IHSG Bergerak Menguat, Namun Masih Lanjutkan Konsolidasinya

Bursa Wall Street bergerak liar sepanjang perdagangan akhir pekan sebelum akhirnya ditutup cenderung flat dan hanya mengalami sedikit perubahan. Investor masih khawatir perang dagang, setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan akan tetap melanjutkan rencananya untuk memberlakukan tarif terhadap barang-barang impor China senilai US$ 200 miliar, meski Menkeu AS sedang mulai berusaha memulai perundingan dengan China. Dow Jones naik tipis 8,68 poin (+0,03%) menjadi 26.154,67, S&P 500 bertambah 0,79 poin (+0,03%) menjadi 2.904,97 dan Nasdaq turun tipis 3,67 point (-0,05%) menjadi 8.010,04. Dalam sepekan Bursa saham AS kembali bergerak menguat, dengan Dow Jones naik +0,92%, S&P 500 bertambah +1,16% dan Nasdaq mendaki +1,36%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan, dengan naik 73,01 poin (+1,25%) ke posisi 5.931,28, didorong oleh net buy investor asing senilai Rp 403 miliar di pasar regular. Selama sepekan, IHSG tercatat mengalami penguatan sebesar +1,36%, meski investor asing mencatatkan total penjualan bersih atau net sell sebesar Rp 343 miliar di pasar reguler.

Penguatan IHSG pekan lalu lebih dikarenakan faktor stabilitas nilai tukar rupiah. Setelah pada pekan sebelumnya rupiah sempat melemah menembus level psikologis 15.000 per dolar AS, kurs rupiah pekan kemaren tidak terlalu fluktuatif lagi dan bahkan mampu ditutup menguat jika dibandingkan pekan sebelumnya. Selain itu dibukanya kembali perundingan dagang antara AS dengan China, meredakan tensi perang dagang antara kedua negara dan memberi berkah bagi bursa saham asia, termasuk IHSG. Pasar juga mendapat angin positif dari rilis data inflasi AS yang lebih rendah dari harapan, sehingga memberikan ruang bagi The Fed untuk lebih lambat dalam menaikan suku bunga.

Secara teknikal IHSG kembali masuk ke fase up trend dalam jangka pendek, setelah berhasil melewati gap dikisaran 5.868-5.889. Keberhasilan IHSG bertahan diatas gap tersebut, membuka ruang untuk bergerak naik ke area resistance konsolidasi jangka menengah dikisaran 6.085-6.117 kembali. Indikator teknikal Stochastic bergerak naik, sedangkan MACD berpotensi kembali golden cross, namun masih di bawah centreline. Dari kondisi teknikal ini, mengindikasikan bahwa IHSG sedang cenderung mulai bergerak dalam fase up trend jangka pendek. Apabila IHSG mampu menembus keatas resistance 6.117, maka IHSG akan mengakhiri trend sideways jangka menengahnya dan kembali ke trend bullish dengan potensi menuju target kenaikan di level 6.350. Namun sebaliknya jika kembali bergerak turun di bawah gap yang telah berhasil dilewati, maka IHSG akan melemah lagi ke area support konsolidasi di kisaran 5.557-5.620.

Pergerakan IHSG pekan ini akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Dari domestik, pelaku pasar menanti rilis data neraca perdagangan bulan Agustus di awal pekan besok. Setelah pada bulan lalu mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar USD 2,03 Milyar, maka defisit bulan Agusutus diperkirakan akan menurun menjadi sekitar USD 700 juta. Namun jika datanya yang dirilis kembali melebar jauh dari ekspektasi, maka akan menjadi sentimen negatif yang akan menekan rupiah dan IHSG. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Selasa 18 September 2018 : Meeting kebijakan moneter Australia, Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi, Rilis data perdagangan Jepang
  • Rabu 19 September 2018 : Pernyataan kebijakan moneter dan konferensi pers BOJ, Rilis data inflasi Inggris, Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi, Rilis data cadangan minyak AS
  • Kamis 20 September 2018 : Buletin RBA Australia, Rilis data penjualan ritel Inggris, Rilis data inflasi Jepang

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Untuk awal minggu ini IHSG diperkirakan akan kembali bergerak sideways dikisaran area trading 5.889-5.987, dengan kemungkinan cenderung volatile menunggu data perdagangan. Cermati pergerakan nilai tukar rupiah setelah rilis data tersebut, karena rupiah masih akan menjadi faktor penggerak IHSG. Waspadai apabila rupiah kembali melemah lagi mendekati level psikologis 15.000 per dolar AS, terutama jelang rencana kenaikan suku bunga The Fed yang semakin dekat pada tanggal 26 September 2018 nanti. Disarankan tetap safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Cermati arah perkembangan pasar dan hati-hati apabila pasar kembali mengalami ketidakpastian serta kondisi market kembali tidak kondusif. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *