AS Serang Suriah, Tensi Geopolitik di Timur Tengah Panas. What Next?

Bursa Wall Street melemah didorong oleh penurunan saham perbankan yang tertekan, karena dipicu hasil laporan keuangan bank besar yang tak sesuai harapan. Selain itu sentimen negatif dari konflik di Suriah yang dapat meluas turut membebani pasar. Dow Jones merosot 122,91 poin (-0,5%) ke posisi 24.360,14, S&P 500 tergelincir 7,69 poin (-0,29%) ke level 2.656,3 dan Nasdaq berkurang 33,60 poin (-0,47%) menjadi 7.106,65. Walaupun tertekan di akhir pekan, namun selama sepekan bursa saham AS mampu catatkan penguatan, dengan Dow Jones menguat +1,79%, S&P 500 naik +1,99%, dan Nasdaq meningkat +2,77%, didorong oleh meredanya tensi perang dagang AS-China.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup dengan pelemahan 40,47 poin (-0,64%) menjadi 6.270,33 di akhir pekan. Investor asing melepas saham dengan mencatatakan net sell sebesar Rp 411 miliar di pasar reguler. Namun demikian, untuk sepanjang pekan kemarin IHSG mampu mengalami kenaikan hingga +1,54%, dengan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp. 803 miliar di pasar reguler.

Beberapa sentimen yang menjadi perhatian pelaku pasar pada pekan lalu salah satunya adalah rilis risalah minutes of meeting dari The Fed. Dalam risalah tersebut, terungkap bahwa seluruh anggota FOMC memandang kondisi ekonomi AS sudah semakin kuat dan inflasi diperkirakan akan naik, sehingga kenaikan fed rate lebih dari tiga kali kembali mengemuka dan memberikan tekanan bagi bursa saham. Meredanya isu perang dagang antara China-AS dan kembali memanasnya hubungan AS dengan Rusia setelah meningkatnya eskalasi konflik Suriah, turut mewarnai pergerakan pasar pada pekan lalu. Sementara dari dalam negeri, upgrade rating oleh Moody’s terhadap peringkat surat utang jangka panjang Indonesia dari Baa3 ke Baa2 dengan outlook stabil menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik.

Meningkatnya kekhawatiran Geopolitik di Timur Tengah atas ketegangan AS dan Rusia di Suriah, serta ketidak harmonisan hubungan Cina dan AS dalam sengketa dagang masih akan menjadi katalis negatif bagi pasar keuangan. Bahkan pada sabtu dini hari kemaren, AS bersama Prancis dan Inggris telah melancarkan serangan terhadap Suriah, sebagai respons serangan senjata kimia gas beracun yang dilakukan pemerintah Suriah menyebabkan puluhan warga sipil tewas di Douma. Sentimen ini tentu akan meningkatkan ketidakpastian pada market dan akan menjadi sentimen kuat bagi pergerakan pasar pada pekan ini.

Secara teknikal, walaupun IHSG mampu rebound pada pekan lalu dengan di tutup menguat dibandingkan penutupan pekan sebelumnya, namun sejatinya indeks masih belum mampu keluar dari trend penurunannya. Penguatan pada pekan lalu hanya menguji down trend resistance-nya dan IHSG kembali melemah. Kondisi ini menunjukan bahwa IHSG masih dalam trend turun, dengan kecenderungan berkonsolidasi dalam jangka pendek. Untuk pekan ini IHSG diperkirakan akan bergerak dalam range di kisaran level 6.165 hingga 6.350. Indikator teknikal MACD bergerak naik dengan kecenderungan mendatar di bawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih berada di fase konsolidasi dalam jangka pendek. Apabila mampu melewati down trend resisten di 6.350, IHSG berpeluang menguat menuju kisaran 6.425 hingga 6.500. Namun apabila gagal bertahan di 6.1.65, maka IHSG berpotensi turun menuju 6.085 kembali. Waspadai jika IHSG turun menjebol ke bawah 6.085, karena IHSG akan melanjutkan trend bearishnya lagi.

Sementara untuk pola pergerakan Dow Jones (DJIA) terlihat hampir sama dengan IHSG, yang masih mencoba rebound namun tertahan oleh down trend resistance-nya. Saat ini DJIA cenderung membentuk descending triangle pattern dan masih seperti dengan ulasan pada pekan sebelumnya. Waspadai apabila DJIA bergerak turun dan gagal bertahan di area support level 23.360, karena akan mengkonfirmasi pola bearish continuation descending triangle pattern-nya.

Untuk minggu ini, pelaku pasar akan mencermati data expor-impor dan neraca perdagangan bulan Maret di awal pekan hari senin besok. BI memprediksi bahwa di bulan Maret 2018 neraca perdagangan Indonesia di perkirakan akan surplus sekitar US$ 1,1 miliar. Pada hari kamis tanggal 19 April 2018 pelaku pasar menunggu keputusan suku bunga acuan oleh BI yang diperkirakan tidak akan berubah. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Senin 16 April 2018 : Rilis data penjualan ritel AS
  • Selasa 17 April 2018 : Kebijakan moneter Australia, Rilis data GDP kuartal pertama China, Rilis data tingkat pengangguran dan indeks rata-rata pendapatan Inggris, Rilis data ijin bangunan AS
  • Rabu 18 April 2018 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data inflasi Inggris, Rilis data cadangan minyak AS
  • Kamis 19 April 2018: Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran Australia, Rilis data penjualan ritel Inggris
  • Jum’at 20 April 2018: Rilis data inflasi Jepang, Rilis data kepercayaan konsumen zona euro

Memanasnya tensi di Timur Tengah yang meningkatkan risiko geopolitik menunjukan bahwa pasar sebenarnya belum stabil. Jika pada pekan lalu sentimen yang sangat dominan adalah perang dagang AS-China, maka pekan ini ancaman perang sungguhan di Suriah akan menjadi kekhawatiran dari pelaku pasar. Sentimen negatif ancaman perang betulan ini sebagai akibat dari aksi militer AS dan sekutunya ke Suriah pada sabtu dini hari kemaren, dan diperkirakan akan menjadi sentimen kuat yang membayangi pasar saham global di minggu ini. Apalagi jika perang ini sampai meluas dengan melibatkan Rusia dan Iran sebagai sekutu Suriah. Jika ini yang terjadi maka pasar akan kembali bergejolak dan berpotensi terkoreksi kembali. Perhatikan support IHSG di 6.085 dan support DJIA di 23.360, waspada jika tembus ke bawah level support tersebut.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Memanasnya tensi di Timur Tengah berpotensi menyebabkan harga minyak dunia dan emas melonjak. Jika hal ini terjadi maka dapat berdampak positif bagi emiten-emiten di sektor migas, dan emas, sehingga membuka peluang untuk dapat trading di saham-saham tersebut. Meskipun demikian disarankan untuk tetap hati-hati sambil mencermati perkembangan pasar. Tetap safe trading dan atur money manajemen dengan bijaksana, serta selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Terutama jika kondisi market menjadi tidak kondusif dan ketidakpastian di pasar berlanjut.

Sementara bagi investor, apabila terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, mengingat kondisi makro ekonomi dalam negeri masih stabil. Hal ini ditunjukan dengan dinaikannya peringkat utang Indonesia oleh Moody’s dari Baa3/outlook positif menjadi Baa2/outlook stabil di akhir pekan kemaren. Maka jika terjadi koreksi tajam, bisa dimanfaatkan untuk melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *