Masih Melanjutkan Konsolidasinya, IHSG Berada Dipersimpangan

Bursa Wall Street bervariasi di perdagangan akhir pekan, usai harga minyak jatuh sehingga berimbas kepada penurunan sektor saham energi. Harga minyak AS anjlok turun -4% ke US$ 67,88/barel, usai Arab Saudi dan Rusia mengatakan siap mengurangi atau melakukan pembatasan produksi. Akan tetapi, sektor saham ritel dan produsen chip menguat dan menahan pelemahan indeks saham acuan jadi terbatas. Dow Jones di tutup melemah 58,67 poin (-0,24%) ke posisi 24.753,09, S&P 500 susut 6,43 poin (-0,24%) ke level 2.721,33, sedangkan Nasdaq menguat 9,42 poin (+0,13%) menjadi 7.433,85. Selama sepekan pasar saham AS dipengaruhi oleh tensi antar China dan AS yang masih berkutat di perang tarif. Sepanjang pekan, Dow Jones naik +0,15%, S&P 500 mendaki +0,31% dan Nasdaq menguat +1,08%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG melanjutkan penguatan dengan ditutup naik 29,204 poin (+0,49%) ke level 5.975,742 pada penutupan perdagangan akhir pekan. Kenaikan IHSG disokong oleh net buy investor asing yang tercatat melakukan pembelian di pasar reguler senilai Rp 772 miliar. Selama sepekan IHSG mampu menguat +3,33%, dengan diikuti oleh investor asing membukukan net buy sekitar Rp. 341 milyar di pasar reguler.

Sejumlah sentimen baik dari internal maupun eksternal mempengaruhi laju rebound IHSG pada pekan lalu. Dari eksternal, rencana pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump bulan depan yang terancam batal, serta sentimen pembicaraan terkait perang dagang antara AS dan China menjadi sorotan pelaku pasar. Sementara risalah hasil rapat The Fed yang menunjukkan tidak akan terburu-buru mempercepat kenaikan suku bunga, membuat yield US Treasury 10 tahun turun di bawah angka 3%, menjadi katalis positif bagi market global termasuk IHSG. Sementara dari dalam negeri, penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD yang disebabkan oleh turunnya yield US Treasury 10 tahun dan pelantikan Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI yang baru direspons positif oleh pasar. Perry Warjiyo diharapkan mampu menjalankan kebijakan moneter dalam rangka menstabilkan rupiah dengan memprioritaskan kebijakan-kebijakan yang berorientasi terhadap pro growth dan pro stabililty.

Rebound yang dialami oleh IHSG pada akhir pekan kemaren yang sempat menembus ke atas level 6.000 lagi, menunjukan bahwa pasar saham Indonesia masih mampu menarik perhatian investor, ditengah indeks saham di kawasan Asia lain berguguran. Bahkan kinerja IHSG menjadi salah satu indeks saham dengan performa terbaik di kawasan regional pada pekan lalu. Derasnya aliran modal asing yang masuk kembali ke pasar saham dalam 3 hari terakhir semakin mendorong laju IHSG yang diyakini sudah berbalik arah. Tapi apakah memang betul bahwa trend turun IHSG telah berakhir? Ataukah rebound ini hanya sementara dan IHSG akan kembali turun lagi? Untuk menjawabnya mari kita lihat chart IHSG dibawah ini…

Secara teknikal dari gambar chart diatas terlihat bahwa IHSG masih berada di fase downtrend, namun mengalami konsolidasi dalam jangka pendek dengan bergerak dikisaran area tranding 5.716-6.023. IHSG berpeluang mengalami bottom reversal dengan membentuk pola double bottom apabila mampu menembus keatas resistance 6.023. Namun untuk dapat mengakhiri trend turunnya, maka IHSG harus mampu menerombol keatas garis down trend resistancenya dan juga level psikologis MA 200 yang saat ini berada dikisaran level 6.134. Maka cermati area level 6.023-6.134 yang akan menjadi resistance sangat kuat bagi IHSG saat ini. Untuk dapat kembali ke uptrend, maka IHSG tidak hanya perlu menembus ke atas level 6.134, tapi juga wajib mampu bertahan di atasnya. Jika hal ini yang terjadi, maka besar kemungkinan IHSG akan melanjutkan kenaikannya menuju target teoritis dari pola double bottomnya di kisaran 6.330-6.380. Namun  jika IHSG gagal menerobos area resistance kuat 6.023-6.134, dan kembali bergerak melemah serta tidak mampu bertahan di atas support 5.716, maka IHSG akan kembali melanjutkan tren turunnya yang memang saat ini sedang berlangsung. Indikator teknikal MACD yang mulai bergerak naik, menunjukkan bahwa IHSG akan mencoba menguat menguji level resisten pentingnya.

Tapi perlu di ingat, selama IHSG belum mampu menembus dan bertahan di atas level 6.134, 

maka segala kenaikan yang terjadi masih tergolong technical rebound dalam tren turun.

Pekan ini akan menjadi pekan yang singkat bagi perdagangan IHSG, karena pada hari Selasa tanggal 29 Mei 2018 dan hari Jum’at 1 Juni 2018, adalah hari libur nasional. Jadi praktis perdagangan IHSG hanya akan berlangsung 3 hari saja. Minggu ini tidak ada data dan kejadian ekomoni domestik penting yang akan dirilis. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Selasa 29 Mei 2018 : Rilis data tingkat pengangguran Jepang, Rilis data keyakinan konsumen AS
  • Rabu 30 Mei 2018 : Pernyataan Gubernur BOJ Kuroda, Rilis data penjualan ritel dan data inflasi Jerman, Rilis data pekerjaan (ADP) dan data GDP AS
  • Kamis 31 Mei 2018: Rilis data belanja modal swasta Australia, Rilis data manufaktur China, Rilis data inflasi dan tingkat pengangguran zona eropa, Rilis data persediaan minyak AS
  • Jum’at 1 Juni 2018: Rilis data Caixin manufaktur China, Rilis data manufaktur Inggris, Rilis data pekerjaan dan manufaktur AS

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG kemungkinan akan bergerak volatile cenderung berkonsolidasi di awal pekan jelang harpitnas.  Sementara di pertengahan pekan, laju pergerakan IHSG akan dipengaruhi  oleh kondisi nilai tukar rupiah terhadap USD, harga komoditas dan pergerakan indeks saham dunia, khususnya Dow Jones. Terus cermati perkembangan pasar, karena walalupun IHSG telah rebound namun indeks belum keluar dari fase downtrend.

Tetap safe trading dan selalu hati-hati serta atur money manajemen dengan bijaksana. Selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat, terutama jika kondisi market berbalik arah dan menjadi tidak kondusif lagi serta ketidakpastian di pasar kembali terjadi. Sementara bagi investor, apabila terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, karena dalam jangka panjang pasar saham akan selalu naik setelah mencapai keseimbangannya. Apabila terjadi koreksi tajam, bisa dimanfaatkan untuk melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *