Sepekan Jelang FOMC, IHSG Tertekan Dan Rupiah Melemah, What Next?

Bursa Wall Street ditutup menguat pada akhir pekan, didorong oleh laporan data tenaga kerja bulan Februari. Jika sebelumnya pada bulan lalu, pelaku pasar dibuat khawatir oleh pertumbuhan upah, yang dapat memicu kekhawatiran meningkatnya inflasi sehingga menyebabkan lonjakan volatilitas dan koreksi pada pasar saham. Akhir pekan kemaren, ketakutan inflasi tersebut mereda, usai data dari departemen tenaga kerja AS menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan per jam hanya naik 0,1%, dibandingkan kenaikan 0,3% pada bulan Januari. Sentimen positif lainnya datang dari berkurangnya kekhawatiran perang dagang, dan tanda-tanda ketegangan nuklir dengan Korea Utara bakal mereda usai Presiden Donald Trump mengatakan siap bertemu dengan pemimpin Korea Utara.  Dow Jones ditutup naik 440,53 poin (+1,77%) menjadi 25.335,74, S&P 500 melonjak 47,6 poin (+1,74%) ke posisi 2.786,57. Sementara Nasdaq menguat 132,86 poin (+1,79%) ke level tertinggi sepanjang masa di level 7.560,81. Sepanjang pekan lalu bursa saham AS mencatat penguatan dengan Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik +3,25%, +3,54% dan +4,17%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG turun 9,699 poin (-0,15%) ke level 6.433,322 pada akhir pekan. Investor asing masih keluar dari market dengan mencatatkan net sell di pasar reguler sebesar Rp 788 miliar. Selama sepekan, IHSG anjlok dan berakhir turun -2,26%, dengan diikuti oleh net sell asing sebesar Rp. 3,6 triliun di pasar reguler.

Sepanjang pekan lalu IHSG cenderung tertekan. Ada sejumlah faktor baik dari eksternal maupun internal yang mempengaruhi laju pergerakan IHSG. Dari eksternal, pasar saham sempat tertekan merespon negatif mundurnya penasihat ekonomi Trump, yaitu Gary Cohn yang tidak mendukung pengenaan tarif impor baja 25% dan aluminium 10%. Pasar global lalu berbalik arah pasca melunaknya kebijakan Trump yang memberikan pengecualian pada Kanada dan Meksiko, serta ada kemungkinan bertambah untuk negara lainnya. Dari sisi geopolitik, rencana pertemuan antara presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un paling lambat bulan Mei, diharapkan dapat meredakan ketegangan yang selama ini terjadi antar kedua negara.

Sementara sentimen dari internal lebih berpengaruh pada IHSG pada pekan lalu. Presiden Jokowi menyetujui rencana Menteri ESDM Ignasius Jonan yang mengumumkan bahwa harga BBM dan listrik tidak akan mengalami kenaikan hingga 2019. Lembaga pemeringkat internasional Moody’s menanggapi rencana itu dapat mempengaruhi kenaikan peringkat Indonesia karena dianggap pembalikan dari reformasi. Pernyataan Moody’s tersebut menjadi sentimen negatif buat IHSG sehingga jatuh -2% lebih pada rabu lalu. Selain itu, kebijakan pemerintah yang menetapkan harga batu bara untuk kewajiban pasar domestik (DMO) sebesar US$ 70 per metrik ton, menjadi sentimen negatif jatuhnya saham sektor mining pada pekan kemaren. Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus keatas level 13.800,- turut menjadi faktor penekan bagi IHSG.

Koreksi pada rabu lalu sebesar -2% lebih, telah mengakhiri pola konsolidasi IHSG dan mengkonfirmasi pembentukan double top pattern. Pembentukan pattern tersebut, membuat IHSG secara teknikal masuk dalam fase downtrend dalam jangka pendek. Pattern tersebut akan terkonfirmasi apabila IHSG gagal bertahan di atas level 6.426. Target penurunan sesuai pola double top tersebut menuju level 6.160, dengan minor target di 6.262.

Namun apabila IHSG dapat bertahan diatas level 6.426 dan mampu menguat lagi dengan menembus ke atas 6.555, maka pola double top bisa dikatakan gagal terbentuk dan IHSG akan kembali melanjutkan pola sideways-nya. Indikator teknikal terlihat bergerak mixed dimana Stochastic telah golden cross di area over sold, sedangkan MACD bergerak menurun hendak cross down centreline. Dari kondisi teknikal ini mengindikasikan bahwa IHSG bergerak bervariasi cenderung masuk fase down trend dalam jangka pendek.

Minggu ini pelaku pasar masih akan mencermati sisa rilis laporan kinerja keuangan full year emiten tahun 2017. Sedangkan data ekonomi penting domestik yang ditunggu adalah rilis data eksport-impor dan neraca perdagangan bulan februari yang diperkirakan masih defisit pada hari kamis. Sementara dari luar negeri, agenda dan kejadian ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar, diantaranya adalah:

  • Selasa 13 Maret 2018 : Rilis indeks keyakinan bisnis dan konsumen Australia, Anggaran musim semi 2018 Inggris, Rilis data inflasi CPI AS
  • Rabu 14 Maret 2018 : Pertemuan kebijakan moneter BOJ, Rilis data industri China, Pernyataan Presiden ECB Mario Draghi, Rilis data penjualan ritel, inflasi PPI dan cadangan minyak AS
  • Kamis 15 Maret 2018: Agenda buletin RBA
  • Jum’at 16 Maret 2018 : Rilis data ijin bangunan AS

Walaupun kondisi bursa saham AS mulai membaik, seperti terlihat dari turunnya VIX index sebesar -11,5% ke angka 14,64, yang mengindikasikan bahwa volatilitas index semakin membaik menuju stabil. Namun volatilitas market dapat kembali meningkat sepekan jelang FOMC meeeting tanggal 20-21 Maret ini, terutama jika data inflasi dan penjualan ritel AS kembali meningkat. Market masih bisa volatile hingga FOMC berakhir atau ada pernyataan yang lebih jelas mengenai berapa kali kenaikan Fed Rate pada tahun ini. Technically, Dow Jones saat ini sedang bekonsolidasi cenderung membentuk pola symmetrical triangle. Dari pola tersebut, Dow Jones akan naik dan melanjutkan bullish trend jika dapat menembus keatas level 25.800. Namun jika turun dan menembus ke bawah level 24.000, maka Dow Jones akan melanjutkan penurunannya.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG di awal pekan ini kemungkinan berpotensi rebound. Selain karena sudah oversold dalam jangka pendek, IHSG berpeluang rebound mengikuti penguatan bursa Wall Street. Namun walaupun rebound, kemungkinan masih akan terbatas kenaikannya karena masih minimnya sentimen positif. Untuk itu disarankan tetap safe trading dan hati-hati serta selalu kontrol resiko. Terutama jika kondisi market kembali menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian (force majeure) sesaat di pasar. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, mengingat kondisi makro ekonomi dalam negeri masih cukup positif.  Jika terjadi koreksi, bisa dimanfaatkan dengan melakukan buy on weakness pada saham-saham yang sudah melaporkan kinerja keuangan full year 2017 dan masih berkinerja bagus, ataupun emiten yang memiliki prospek yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Join our FREE Channel telegram at: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *