Pressure On IHSG, What Should To Do?

Bursa Wall Street ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan, karena data ekonomi yang kurang memuaskan dalam laporan pekerjaan, sehingga membantu menenangkan kekhawatiran investor akan kenaikan suku bunga dan inflasi AS. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 164.000 pekerjaan pada bulan April, lebih rendah dari proyeksi 195.000 yang diperkirakan oleh para ekonom. Sementara pertumbuhan upah rata-rata per jam juga naik hanya 0,15%, atau lebih lemah dari ekspektasi kenaikan 0,2%. Sedangkan tingkat pengangguran turun ke 3,9 %, mendekati level terendah dalam 17 tahun. Saham Apple naik ke rekor tertingginya di level USD 184,25, saat sesi perdagangan setelah Warren Buffett mengungkapkan siap menambah kepemilikan saham di perusahaan pembuat iPhone tersebut. Dow Jones ditutup naik 332,36 poin (+1,39%) menjadi 24.262,51, S&P 500 menguat 33,69 poin (+1,28%) menjadi 2.663,42 dan Nasdaq bertambah 121,47 poin (+1,71%) menjadi 7.209,62. Namun kenaikan ini tidak cukup untuk mengurangi kerugian selama sepekan yang dialami oleh DJIA yang melemah -0,2% dan S&P 500 turun -0,24%. Sedangkan indeks Nasdaq berhasil menguat +1,26% dalam sepekan.

Sementara dari dalam negeri, IHSG kembali melanjutkan tekanan jual dengan merosot 66,387 poin (-1,13%) ke level 5.792,345 pada akhir pekan. Investor asing kembali mencatatkan net sell senilai Rp. 734 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan IHSG jatuh -2,14%, dengan investor asing menjual saham sekitar Rp 2,5 Triliun di pasar reguler.

Laju IHSG kembali mengalami tekanan pada pekan lalu. Setelah sempat rebound di awal pekan, IHSG kembali tertekan jelang akhir pekan. Bahkan jika dibandingkan dengan bursa saham lainnya di kawasan Asia, koreksi yang dialami oleh IHSG merupakan yang terparah. Anjloknya IHSG tak lepas dari tekanan sentimen eksternal hasil pertemuan The Fed pada pertengahan pekan lalu. Walaupun suku bunga AS tetap dipertahankan, namun pernyataan The Fed yang mengungkapkan bahwa inflasi AS telah bergerak menuju target sebesar 2%, kembali membuka ruang bagi kenaikan suku bunga AS sebanyak 4 kali pada tahun ini. Kondisi ini kembali menekan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus level 14.000/USD. Disisi lain, mengecewakannya kinerja kuartal-I 2018 emiten berkapitalisasi besar membuat investor asing banyak melakukan aksi jual bersih pada emiten tersebut terutama yang berasal dari sektor keuangan.

Dengan kembali terpuruknya IHSG menembus level terendah sebelumnya di 5.885, maka secara teknikal membuat IHSG masih berada di fase down trend. Technically, penembusan IHSG ke bawah level 5.885 telah mengkonfirmasi pembentukan pola bearish pennant pattern, sehingga membuka peluang bagi IHSG melanjutkan trend penurunannya. Indikator teknikal MACD yang masih bergerak turun di bawah centreline mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung bergerak negatif. Target penurunan secara teoritis berdasarkan pola bearish pennant pattern ada dikisaran 5.590-5.500. Sementara minor target di 5.772 telah tercapai, sehingga apabila IHSG mampu bertahan diatas level tersebut, terbuka peluang untuk rebound sejenak. Target teknikal rebound di 5.885 hingga 6.012.

Sementara untuk pola pergerakan Dow Jones (DJIA) terlihat masih mencoba rebound namun tertahan oleh down trend resistance-nya di level 24.850. Saat ini DJIA cenderung membentuk descending triangle pattern dan masih seperti dengan ulasan sebelumnya. Waspadai apabila DJIA kebali bergerak turun dan gagal bertahan di area support level 23.360, karena akan mengkonfirmasi pola bearish continuation descending triangle pattern-nya.

Untuk awal pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama. Diperkirakan GDP Q1-2018 akan tumbuh sebesar 5,2%. Apabila angkanya yang dirilis nanti di atas level tersebut, maka akan menjadi katalis angin segar bagi reboundnya IHSG pasca koreksi tajam selama 2 pekan terakhir. Sedangkan pada hari selasa akan dirilis data cadangan devisa bulan April dan pada hari jum’at akan dirilis data neraca perdagangan Indonesia di kuartal pertama. Sementara dari luar negeri, minggu ini cukup banyak data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar, diantaranya adalah:

  • Senin 7 Mei 2018: Pertemuan kebijakan moneter BOJ, Rilis keyakinan bisnis Australia
  • Selasa 8 Mei 2018 : Rilis data perdagangan China, Rilis data ritel Australia, Pernyataan Ketua Fed Powell, Rilis data budget Australia
  • Rabu 9 Mei 2018 : Rilis indeks keyakinan konsumen Australia, Rilis data harga produsen dan cadangan minyak AS
  • Kamis 10 Mei 2018: Rilis data inflasi China, Kebijakan suku bunga BOE, Rilis data produksi manufaktur, neraca perdagangan dan inflasi Inggris, Rilis data inflasi AS
  • Jumat 4 Mei 2018: Pernyataan Ketua ECB Draghi

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Kemungkinan IHSG di awal perdagangan minggu ini ada potensi di buka menguat (rebound) mengikuti pergerakan bursa saham global. Rebound ini akan berlanjut apabila nanti data GDP yang dirilis bagus. Namun apabila ternyata hasilnya di bawah perkiraan, maka IHSG berpeluang kembali untuk mengalami koreksi. Jelang akhir pekan, perhatian investor juga akan tertuju pada data inflasi AS. Apabila nanti angkanya yang dirilis diatas 2%, maka akan membuat  yield obligasi AS kembali naik keatas 3%, sehingga berpotensi menekan nilai tukar rupiah lagi. Bila rupiah kian terpuruk lagi, kemungkinan IHSG masih berpotensi terkoreksi kembali.

Untuk itu disarankan sebaiknya tetap hati-hati sambil terus mencermati perkembangan pasar. Tetap safe trading dan atur money manajemen dengan bijaksana, serta selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Terutama jika kondisi market tetap tidak kondusif dan ketidakpastian di pasar masih terus berlanjut. Sementara bagi investor jangka panjang, apabila terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, karena dalam jangka panjang pasar saham akan selalu naik jika keseimbangan market telah tercapai. Maka apabila terjadi koreksi tajam, bisa dimanfaatkan untuk melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *