Jelang Libur Panjang, Kemana Arah IHSG?

Bursa Wall Street menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan, dipicu oleh laporan pekerjaan bulanan terbaru yang menunjukkan penguatan perekonomian AS. Rilis data pemerintah menunjukkan bahwa pada bulan Mei, ekonomi AS menambahkan 223 ribu pekerjaan non pertanian dan upah rata-rata per jam meningkat sebesar 0,3%, keduanya melampaui perkiraan ekonom. Sementara tingkat pengangguran turun ke level terendah selama 18 tahun ke angka 3,8%. Data belanja konstruksi dan produksi industri juga menunjukkan percepatan pertumbuhan ekonomi. Meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Korea Utara turut mempengaruhi pasar, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan dimulainya kembali rencana untuk pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada 12 Juni mendatang. Dow Jones ditutup naik 219,37 poin (+0,9%) menjadi 24.635,21, S&P 500 menguat 29,35 poin (+1,08%) menjadi 2,734.62 dan Nasdaq bertambah 112,22 poin (+1,51%) menjadi 7.554,33. Untuk sepanjang minggu lalu, bursa saham AS bergerak bervariasi, dengan Dow Jones turun -0,48% sedangkan S&P naik +0,49% dan Nasdaq menguat +1,62%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG mengakhiri perdagangan pekan kemaren dengan di tutup turun 27,468 poin (-0,46%) ke level 5.983,587 pada Kamis lalu. Penurunan IHSG tersebut diikuti dengan aksi jual saham oleh investor asing yang membukukan net sell sebesar Rp 578 miliar di pasar reguler. Meski mengakhiri perdagangan pekan kemaren dengan terkoreksi, namun IHSG masih mencatatkan kenaikan tipis sebesar +0,13% dalam sepekan. Sepanjang pekan lalu, investor asing tercatat membukukan net sell sebesar Rp 241 miliar di pasar reguler.

IHSG bergerak fluktuatif pada pekan lalu dipengaruhi oleh kondisi global dan internal. Sempat mengawali perdagangan awal pekan dengan penguatan, IHSG kembali tertekan jelang akhir pekan. Sejumlah sentimen pengaruhi gerak laju iHSG diantaranya BI menaikkan suku bunga acuan 7 day reverse repo rate sebesar 25 bps menjadi 4,75% pada rapat tambahan RDG tanggal 30 Mei 2018 lalu. Sementara dari ekternal, perang dagang AS dengan China masih menjadi perhatian pelaku pasar. Dari Eropa, krisis politik di Italia menjadi sorotan dan dikhawatirkan dapat membuat negara terbesar ketiga di zona eropa tersebut akan meningkalkan euro. Namun kisruh Italia akhirnya mereda jelang akhir pekan setelah negara tersebut berhasil membentuk pemerintahan koalisi, sehingga menghilangkan risiko pemungutan suara ulang yang didominasi oleh perdebatan tentang apakah Italia akan memilih keluar dari euro atau tidak.

Pekan ini, adalah pekan perdagangan terakhir sebelum libur panjang lebaran. Jelang libur panjang aksi profit taking biasanya pasti ada, dan hal ini cukup wajar dalam dinamika pasar modal Indonesia. Investor biasanya akan melakukan antisipasi sebelum libur panjang. Selain itu, adanya gelaran Piala Dunia setelah libur lebaran juga kemungkinan akan membuat pasar cenderung sepi karena volume transaksi biasanya menurun.

Seperti biasa di awal bulan, pelaku pasar tengah menanti data-data ekonomi. Untuk awal pekan besok, investor menantikan data manufaktur dan inflasi bulan Mei 2018. BI memproyeksi inflasi Mei akan mencapai 0,22% secara bulanan dan 3,24% secara tahunan. Sementara dari luar negeri, minggu ini cukup banyak data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar, diantaranya adalah:

  • Senin 4 Juni 2018: Rilis data penjualan sektor ritel Australia, Rilis data konstruksi Inggris
  • Selasa 5 Juni 2018 : Kebijakan suku bunga RBA, Rilis data jasa Inggris, Pernyataan Presiden ECB Mario Draghi, Rilis data ISM sektor jasa AS
  • Rabu 6 Juni 2018 : Rilis data pertumbuhan ekonomi (GDP) Australia, Rilis data perdagangan dan cadangan minyak AS
  • Kamis 7 Juni 2018: Rilis data perdagangan Australia, Rilis data pertumbuhan ekonomi Zona Euro
  • Jum’at 8 Juni 2018: Rilis data perdagangan China

Secara teknikal, kondisi IHSG masih sama dengan pekan sebelumnya. IHSG masih mengalami konsolidasi dalam jangka pendek, namun masih dalam fase downtrend. Seperti perkiraan kami, rebound IHSG masih tertahan di area kisaran resistance kuat di level 6.023-6.138. IHSG masih belum dapat mengakhiri trend turunnya, karena belum mampu menerombol keatas garis down trend resistancenya dan juga resistance level psikologis MA 200, yang saat ini ada dikisaran level 6.138.  Untuk dapat kembali ke uptrend, maka IHSG harus dapat menerobos area resistance kuat tersebut, dan juga wajib mampu bertahan di atasnya. Apabila hal ini yang terjadi, maka besar kemungkinan IHSG akan melanjutkan kenaikannya menuju target teoritis dari pola double bottom reversal di kisaran 6.330-6.380. Namun  jika IHSG gagal menerobos area resistance kuatnya, dan kembali bergerak melemah serta tidak mampu bertahan di atas support 5.716, maka IHSG akan kembali melanjutkan tren turunnya yang memang saat ini tengah berlangsung. Indikator teknikal MACD yang masih bergerak naik, menunjukkan bahwa IHSG masih mencoba menguat menguji level resisten pentingnya. Tapi perlu di ingat, selama IHSG belum mampu menembus dan bertahan di atas garis MA 200 nya, maka segala kenaikan yang terjadi masih tergolong technical rebound dalam tren turun.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Jelang libur panjang, pelaku pasar akan cenderung memilih opsi wait and see serta cenderung melakukan profit taking untuk mengamankan posisi dari ketidakpastian ekternal selama liburan. Masih ada ketidakpastian terkait perang dagang dan juga FOMC meeting di pertengahan bulan yang ditunggu terkait rencana The Fed untuk menaikan suku bunga acuan hingga akhir tahun, serta jelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un.

Oleh karena itu disarankan untuk tetap safe trading dan atur money manajemen dengan bijaksana. Selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat, terutama jika kondisi market masih tidak kondusif, serta ketidakpastian di pasar kembali terjadi. Sementara bagi investor, apabila terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, karena dalam jangka panjang pasar saham akan selalu naik setelah mencapai keseimbangannya. Apabila terjadi koreksi tajam, bisa dimanfaatkan untuk melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *