Jelang Meeting The Fed dan BI, IHSG Akan Kembali Berkonsolidasi

Bursa Wall Street turun tajam pada akhir pekan, seiring rilis data ekonomi yang lemah dari China dan Eropa, sehingga dikhawatirkan akan memicu perlambatan ekonomi global. China melaporkan penjualan ritel bulanan tumbuh pada tingkat paling lambat sejak 2003 dan angka output industri bulan November yang menurun, setelah data ekonomi mengecewakan dirilis dari zona euro. Pasar juga terbebani oleh longsornya saham Johnson & Johnson yang turun 10%, setelah Reuters melaporkan perusahaan itu mengetahui selama beberapa dekade bahwa bedak bayi yang diproduksinya mengandung asbes. Dow Jones merosot 496,87 poin (-2,02%) keposisi 24.100,51, S&P 500 tergelincir 50,59 poin (-1,91%) ke level 2.599,95 dan Nasdaq terpangkas 159,67 poin (-2,26%) menjadi 6.910,67. Sepanjang pekan, bursa saham AS tertekan oleh kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan ancaman potensi terjadinya resiko resesi AS. Dalam sepekan, indeks Dow Jones melemah -1,18%, S&P 500 susut -1,26% dan Nasdaq tergelincir -0,84%.

Dari dalam negeri, IHSG melemah 7,87 poin (-0,13%) ke posisi 6.169,84 pada penutupan perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell dengan menjual saham seniai Rp 49 miliar di pasar regular. Sementara itu dalam sepekan, IHSG masih berhasil menguat +0,71%, meskipun investor asing tercatat melakukan netsell sebesar Rp 1,68 triliun di pasar reguer sepanjang pekan lalu.

IHSG masih mampu melanjutkan penguatan pada perdagangan saham selama sepekan kemaren, ditengah sentimen negatif dari ancaman resesi AS dan perlambatan ekonomi global. IHSG masih dapat bertahan ketika pasar masih dipengaruhi oleh isu-isu yang ada, mulai dari kenaikan suku bunga The Fed, imbal hasi surat hutang AS yang membentuk pola inverted yield curve, pembicaraan perdagangan China-AS dan juga ketidakpastian mengenai Brexit, serta kebijakan moneter Eropa yang akan menghentikan stimulus berupa program pembelian  obligasi mulai akhir tahun ini. Selain itu nilai tukar rupiah yang kembali melemah dan berlanjutnya aksi jual investor asing, turut membebani langkah pergerakan IHSG.

Ditengah bursa saham dunia yang kembali dipenuhi oleh ketidakpastian, IHSG masih mampu bertahan dan bahkan melanjutkan penguatannya. Secara teknikal IHSG terlihat nyaman setelah berhasil melewati keatas garis MA 200-nya, dan terlihat masih bergerak di fase uptrend dalam jangka pendek. Indikator teknikal MACD masih bergerak naik di atas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung bergerak positif. Selama masih mampu bertahan diatas level 6.117, IHSG terlihat masih kondusif dan cenderung bergerak menguat di dalam uptrend channel jangka pendeknya. Untuk pekan ini, IHSG diperkirakan akan bergerak dilevel support 6.065 dan resistance berada di area gap 6.220-6.225. Apabila kenaikan berlanjut dan mampu melewati gap 6.225, maka terbuka peluang bagi IHSG untuk terus bergerak menguat menuju target di level 6.360.

Sementara itu pelemahan IHSG di akhir pekan kemaren, diperkirakan akan kembali berlanjut pada awal pekan ini. Penurunan tajam yang dialami oleh bursa saham Wall Street pada akhir pekan kemaren, akan memberi efek psikologis negatif bagi IHSG pada saat opening market besok. Diperkirakan IHSG awal pekan ini akan kembali bergerak turun menguji area gap bawah dikisaran 6.118-6.139 sebagai level supportnya. Sedangkan untuk resistance IHSG besok diperkirakan akan berada dilevel 6.186.

Disisi lain, pergerakan IHSG besok juga akan dipengaruhi oleh riis data neraca perdagangan Indonesia bulan November yang diperkirakan masih akan mengalami defisit sekitar USD 790-830 juta menurut konsensus. Selain itu perhatian pelaku pasar pekan ini juga masih tertuju pada Rapat Dewan Gubernur BI pada hari kamis yang diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya. Sementara dari luar negeri, perhatian pelaku pasar dunia akan tertuju pada keputusan suku bunga Fed pada FOMC tanggal 18-19 Desember 2018. Berikut data dan agenda ekonomi dunia penting yang akan menjadi perhatian para pelaku pasar pada pekan ini:

  • Selasa 18 Desember 2018: Pertemuan Bank Sentral Australia
  • Rabu 19 Desember 2018 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data inflasi Inggris, Kebijakan Suku bunga The Fed, proyeksi ekonomi AS dan konferensi pers oleh The Fed
  • Kamis 20 Desember 2018 : Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran Australia, Kebijakan suku bunga Jepang, Rilis data ritel Inggris dan kebijakan moneter bank sentral Inggris
  • Jum’at 21 Desember 2018 : Rilis data inflasi Jepang, rilis data current account Inggris, Rilis data durable goods orders dan GDP AS

The Fed diprediksi akan menaikkan suku bunga pada meeting tengah pekan ini menjadi 2,5%. Sementara itu selang sehari dari meeting The Fed, BI diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuannya di angka 6%. Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini.

Walaupun IHSG masih berada di fase uptrend, tapi kemungkinan minggu ini IHSG akan bergerak berkonsolidasi cenderung melemah, terutama di awal hingga pertengahan pekan. Investor kemungkinan masih akan menunggu rilis data neraca perdagangan dan keputusan suku bunga The Fed pada minggu ini. Selain itu situasi bursa saham global yang masih kurang kondusif, akan mendukung terjadinya aksi profit taking apabila rilis data neraca perdagangan kembali mencatatkan defisit yang melebar.

Untuk itu tetap disarankan berhati-hati dan safe trading. Waspada terhadap aksi profit taking jangka pendek yang kemungkinan bisa terjadi di awal pekan. Selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Cermati terus arah perkembangan pasar. Hati-hati apabila pasar kembali mengalami ketidakpastian dan kondisi market menjadi tidak kondusif. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *