Kwartal Pertama 2018 IHSG Berakhir Melemah, Bagaimana Pergerakan Selanjutnya?

Bursa Wall Street di tutup menguat pada perdagangan hari kamis waktu setempat, yang merupakan hari terakhir  perdagangan pekan lalu sebelum libur Good Friday. Saham-saham teknologi yang tertekan dalam 2 hari perdagangan sebelumnya akhirnya berhasil rebound. Saham Intel, Facebook, Apple, Alphabet, dan Microsoft naik antara 1%-4%  dan menjadi pendorong bagi menguatnya bursa saham AS. Dow Jones ditutup naik 254,69 poin (+1,07%) menjadi 24.103,11, S&P 500 menguat 35,87 poin (+1,38%) menjadi 2.640,87 dan Nasdaq bertambah 114,22 poin (+1,64%) ke level 7.063,45. Dalam pekan terakhir perdagangan bulan Maret, bursa saham AS berhasil rebound dengan DJIA membukukan penguatan +2,42%, S&P 500 bertambah +2,03%, dan Nasdaq meningkat +1,01%. Walaupun berhasil menguat di pekan terakhir bulan Maret, namun secara kwartalan S&P 500 dan Dow Jones masih membukukan penurunan terburuk dalam dua tahun terakhir. Sepanjang periode Januari-Maret, Dow Jones turun -2,68%  dan S&P 500 melemah -2%, sementara Nasdaq masih tercatat menguat +0,81%. Kekhawatiran kenaikan suku bunga AS, perang dagang, dan skandal data Facebook menjadi pemberat langkah bagi pasar saham di kuartal pertama tahun ini.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berhasil menutup perdagangan akhir pekan dengan menguat 48,15 poin (+0,78%) ke level 6.188,99 pada hari kamis. Investor asing mencatatkan pembelian bersih senilai Rp. 840 juta di pasar reguler. Dalam sepekan IHSG mengalami koreksi -0,35%, dengan disertai net sell asing sebesar Rp 1,53 triliun di pasar reguler. Sementara untuk sepanjang kwartal pertama tahun ini, IHSG membukukan koreksi sebesar -2,62%, dengan dana asing yang tercatat keluar dari pasar saham sebesar Rp 23 triliun sejak dari awal tahun ini.

Pergerakan bursa saham global pekan lalu masih dibayangi oleh risiko perang dagang AS-China. Namun risiko tersebut tampaknya mulai mereda, menyusul dilakukannya negosiasi dan diskusi oleh kedua negara tersebut untuk menghindari perang dagang. Penurunan saham teknologi yang didorong kegagalan Facebook untuk melindungi data penggunanya sempat menekan bursa saham dunia sebelum akhirnya rebound di akhir pekan. Sementara dari dalam negeri, terpilihnya Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI membuat indeks sektor keuangan di bursa sepanjang pekan lalu turun -1,21%, sehingga menjadi penekan bagi laju IHSG. Tidak ada satupun saham bank BUKU IV yang diperdagangkan menguat secara mingguan. Hal ini disebabkan karena kekhawatiran investor terhadap sikap Perry yang pro pertumbuhan (growth) akan menguarangi profitabilitas bank-bank karena dipaksa untuk menggenjot pertumbuhan kredit dengan bunga rendah.

Di akhir minggu lalu, IHSG sempat turun dan kembali tertekan mencoba menguji area level support MA 200, sebelum akhirnya mampu rebound di menit-menit akhir perdagangan. Di duga penguatan IHSG pada menit terakhir perdagangan pekan lalu lantaran adanya aksi window dressing kwartal pertama. Secara teknikal IHSG masih berada di fase down trend dalam jangka pendek. IHSG diperkirakan akan bergerak di support 6.085 yang juga merupakan area kisaran MA 200, dan resistance di 6.274 pada pekan ini. Indikator teknikal MACD masih bergerak turun, namun mulai melandai dan diharapkan mampu berbalik arah sehingga terjadi golden cross. Dari kondisi ini mengindikasikan bahwa IHSG masih berada di fase downtrend dalam jangka pendek dengan kecenderungan berkonsolidasi.

Perkiran pekan ini IHSG kemungkinan akan bergerak cenderung sideways dan berkonsolidasi. Perhatikan area support 6.085 dan resistance 6.274. Apabila IHSG gagal bertahan di support 6.085 dan turun menjebol ke bawah garis MA 200, maka indeks akan kembali bergerak turun melanjutkan trend bearishnya menuju target dikisaran 5950-6000. Namun jika mampu bertahan diatas garis MA 200 dan bergerak menguat menembus keatas resistance 6275, maka IHSG akan menuju resistance selanjutnya di level 6.501. Nantinya jika IHSG mampu menerobos ke atas resistance 6.501 dan bertahan, maka indeks akan mengakhiri penurunannya dan kembali ke dalam trend bullish.

Sementara untuk Dow Jones (DJIA) secara teknikal hampir sama dengan pergerakan IHSG. Saat ini DJIA tengah menguji area support level 23.360 dan garis MA 200 nya. Jika gagal bertahan diatas support tersebut dan turun menjebol ke bawah garis MA 200, maka trend bearish akan berlanjut dengan target menuju kisaran 20.000-21.500. Namun apabila DJIA mampu menembus keatas short term down trend resistance di 25.000 dan bertahan, maka akan mengakhiri trend turun jangka pendek dan berpeluang kembali menguat menguji resistance level di 25.800.

Seperti biasa memasuki bulan April, pelaku pasar tengah menunggu rilis data ekonomi domestik seperti data manufaktur dan inflasi bulan maret pada hari senin. Sementara pada hari kamis akan rilis indeks keyakinan konsumen. Sedangkan dari luar negeri, ada banyak data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Senin 2 April 2018 : Rilis data Caixin Manufaktur China, Rilis data manufaktur AS
  • Selasa 3 April 2018 : Kebijakan suku bunga Australia, Rilis data manufaktur Inggris
  • Rabu 4 April 2018 : Rilis data penjualan ritel Australia, Rilis data konstruksi Inggris, Rilis data inflasi dan tingkat pengangguran zona eropa, Rilis data pekerjaan ADP, sektor jasa dan cadangan minyak AS
  • Kamis 5 April 2018: Rilis data perdagangan Australia, Rilis data sektor jasa Inggris, Rilis data sektor jasa dan penjualan ritel zona eropa, rilis data perdagangan AS
  • Jumat 6 April 2018: Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran AS, Pernyataan Gubernur BOE Carney, Pernyataan Ketua The Fed Powell

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Ketidakpasatian pasar diperkirakan masih akan mewarnai gerak laju IHSG. Kekhawatiran atas perang dagang nampaknya belum usai karena belum ada kesepakatan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Jika salah satu pihak merasa tidak puas dalam proses negosiasi, bukan tak mungkin Presiden Donald Trump akan kembali memasang sikap protektif bagi negaranya. Di sisi lain, tensi geopolitik dunia kembali memanas, pasca ratusan diplomat asal Rusia diusir oleh berbagai negara seperti AS, Kanada, Ukraina, dan negara-negara Uni Eropa terkait dengan dugaan keterlibatan Rusia dalam pembunuhan mantan mata-matanya di Inggris. Pengusiran tersebut mendapat aksi balasan dari Rusia yang mengusir sebanyak 60 diplomat AS dari negaranya serta menutup konsulat AS di St. Petersburg.

Untuk itu tetap disarankan berhati-hati dan lakukan safe trading. Terutama jika kondisi market masih tidak kondusif dan ketidakpastian di pasar masih berlanjut. Atur money manajemen dengan baik dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, koreksi masih bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, mengingat kondisi makro ekonomi dalam negeri masih stabil. Jika terjadi koreksi tajam, bisa dimanfaatkan untuk melakukan buy on weakness pada saham-saham yang telah melaporkan keuangan full year 2017 dengan kinerja bagus, ataupun emiten yang masih memiliki prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *