IHSG Menunggu Putusan BI Rate

Bursa saham Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan akhir pekan. Dow Jones naik 91,64 poin (+0,37%) menjadi 24.831,17. Indeks saham S&P 500 menguat 4,65 poin (+0,17%) ke level penutupan tertinggi sejak pertengahan Maret di angka 2.727,72, karena kenaikan saham-saham sektor healthcare setelah Presiden Donald Trump mengecam harga obat yang tinggi, tetapi menghindari langkah agresif untuk melakukan pemotongan biaya. Sementara Nasdaq tergelincir 2,09 poin (-0,03%) menjadi 7.402,88 poin, akibat koreksi saham Apple Inc sebesar -0,38% setelah menanjak 9 hari dan membuat perusahaan pembuat iPhone ini memiliki kapitalisasi pasar mendekati US$1 triliun. Dalam sepekan bursa saham AS berhasil menguat, dengan Dow Jones naik +2,34%, S&P 500 mendaki +2,41% dan Nasdaq bertambah +2,68%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berhasil menguat 48,89 poin (+0,83%) ke level 5.956,83 pada akhir pekan. Investor asing masih menjual saham dengan melakukan net sell sebesar Rp. 139 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan, laju IHSG mampu bergerak menguat +2,84%, setelah sempat anjlok cukup tajam pada 2 pekan sebelumnya. Walaupun demikian, investor asing masih melepas saham dengan mencatatkan net sell sebesar Rp. 1,72 triliun di pasar reguler dalam sepekan.

Setelah sempat tertekan dan anjlok hingga level terendah di 5.716, akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus keatas level Rp 14.100/USD dan rilis data GDP kuartal I 2018 yang tumbuh 5,06% di bawah konsensus pasar di kisaran 5,18%, IHSG akhirnya mampu rebound dalam 2 hari terakhir. Rebound IHSG terjadi disebabkan oleh adanya spekulasi bahwa BI bakal menaikkan suku bunga acuannya sekitar 25-50 bps dalam RDG pada pertengahan pekan ini tanggal 16-17 Mei 2018. Dalam pernyataannya, BI menyampaikan bahwa ruang untuk penyesuaian suku bunga 7-Day RR terbuka. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk untuk menjaga stabilitas dan antipasi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, rencana pemerintah untuk melakukan buyback saham-saham BUMN menjadi katalis positif tambahan bagi reboundnya IHSG.

Sementara dari ekternal, kenaikan harga komoditas terutama minyak dunia yang menembus ke atas level US$ 70/barrel, usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa AS keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran dan akan memberlakukan kembali sanksi-sanksi terhadap negara tersebut, turut memberikan dorongan pada pasar saham. Selain itu market juga mendapat katalis positif dari rilis data inflasi AS yang di bawah ekspektasi.  Inflasi AS periode April 2018 tercatat sebesar 0,2% dan inflasi inti adalah 0,1%, di bawah konsensus pasar yang memperkirakan inflasi 0,3% dan inflasi inti 0,2%, sehingga peluang untuk kenaikan suku bunga acuan yang agresif kembali mengecil.

Untuk pekan ini, laju pergerakan IHSG akan lebih banyak dipengaruhi sentimen nilai tukar rupiah dan hasil rapat BI terkait suku bunga acuan, serta harga komoditas dunia dan pergerakan indeks Dow Jones. Secara teknikal, IHSG terlihat mulai rebound. Namun kenaikan IHSG dalam 2 hari terakhir masih berupa teknikal rebound dalam trend turun. Indikator teknikal MACD berpeluang terjadi golden cross, tapi masih di bawah centreline. Dari kondisi teknikal tersebut, mengindikasaikan bahwa IHSG masih berada di fase downtrend dalam jangka pendek dan mencoba untuk reversal.

Terlihat bahwa IHSG masih mencoba untuk melewati resistance 6.012. Apabila dapat diterobos, maka IHSG berpeluang melanjutkan teknikal reboundnya menuju target dikisaran 6.085 hingga 6.225. Sementara untuk level support IHSG berada di 5.716.

Berbeda dengan IHSG, indeks saham DJIA telah keluar dari pola konsolidasi descending triangle pattern setelah berhasil menembus down trend resistancenya. Penembusan resistance pola tersebut, membuka peluang bagi DJIA untuk kembali bergerak menguat. Namun kenaikan DJIA saat ini masih tertahan oleh resistance di level 24.850. Apabila dapat dilewati, maka DJIA berpeluang menguat menuju resistance di level 25.800 hingga level all time highnya lagi di 26.616, sebelum menuju target teoritis dari pola descending triangle patternnya di level 27.500.

Untuk pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada data perdagangan dan export-import bulan April pada hari selasa serta kebijakan suku bunga acuan BI pada hari kamis. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada minggu ini, diantaranya adalah:

  • Selasa 15 Mei 2018 : Kebijakan moneter Australia, Rilis data GDP dan sentimen ekonomi Jerman, Rilis data pendapatan, tingkat pengangguran dan inflasi Inggris, Rilis data GDP zona eropa, Rilis data penjualan ritel AS.
  • Rabu 16 Mei 2018 : Rilis data GDP Jepang, Rilis data gaji Australia, Pernyataan Ketua ECB Draghi, Rilis data ijin bangunan dan cadangan minyak AS
  • Kamis 17 Mei 2018: Rilis data pekerjaan Australia
  • Jum’at 18 Mei 2018: Rilis data inflasi Jepang

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Kemungkinan IHSG di awal perdagangan minggu ini berpotensi bergerak dalam pola konsolidasi, setelah rebound cukup tajam pada minggu lalu. IHSG diperkirakan akan bergerak dalam area yang terbatas, hingga hasil rapat BI terkait suku bunga acuan diumumkan. Apabila BI rate tetap dipertahankan tidak berubah, maka rupiah akan kembali cenderung tertekan dan IHSG dapat terkena dampaknya.

Tetap safe trading dan atur money manajemen dengan bijaksana, serta selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Terus cermati perkembangan pasar, terutama jika kondisi market tetap tidak kondusif dan ketidakpastian di pasar masih terus berlanjut. Sementara bagi investor, apabila terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, karena dalam jangka panjang pasar saham akan selalu naik setelah keseimbangan market dicapai. Maka apabila terjadi koreksi tajam, bisa dimanfaatkan untuk melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *