bertahan di level 5900.  Selalu hati-hati dan kontrol resiko, terutama jika kondisi market menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian atau force majeure sesaat pada pasar, mengingat aksi jual investor asing yang masih terus berlanjut.

Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, terutama untuk antisipasi rilis laporan kinerja keuangan kwartal ketiga. Jika terjadi koreksi, bisa melakukan buy on weakness pada saham-saham yang masih berkinerja bagus, khususnya emiten yang diperkirakan masih memiliki prospek kinerja cemerlang kedepan.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Join layanan messaging satu arah di Channel Telegram Messenger kami untuk mendapatkan update rekomendasi langsung melalui smartphone Anda. Silahkan download Telegram Messenger di Playstore atau Appstore anda. Temukan kami dengan search: @steptrader

atau…

klik link berikut: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *