Berada Dipersimpangan, IHSG Masih Belum Lepas Dari Tekanan Global

Bursa Wall Street jatuh pada perdagangan akhir pekan, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bakal mengenakan tarif tambahan senilai US$ 267 miliar atau di atas usulan $ 200 miliar, untuk barang impor dari China. Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa pasar tenaga kerja AS menunjukan percepatan pertumbuhan pekerjaan dan lonjakan pertumbuhan upah rata-rata per jam pada bulan Agustus 2018 mencapai puncaknya di tahun ini, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor mengenai inflasi dan rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga. Upah per jam rata-rata AS di Agustus meningkat 0,4% secara bulanan, melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan peningkatan 0,2%. Sedangkan lapangan kerja non-pertanian AS per Agustus bertambah sebesar 201.000, melampaui konsensus pasar sebesar 191.000.

Dow Jones turun 79,33 poin (-0,31%) ditutup di level 25.916,54, S&P 500 kehilangan 6,37 poin (-0,22%) ke posisi 2,871.68 dan Nasdaq melemah 20,19 poin (-0,25%) menjadi 7.902,54. Selama sepekan bursa saham AS mengalami pelemahan dengan Dow Jones kehilangan -0,19%, S&P 500 turun -1,03% dan Nasdaq merosot -2,55%. Penurunan indeks Nasdaq tercatat sebagai koreksi mingguan terbesar sejak akhir Maret, sementara persentase penurunan mingguan S&P 500 adalah yang terbesar sejak akhir Juni.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berhasil ditutup menguat 75,37 poin (+1,3%) ke posisi 5.851,46 pada akhir pekan, meski investor asing masih melakukan net sell sebesar Rp. 107 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan, IHSG anjlok -2,77%, dengan diikuti oleh keluarnya dana asing sebesar Rp. 2,38 triliun di pasar reguler.

Setelah sempat turun tajam di awal pekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp. 15.000/USD, IHSG berhasil mengalami teknikal rebound pada dua hari perdagangan di akhir pekan. Selama sepekan terakhir, IHSG tak lepas dari tekanan sentimen negatif perang dagang yang menyebabkan pelemahan mata uang di sejumlah negara emerging market. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran investor akan terjadinya krisis mata uang di negara-negara berkembang seperti Turki, Argentina, dan Afrika Selatan yang berdampak pada pelemahan rupiah.

Walaupun IHSG berhasil bangkit pada akhir pekan lalu, seiring penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditutup di level Rp 14.815/US$ di pasar spot pada akhir pekan, namun rupiah bisa saja kembali tertekan di pekan ini. Dolar AS tampaknya sudah siap menguat lagi terhadap sejumlah mata uang negara-negara di dunia, setelah rilis data tenaga kerja AS yang melampaui ekspektasi pasar, kembali membuka peluang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak 2 kali lagi pada tahun ini, sehingga total menjadi 4 kali hingga akhir tahun nanti. Semakin dekatnya jadwal kenaikan suku bunga The Fed untuk ketiga kalinya tahun ini, jelang FOMC meetings tanggal 25-26 September, membuat dolar AS semakin punya alasan untuk menguat lagi. Kenaikan suku bunga AS akan membuat imbal hasil berinvestasi di instrumen berbasis dolar AS akan kembali naik.

Selain itu, peringatan Presiden AS Donald Trump bahwa AS siap untuk menerapkan tarif atas barang impor dari China ke AS yang nilainya mencapai US$ 267 miliar lebih dari US$ 200 miliar seperti yang diberitakan selama ini, akan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan bursa saham dunia pada pekan ini. Disisi lain, turunnya cadangan devisa Indonesia per Agustus 2018 sebesar US$410 juta menjadi US$117,9 miliar, yang merupakan level terendah sejak Januari 2017, akan menjadi sentimen negatif bagi laju pergerakan IHSG di awal pekan. Sejak awal tahun, cadangan devisa Indonesia telah menyusut hingga US$ 14,08 miliar dari posisi US$ 132 miliar, karena BI melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap US dollar yang telah terdepresiasi hingga 8,55% sejak awal tahun ini.

Secara teknikal IHSG masuk kembali ke fase downtrend dalam jangka pendek setelah mengalami koreksi tajam pada awal pekan lalu. Rebound yang dialami dalam dua hari terakhir, adalah upaya bagi IHSG untuk masih mencoba bergerak dalam trend sideways jangka menengahnya. IHSG masih mencoba bertahan di area support kisaran 5.557-5.620, sementara untuk resistance berada dikisaran 6.085-6.117. Penembusan ke bawah level support 5.557 akan membawa IHSG kembali ke trend bearish. Sebaliknya apabila IHSG mampu menembus keatas resistance 6.117, maka IHSG akan kembali ke trend bullish.

Untuk awal pekan ini, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam volatilitas dan cenderung tertekan, dengan perkiraan support di level 5.745, sedangkan untuk resistancenya berada di area gap atas dikisaran 5.868-5.889. Indikator teknikal MACD yang cenderung bergerak turun ke bawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih berada dalam fase downtrend dalam jangka pendek.

Minggu ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Senin 10 September 2018 : Rilis data inflasi China, Rilis data neraca perdagangan, manufaktur dan GDP Inggris
  • Selasa 11 September 2018 : Rilis data keyakinan bisnis Australia, Rilis data pendapatan dan pekerjaan Inggris
  • Rabu 12 September 2018 : Rilis data harga produsen dan persediaan minyak AS
  • Kamis 13 September 2018 : Rilis data pekerjaan Australia, Kebijakan suku bunga BOE Inggris, Kebijakan suku bunga dan pernyataan ECB, Rilis data inflasi AS
  • Jum’at 14 September 2018 : Pernyataan Gubernur BOE Carney, Rilis data ritel AS

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG diperkirakan kemungkinan berpotensi mengalami profit taking setelah rebound cukup tajam dalam 2 hari terakhir. Sentimen negatif dari pelemahan rupiah, krisis mata uang emerging market, dan perang dagang kemungkinan masih akan menjadi hambatan bagi laju penguatan IHSG selanjutnya. Selain itu, pasar saham global juga terlihat mulai ada tanda-tanda koreksi jelang FOMC meeting 2 pekan lagi. Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Terus cermati arah perkembangan pasar. Hati-hati apabila pasar mengalami ketidakpastian dan kondisi market kembali tidak kondusif. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *