IHSG Bertahan Di Tengah Bursa Saham Dunia Yang Bergejolak

Bursa Wall Street akhirnya mampu berbalik arah ke zona hijau pada perdagangan akhir pekan, usai mengalami tekanan yang cukup dalam hampir sepanjang pekan lalu. Saham-saham sektor teknologi memimpin rebound penguatan bursa saham di AS dan diikuti oleh saham sektor energi dan keuangan dalam perdagangan yang penuh dengan gejolak. Dow Jones ditutup naik 287,16 poin (+1,15%) menjadi 25.339,99, S&P 500 menguat 38,76 poin (+1,42%) menjadi 2.767,13 dan Nasdaq menambahkan 167,83 poin (+2,29%) menjadi 7.496,89. Namun secara mingguan kinerja Wall Street masih tertekan oleh keresahan investor atas kenaikan suku bunga AS, valuasi tinggi pada saham-saham teknologi dan kekhawatiran akan potensi perlambatan ekonomi global. Dow Jones membukukan kerugian mingguan -4,19%, S&P 500 anjlok -4,1% dan Nasdaq turun -3,74%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG menutup perdagangan akhir pekan dengan kenaikan sebesar 53,67 poin (+0,94%) ke level 5.756,49. Investor asing mencatatkan penjualan bersih senilai Rp. 159 miliar di pasar reguler.  Selama sepekan IHSG bergerak fluktuatif, tapi masih mampu menguat +0,43%, walaupun investor asing terlihat banyak melepas saham dengan mencatatkan net sell senilai Rp. 2,54 triliun di pasar reguler.

Sentimen negatif yang bertebaran di seluruh dunia, membuat bursa saham global bergejolak pada minggu lalu dan mengalami penurunan tajam. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global, seiring perang dagang dan tekanan terhadap mata uang di negara-negara berkembang. IMF menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,7% pada 2018, dari proyeksi 3 bulan lalu sekitar 3,9%. IMF juga memangkas pertumbuhan ekonomi AS menjadi 2,5% dan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China jadi 6,2% pada 2019.

Disisi lain, kenaikan yield obligasi AS bertenor 10-tahun yang mencapai level tertinggi sejak tahun 2011, serta rilis data tingkat pengangguran AS turun ke level terendah dalam 49 tahun, memicu kekhawatiran bakal naiknya suku bunga acuan The Fed lebih cepat. Investor khawatir naiknya fed rate bakal meningkatkan biaya pinjaman sehingga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi AS. Selain itu, pelaku pasar juga masih khawatir tentang dampak perang tarif yang berkelanjutan bakal mempengaruhi keuntungan perusahaan-perusahaan AS, jelang rilis hasil kinerja emiten di kuartal III 2018. Diperkirakan volatilitas di market AS kemungkinan akan berlanjut pekan ini, memasuki musim laba kuartal ketiga.

Di tengah gejolak bursa saham dunia, IHSG masih mampu bertahan dan malah berhasil menguat sepanjang pekan lalu. Penguatan IHSG didorong aksi beli investor domestik dan nilai tukar rupiah yang bergerak cenderung stabil terhadap dolar AS. Selain itu, IHSG juga mendapat sentimen positif dari diselenggarakannya IMF-World Bank Annual Mettings di Bali dan juga naiknya harga bahan bakar minyak non subsidi.

Walaupun berhasil menguat sepanjang pekan lalu, namun secara teknikal IHSG masih berada di fase downtrend dalam jangka pendek. IHSG belum dapat menguat melewati resistance terdekat di level 5.850 dan masih berada di bawah down trend resistance line, sehingga terlihat masih bergerak dalam pola turun. Indikator teknikal MACD di bawah centreline (bernilai negatif) dan masih cenderung menurun. Dari kondisi teknikal ini, mengindikasikan bahwa IHSG masih dalam fase downtrend dalam jangka pendek. Selama IHSG belum dapat melewati down trend resistance line dikisaran 5.975, maka trend jangka pendek IHSG masih cenderung turun. Diperkirakan IHSG di minggu ini akan bergerak dalam rentang kisaran area trading 5.621-5.850.

Untuk awal pekan besok, IHSG kemungkinan masih berpotensi melanjutkan penguatannya di awal perdagangan, seiring reboundnya bursa saham AS pada akhir pekan kemaren. IHSG besok akan mencoba untuk bertahan di level 5.700 sebagai level support psikologis. Dan jika kenaikan masih dapat berlanjut, maka IHSG berpeluang menguat setidaknya menutup gap yang terbentuk saat terjadi penurunan tajam pada kamis pekan lalu, yang saat ini berada dikisaran 5.788-5.798 sebagai level resistance.

Pelaku pasar akan mencermati rilis data ekspor-impor dan neraca perdagangan bulan September pada awal pekan besok. Data ini sangat penting, karena apabila kembali mencatatkan defisit perdagangan dalam julmlah besar, maka rupiah akan kembali tertekan dan IHSG akan cenderung terkoreksi lagi. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Senin 15 Oktober 2018 : Rilis data penjualan ritel AS
  • Selasa 16 Oktober 2018 : Rilis data inflasi China, Rilis data pekerjaan dan pendapatan Inggris
  • Rabu 17 Oktober 2018 : Rilis data inflasi Inggris, Rilis data cadangan minyak AS dan Laporan meeting The Fed
  • Kamis 18 Oktober 2018 : Rilis data pekerjaan Australia, Rilis data perdagangan Jepang dan Pernyataan Ketua Bank Sentral Jepang (BOJ) Kuroda, Rilis data penjualan ritel Inggris, EU Economic Summit
  • Jumat 19 Oktober 2018 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data GDP China, Pernyataan Ketua BOJ Kuroda, Pernyataan Gubernur Bank Sentral Inggris (BOE) Carney

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pergerakan IHSG awal pekan besok akan dipengaruhi oleh rilis data neraca perdagangan September 2018. Data ini akan mempengaruhi nilai tukar rupiah dan juga IHSG. Sehingga apabila datanya memburuk akan menyebabkan investor cenderung menahan diri untuk melakukan pembelian. Terlebih lagi masih banyak ketidakpastian dan sentimen negatif dari kondisi global. Selama Fed rate masih cenderung naik, serta AS dengan China belum mencapai kesepakatan perjanjian perdagangan, maka bursa saham dunia masih sangat rentan dan volatile. Disamping itu secara teknikal, IHSG masih downtrend dalam jangka pendek dan berpotensi melemah lagi apabila gagal breakout level resistance 5.850

Untuk itu tetap disarankan untuk safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Terus cermati arah perkembangan pasar. Hati-hati apabila pasar mengalami ketidakpastian dan kondisi market kembali tidak kondusif. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *