Antisipasi Pertemuan Trump-Xi Jinping, IHSG Diperkirakan Akan Berkonsolidasi

Bursa Wall Street melemah usai libur merayakan Thanksgiving day. Pelemahan ini didorong sektor saham energi yang dipicu oleh penurunan harga minyak AS, yang anjlok -7,71% ke level US$ 50,42/barel, karena kekhawatiran pasar akan berlimpahnya pasokan  yang tidak diimbangi dengan permintaan ke depan. Selain saham energi, penurunan saham Apple dan Amazon juga menyeret sektor internet dan teknologi. Dow Jones turun 178,74 poin (-0,73%) ke level 24.285,95. S&P 500 kehilangan 17,37 poin (-0,66%) menjadi 2.632,56 dan Nasdaq melemah 33,27 poin (-0,48%) menjadi 6.938,98. Selama sepekan, ketiga indeks saham utama acuan AS turun lebih dari 3%, terbebani oleh penurunan saham sektor teknologi serta sektor pertambangan dan energi. Dalam sepekan, Dow Jones turun -4,44%, S&P 500 melemah -3,79%, dan Nasdaq anjlok -4,26%.

Dari dalam negeri, pada perdagangan akhir pekan IHSG berhasil menguat 15,39 poin (+0,26%) ke posisi 6.006,20, meskipun investor asing membukukan net sell sebesar Rp. 137 miliar di pasar regular. Sepanjang pekan lalu, IHSG bergerak volatile dan cenderung berakhir flat dengan hanya melemah tipis -0,1%. Sementara investor asing membukukan net buy sekitar Rp. 70 miliar di pasar reguler dalam sepekan.

Sepanjang pekan lalu, hampir sebagian besar bursa saham utama dunia tertekan oleh penurunan harga minyak dunia yang diikuti oleh pelemahan harga-harga komoditas utama lainnya. Harga minyak merosot ke level terendah sejak 2017 yang didorong oleh meningkatnya persediaan minyak dan prospek ekonomi global yang suram. Sepanjang pekan lalu harga minyak dunia anjlok tajam, turun melebihi 10%. Bahkan dalam sebulan terakhir, harga minyak sudah merosot hampir sebesar 30%, karena kekhawatiran ekonomi global melambat membuat permintaan energi berkurang. Pasar minyak pada beberapa bulan belakangan terseret sentimen perang dagang antara AS dan China, yang merupakan 2 negara dengan perekonomian dan konsumsi minyak terbesar dunia.

Penurunan harga minyak dunia turut membebani IHSG. Pelemahan IHSG pada pekan lalu, dipimpin oleh sektor saham pertambangan yang merosot -7%. Namun walaupun melemah, IHSG masih dapat bertahan di atas level psikologis 6.000, karena ditopang  oleh penguatan sektor saham properti yang mendapat sentimen positif dari kebijakan pemerintah yang berencana mengurangi pajak properti. Rencananya PPh 22 untuk penjualan properti lebih dari Rp 5 miliar akan dipangkas menjadi 1% dari 5%. Selain itu, Kementerian Keuangan juga berencana meningkatkan nilai batas bawah untuk pajak pertambahan nilai (PPnBM) 20% dari nilai properti Rp 20 miliar menjadi Rp 30 miliar.

Technically, IHSG masih berkonsolidasi  dan berada di fase uptrend dalam jangka pendek. Posisi IHSG terlihat masih relatif sama dengan penutupan minggu sebelumnya. IHSG masih mampu bertahan di atas down trend resistance line jangka pendeknya yang telah berhasil ditembus. Kondisi ini memperlihatkan bahwa secara teknikal IHSG terlihat masih kondusif. Indikator teknikal MACD masih bergerak naik di atas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung bergerak positif dalam jangka pendek.

Walaupun menunjukkan peluang bahwa IHSG masih cenderung bergerak positif, namun kenaikannya mulai tertahan. Diperkirakan IHSG akan bergerak di rentang kisaran support 5.869 hingga resistance di level 6.058 pada pekan ini. Apabila dapat melewati resistance 6.058 maka IHSG akan menguji area resistance konsolidasi jangka menengahnya dikisaran 6.116. Dan jika  nantinya IHSG dapat menerobos ke atas resistance tersebut, maka indeks akan mengakhiri konsolidasi yang terbentuk sejak awal Juni lalu dan kembali memasuki fase bullish, dengan target swing menuju kisaran 6.350 dan minor target di area gap 6.220-6.225.

Sentimen penggerak IHSG pekan ini akan dipengaruhi oleh pertemuan Presiden Donald Trump dan Xi Jinping  di sela-sela KTT G20 di Argentina pada akhir pekan, untuk membicarakan hubungan dagang kedua negara yang memanas akhir-akhir ini. Selain itu pelaku pasar juga mencermati laporan meeting The Fed pada tengah pekan yang akan menjadi petunjuk arah kenaikan suku bunga acuan AS pada bulan depan. Berikut adalah kejadian dan agenda ekonomi penting luar negeri yang akan menjadi perhatian investor dalam minggu ini:

  • Senin 26 November 2018 : Pertemuan dewan petinggi Eropa terkait Brexit, Pernyataan Gubernur RBA Lowe, Pernyataan Presiden ECB Mario Draghi, Pernyataan Gubernur BOE Carney
  • Selasa 27 November 2018 : Rilis data keyakinan konsumen AS
  • Rabu 28 November 2018 : Rilis hasil stress test bank Eropa, Rilis data perkiraan GDP AS kuartal ketiga, penjualan rumah baru dan data persedian minyak AS, Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell.
  • Kamis 29 November 2018 : Rilis data modal swasta Australia, Pertemuan G-20, Pernyataan Ketua ECB Draghi, Rilis data pendapatan dan pengeluaran pribadi AS, Pertemuan The Fed
  • Jum’at 30 November 2018 : Rilis data manufaktur China

Sementara dari dalam negeri, tidak ada data ekonomi domestik penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar. Namun keputusan BEI yang akan memberlakukan penghitungan atau metodologi pembobotan indeks harga saham (LQ45 dan IDX30) yang baru, terhitung dimulai sejak 1 Februari 2019 dan dilakukan secara bertahap hingga 1 Agustus 2019, akan menjadi sentimen yang dapat mempengaruhi gerak IHSG di awal pekan besok. Selain itu cermati terus pergerakan harga minyak dunia dan harga komoditas utama lainnya yang masih turun serta stabilitas nilai tukar rupiah, karena akan menentukan laju pergerakan IHSG pada pekan ini.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Walaupun IHSG masih cenderung bergerak uptrend dalam jangka pendek, tapi tetap disarankan untuk safe trading. Selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat, karena market bisa berubah sewaktu-waktu terutama jelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk mengakhiri perang dagang antar kedua negara. Cermati terus arah perkembangan pasar. Hati-hati apabila pasar kembali mengalami ketidakpastian dan kondisi market menjadi tidak kondusif. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *