IHSG Berkonsolidasi Dan Mencoba Bertahan Di Level Psikologis 6000

Bursa Wall Street ditutup bervariasi pada akhir pekan, di tengah kekhawatiran investor akan tertudanya janji pemangkasan pajak korporasi. Sejumlah saham perusahaan teknologi besar melemah, seperti Facebook, Netflix, Intel dan Alphabet, merespons kekhawatiran bahwa pemotongan pajak perusahaan kemungkinan akan tertunda. Dow Jones turun 39,73 poin (-0,17%) ke level 23.422,21, S&P 500 melemah 2,32 poin (-0,09%) ke posisi 2.582,3. Sementara Nasdaq bergerak flat, hanya naik tipis 0,89 poin (+0,01%) menjadi 6.750,94. Mayoritas bursa saham AS terkoreksi setelah mencetak reli mingguan terpanjang dalam empat tahun. Indeks saham S&P 500 dan Dow Jones pun berakhir melemah untuk pertama kali dalam sembilan minggu. Selama sepekan, Dow Jones berakhir melemah -0,5%, S&P 500 tergelincir -0,21% dan Nasdaq turun -0,2%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berkahir melemah 20,63 poin (-0,34%) ke level 6.021,82 pada akhir pekan. Investor asing kembali melepas saham dengan membukukan net sell senilai Rp 576 milyar di pasar reguler. Dalam sepekan, IHSG berakhir turun -0,29%, dengan diikuti oleh net sell investor asing yang mencapai Rp. 489 miliar di pasar regular.

IHSG terkoreksi tiga hari beruntun setelah mencetak rekor tertinggi pada pekan lalu. Di awal pekan IHSG sudah menembus rekor sebanyak dua kali, pada Senin dan Selasa lalu, sehingga wajar terjadi profit taking. Minimnya sentimen positif, di tengah rilis data ekonomi yang kurang bagus, seperti data indeks keyakinan konsumen dan tingkat penjualan eceran yang berada di bawah ekspektasi, membuat pelaku pasar merealisasikan profit yang sudah di peroleh. Selain itu sebagian besar emiten juga sudah mempublikasikan kinerja keuangan kuartal III 2017, sehingga dibutuhkan sentimen positif baru untuk mendorong kenaikan IHSG lebih tinggi.

Secara teknikal, IHSG mulai terlihat berkonsolidasi dalam jangka pendek. Kondisi IHSG terlihat mulai relatif bergerak mendatar dikisaran 5969 hingga 6082. Indikator teknikal Stochastic mulai bergerak turun keluar dari area overbought, sedangkan MACD berpotensi terjadi death cross. Dari kondisi teknikal ini, mengindikasikan bahwa IHSG berkondolidasi dengan potensi terjadi koreksi sehat lanjutan dalam jangka pendek. Untuk pekan ini, IHSG berpotensi menguji level support psikologis 5969. Hati-hati bila IHSG breakdown level support tersebut, karena berpotensi melanjutkan pelemahannya menuju support selanjutnya dikisaran 5914.

Pekan ini pelaku pasar tengah menanti rilis data ekspor-impor dan neraca perdagangan pada hari rabu. Sehari setelahnya yaitu pada hari kamis, Bank Indonesia akan menetapkan suku bunga 7-days Repo Rate yang diperkirakan tidak akan berubah. Sementara dari luar negeri, cukup banyak agenda dan kejadian ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Hari Selasa 14 November 2017 : Pernyataan Gubernur BOJ Kuroda, Rilis data industri dan penjualan ritel China, Rilis data inflasi Inggris, Rilis data GDP Zona Eropa, Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi, Pernyataan Gubernur BOE Carney, Pernyataan Ketua The Fed Janet Yellen, Rilis data harga produsen AS
  • Hari Rabu 15 November 2017 : Rilis data GDP Jepang, Rilis data pendapatan dan tingkat pengangguran Inggris, Rilis data inflasi, penjualan ritel dan persediaan minyak AS
  • Hari Kamis 16 November 2017: Rilis data pekerjaan Australia, Rilis data penjualan ritel Inggris, Rilis data inflasi zona eropa, Rilis data klaim pengangguran AS, Pernyataan Gubernur BOE Carney
  • Hari Jum’at 17 November 2017: Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi, Rilis data ijin bangunan AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Di awal pekan besok, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways cenderung turun, berpotensi menguji level psikologis 6000. Apabila gagal bertahan di level 6000, IHSG berpeluang menguji area support 5989. Disarankan untuk tetap safe trading dan selalu kontrol resiko. Terutama jika kondisi market tiba-tiba menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian atau force majeure sesaat pada pasar. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, terutama bagi perusahaan yang telah merilis laporan kinerja keuangan kwartal ketiga cukup baik. Jika terjadi koreksi, bisa melakukan buy on weakness pada saham-saham yang masih berkinerja bagus.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Join layanan messaging satu arah di Channel Telegram Messenger kami untuk mendapatkan update rekomendasi langsung melalui smartphone Anda. Silahkan download Telegram Messenger di Playstore atau Appstore anda. Temukan kami dengan search: @steptrader

atau…

klik link berikut: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *