IHSG Menanti Arah Kebijakan Suku Bunga Fed

Bursa saham AS ditutup menguat pada akhir pekan, didorong oleh rilis data sektor industrial yang kuat. Angka produksi industri AS bulan Februari 2018 tumbuh 1,1%, dan menjadi kenaikan terbesar dalam empat bulan terakhir.  Dow Jones ditutup naik 72,85 poin (+0,29%) ke level 24.946,51, S&P 500 bertambah 4,68 poin (+0,17%) menjadi 2.752,01 dan Nasdaq menguat tipis 0,25 poin menjadi 7.481,99. Meskipun ketiga indeks utama tersebut naik, tapi masih membukukan kerugian selama sepekan. Sepanjang pekan lalu Dow Jones tertekan -1,54%, S&P kehilangan -1,24%, dan Nasdaq turun -1,04%, akibat diterpa kekhawatiran perang dagang antara AS dan China, serta kisruh politik usai Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson diberhentikan oleh Presiden AS Donald Trump.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 16,952 poin (-0,27%) ke level 6.304,952 pada akhir pekan. Investor asing masih melanjutkan aksi jual mencapai Rp 1,14 triliun di pasar reguler. Selama sepekan IHSG melorot -2%, dengan investor asing mencatatkan net outflow di pasar reguler sebesar Rp 2,84 triliun dalam sepekan.

IHSG telah turun 4 hari berturut-turut dengan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dari dalam negeri, sentimen datang dari defisit neraca perdagangan bulan februari sekitar US$ 120 juta. Terhitung sejak 3 bulan terakhir, neraca perdagangan Indonesia terus-menerus mencatatkan defisit. Derasnya impor menyebabkan terjadinya defisit transaksi berjalan, dan menandakan lebih banyak dolar yang mengalir ke luar negeri ketimbang ke dalam negeri. Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah masih cenderung tertekan terhadap dolar AS, sehingga menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Sementara sentimen dari ekternal datang dari ketakutan atas perang dagang dalam skala global dan memanasnya kondisi politik di AS, pasca New York Times mengabarkan bahwa Kepala Badan Investigasi AS Robert Mueller meminta dokumen-dokumen yang terkait dengan Presiden Trump, termasuk dokumen yang mengaitkan Rusia dengan kemenangan Trump dalam pemilihan presiden lalu.

Pekan ini, pelaku pasar menanti agenda penting yaitu meeting dan keputusan suku bunga Fed pada pertengahan pekan 20-21 Maret waktu setempat.  Diperkirakan The Fed akan menaikan suku bunganya sebesar 25 bps pada pertemuan tersebut. Namun yang ditunggu oleh pelaku pasar adalah pernyataan mengenai berapa kali fed rate akan naik tahun ini. Jika ternyata kenaikan suku bunga acuan pada tahun ini tetap 3 kali seperti yang direncanakan pada tahun 2017 lalu, maka bursa saham memiliki peluang menguat. Tapi sebaliknya jika kenaikan fed rate tahun ini lebih dari 3 kali, maka pelemahan market diprediksikan akan kembali berlanjut.

Secara teknikal IHSG masih berada di fase downtrend dalam jangka pendek, setelah mengkonfirmasi pembentukan double top reversal pattern. Koreksi IHSG hari ke-4 berturut-turut untuk sementara tertahan di support up trend jangka panjang yang terbentuk sejak akhir 2016 lalu. Ada potensi IHSG untuk mengalami teknikal rebound sementara, setelah menyentuh support tersebut. Diperkirakan IHSG akan bergerak dikisaran support 6.236 dan resistance di 6.426 pada pekan ini. Indikator teknikal MACD yang bergerak turun di bawah centreline mengindikasikan bahwa IHSG masih berada di fase down trend dalam jangka pendek.

Minggu ini pelaku pasar tengah menanti data ekonomi domestik yang akan dirilis pada awal pekan besok, yaitu data penjualan mobil dan pertumbuhan kredit. Sementara selain menanti suku bunga Fed, pelaku pasar juga tengah menanti pertemuan BI untuk menentukan BI rate pada kamis ini. Diperkirakan suku bunga BI tidak akan berubah. Sedangkan dari luar negeri, ada banyak agenda dan kejadian ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Senin 19 Maret 2018 : Rilis data perdagangan Jepang, Meeting G20
  • Selasa 20 Maret 2018 : Kebijakan moneter Australia, Rilis data inflasi Inggris, Rilis index sentimen ekonomi dan kepercayaan konsumen zona euro, Meeting G20
  • Rabu 21 Maret 2018 : Rilis data pendapatan dan tingkat pengangguran Inggris, Rilis data persediaan minyak AS
  • Kamis 22 Maret 2018: Proyeksi ekonomi, kebijakan suku bunga dan konferensi pers The Fed, Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran Australia, Rilis data penjualan ritel dan kebijakan suku bunga Inggris
  • Jum’at 23 Maret 2018 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data durable goods dan penjualan rumah baru AS

Kepastian arah suku bunga Fed akan ditentukan pada Kamis subuh waktu Indonesia. Penentuan kebijakan arah suku bunga fed ini merupakan yang pertama kali di bawah komando Jerome Powell, dan pasar masih meraba-raba arah kebijakan fed di bawah pimpinan yang baru. Suku bunga Fed merupakan instrumen yang sangat krusial bagi pergerakan pasar saham dunia. Ketika suku bunga Fed dikerek naik, imbal hasil instrumen keuangan AS akan ikut naik sehingga terdapat potensi aliran modal keluar (capital flight) menuju AS, utamanya yang berasal dari negara-negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini menjelaskan mengapa aksi jual investor asing di pasar saham nampak kian tak bisa dibendung. Secara kumulatif sepanjang 2018, aksi jual bersih investor asing di pasar saham sudah mencapai Rp 17,8 triliun atau setara dengan 44% dari total jual bersih sepanjang 2017 lalu  yang sebesar Rp 39,9 triliun.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG di awal pekan besok, ada kemungkinan mengalami teknikal rebound setelah mengalami koreksi 4 hari beruntun dan menyentuh support up trend jangka panjangnya. IHSG diperkirakan akan bergerak dengan level support dikisaran 6.262 dan resistance di 6.346 di awal pekan besok. Setelah itu IHSG kemungkinan akan bergerak sideways atau relatif datar hingga FOMC dan konferensi pers dilakukan oleh The Fed selepas pertemuannya nanti. IHSG bakal bergerak ke atas atau ke bawah dengan lebih kencang jelang akhir pekan, setelah merespon pernyataan konferensi pers The Fed.  Waspadai jika tembus ke bawah level support 6.236, karena IHSG akan membentuk lower low dan melanjutkan trend penurunannya.

Untuk itu disaranakan tetap safe trading dan berhati-hati serta selalu kontrol resiko, terutama jika kondisi market kembali menjadi tidak kondusif dan muncul ketidakpastian (force majeure) sesaat di pasar. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, mengingat kondisi makro ekonomi dalam negeri masih stabil.  Jika terjadi koreksi, bisa dimanfaatkan untuk melakukan buy on weakness pada saham-saham yang sudah melaporkan kinerja keuangan full year 2017 dan masih berkinerja bagus, ataupun emiten yang memiliki prospek yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Join our FREE Channel telegram at: https://telegram.me/steptrader

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *