Bursa Saham Global Jatuh Dalam, Bagaimana Pergerakan IHSG Selanjutnya?

Bursa Wall Street anjlok dengan jatuh dalam pada transaksi penutupan perdagangan akhir pekan kemaren. Pemicunya adalah laporan dari Depatemen Tenaga Kerja AS yang menyatakan bahwa angka pekerjaan pada Januari tumbuh lebih cepat dari perkiraan para analis, dengan kenaikan upah terbesar dalam lebih dari 8 tahun. Kenaikan upah yang cukup besar tersebut bakal memicu inflasi dan bisa mendorong The Fed untuk mengambil pendekatan lebih agresif dengan menaikkan suku bunga acuan tahun ini lebih besar dari perkiraan. Kondisi ini juga menyebabkan yield obligasi pemerintah AS dengan jangka waktu 10 tahun melonjak menjadi 2,845%, yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2014. Indeks Dow Jones mengalami penurunan terburuk sejak Juni 2016 dengan merosot 665,75 poin (-2,54%) menjadi 25.520,96, S&P 500 anjlok 59,85 poin (-2,12%) ke level 2.762,13 dan Nasdaq turun 144,92 poin (-1,96%) menjadi 7.240,95. Dalam sepekan, Bursa saham AS melemah cukup dalam dengan Dow Jones merosot -4,12%, S&P 500 kehilangan -3,85% dan Nasdaq tergerus -3,53%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat 30,36 poin (+0,46%) menjadi 6.628,82. Investor asing mencatatkan net foreign sell di pasar reguler sebesar Rp 671 miliar. Walaupun menguat di akhir pekan, namun selama sepekan terakhir IHSG tercatat masih melemah -0,48%, dengan investor asing membukukan penjualan bersih senilai Rp. 3,65 triliun di pasar reguler.

Pergerakan IHSG pekan lalu bergerak cukup volatile dan lebih diperngaruhi oleh sentimen dari external, terutama dari AS. The Fed memutuskan untuk pertahankan suku bunga  tetap di level 1,5%, usai lakukan pertemuan dua hari pada pertengahan pekan lalu. Rapat The Fed tersebut merupakan rapat terakhir yang dipimpin oleh Janet Yellen, sebelum digantikan oleh Jerome Powell. Dalam rapat tersebut, The Fed mengatakan bahwa inflasi masih di bawah target, dan tingkat pengangguran rendah. Meski demikian, pejabat The Fed melihat bahwa target inflasi 2% akan tercapai pada 2018, sehingga mendorong spekulasi kenaikan suku bunga secara bertahap. Sementara dari dalam negeri,  inflasi Indonesia tercatat 0,62% pada Januari 2018 dan 3,25% secara year on year.

IHSG pada awal pekan lalu sempat mencapai level rekor tertinggi di 6.686, namun kembali terkoreksi. Secara teknikal IHSG terlihat masih bergerak uptrend dan mulai masuk dalam fase konsolidasi jangka pendek. Sentimen negatif dari pasar saham dunia akan membayang-bayangi laju pergerakan IHSG dan berpotensi menyeret turun pada pekan ini. Diperkirakan dalam kondisi normal, IHSG akan bergerak dikisaran area support 6,522, sedangkan resistance di level 6.686. Apabila tekanan jual akibat faktor psikologis dari turunnya bursa global membesar dan support 6.522 gagal bertahan, maka IHSG berpotensi menuju support selanjutnya di level 6.445.

Minggu ini, IHSG akan dipengaruhi oleh sentimen dari rilis data GDP Indonesia di 2017 pada senin besok, yang diproyeksikan akan mencatatkan kenaikan sebesar 5,1%.  Sementara sentimen dari luar negeri yang berupa agenda dan kejadian ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar adalah:

  • Hari Senin 5 Februari 2018 : Rilis data sektor jasa Inggris, Rilis data sektor jasa AS, Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi
  • Selasa 6 Februari 2018 : Rilis data neraca perdagangan, penjualan ritel dan Suku bunga Australia
  • Rabu 7 Februari 2018 : Rilis data cadangan minyak AS
  • Kamis 8 Februari 2018: Rilis data neraca perdagangan China, Pernyataan Gubernur RBA Lowe, Rilis data inflasi, Kebijakan moneter dan suku bunga Inggris
  • Jum’at 9 Februari 2018 : Pernyataan kebijakan moneter RBA, Rilis data manufaktur Inggris

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG masih berkonsolidasi cenderung mengalami koreksi akibat sentimen negatif dari bursa saham dunia. Selain itu, kekhawatiran pasar akan kenaikan fed rate yang lebih aggresive dan peningkatan imbal obligasi US, telah menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD dan IHSG mencatatkan capital outflow yang cukup besar pada pekan lalu.  Untuk itu disarankan tetap berhati-hati dengan melakukan safe trading, karena IHSG selama ini terus menguat, tanpa ada koreksi berarti. Selalu kontrol resiko, terutama jika kondisi market tiba-tiba menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian atau force majeure sesaat pada pasar. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, mengingat kondisi makro ekonomi dalam negeri  dan global masih cukup positif.  Jika terjadi koreksi, bisa dimanfaatkan dengan melakukan buy on weakness pada saham-saham yang masih berkinerja bagus dan memiliki prospek yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Join our FREE Channel telegram at: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *