Kecemasan Potensi Resesi AS, Membatasi Penguatan IHSG

Bursa  wall street melemah tajam pada perdagangan akhir pekan, dengan ke-3 indeks saham utama AS mengalami penurunan terbesar dalam sehari sejak 3 Januari lalu. Hal ini didorong oleh turunnya data manufaktur dari AS, Eropa dan Jepang yang memicu kekhawatiran penurunan ekonomi global, sehingga mendorong imbal hasil surat berharga AS mengalami inverse curve yield, dengan imbal hasil bertenor 3 bulan melebihi 10 tahun untuk pertama kalinya sejak 2007. Data ini mengindikasikan risiko jangka pendek, dan dilihat oleh pelaku pasar sebagai pertanda dari potensi terjadinya resesi di AS. Dow Jones melemah 460,19 poin(-1,77%) ke posisi 25.502,32, S&P 500 turun 54,17 poin (-1,9%) ke level 2.800,71 dan Nasdaq anjlok 196,29 poin (-2,5%) menjadi 7.642,67. Selama sepekan, burasa saham utama AS cenderung tertekan, dengan Dow Jones mengalami penuruanan -1,34%, S&P 500 melemah -0,77% dan Nasdaq berkurang -0,6%.

Sementara dari dalam negeri,  IHSG  berhasil menguat 23,49 poin (+0,36%) ke posisi 6.525,27 pada akhir pekan. Investor asing tercatat membukukan net buy dengan membeli saham senilai Rp 442 miliar di pasar regular. Dalam sepekan, IHSG mampu menguat +0,99% ditopang oleh inflow aliran modal asing, karena investor asing beli saham senilai Rp 1,8 triliun di pasar regular. Sejak awal tahun atau year to date, IHSG berhasil naik +5,34%.

Laju IHSG mampu menguat selama sepekan, didorong oleh sikap “dovish” The Fed yang memberikan sinyal tak akan menaikkan suku bunga sepanjang tahun 2019 ini. The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan, seiring ekonomi AS melambat lebih dari yang diperkirakan sebelumnya dan menggambarkan ekonomi jauh lebih lemah dari pada yang disampaikan oleh pemerintah AS. Untuk tahun ini,  The Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan tumbuh 2,1%, atau turun dari perkiraan bulan Desember lalu sebesar 2,3%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi 2020, diperkirakan hanya tumbuh 1,9%.

Langkah The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan diikuti oleh BI yang juga memutuskan mempertahankan suku bunga di level 6% selama 4 bulan berturut-turut.  Selain itu, BI juga merilis sejumlah langkah untuk meningkatkan ekonomi domestik dan memprediksi neraca pembayaran Indonesia akan mengalami surplus di kuartal-I tahun ini. Kebijakan dari kedua Bank Sentral tersebut membuat rupiah dan IHSG membukukan penguatan dua pekan berturut-turut.

Secara teknikal, IHSG berhasil menguat dalam 3 hari terakhir secara beruntun, dan saat ini sedang menguji area down trend channel area konsolidasi jangka pendeknya. IHSG terlihat berada sedikit di batas atas channel turunnya setelah menembus level 6.522. Technically dari weekly chart di bawah ini, IHSG terlihat mencoba mengakhiri konsolidasi pola bullish flag patternnya dengan bergerak naik. Indikator teknikal MACD slips dan cenderung bergerak mendatar, masih di area positif (diatas centreline). Dari kondisi teknikal ini, mengindikasaikan bahwa IHSG berusaha lepas dari fase konsolidasi jangka pendeknya.

Weekly chart IHSG berpeluang membentuk pola bullish flag pattern

Apabila IHSG mampu menembus keatas level 6.581, maka indeks akan mengkonfirmasi terbentuknya pola bullish flag pattern, sehingga  terbuka peluang bagi IHSG untuk menuju level tertinggi sepanjang sejarah yang pernah di capai pada bulan februari tahun lalu di level 6.693. Namun sepertinya kenaikan IHSG harus tertunda untuk sementara waktu karena sentimen negatif dari bursa global. Pada akhir pekan lalu, mayoritas bursa saham AS dan Eropa turun tajam, sehingga berpotensi membuat IHSG terkoreksi di awal pekan besok. Diperkirakan koreksi yang dialami oleh IHSG tidak akan terlalu tajam, mengingat fundamental makro ekonomi Indonesia masih cukup baik dan rupiah masih bergerak stabil dengan kecenderungan menguat seiring sikap “dovish” dari The Fed, serta dukungan dari inflow net buy asing sepanjang tahun berjalan. Disisi lain sentimen dari pemilu yang kurang dari sebulan juga turut akan menjadi penopang bagi IHSG, mengingat berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, saat periode Pilpres pada 4 pemilu terakhir IHSG selalu mencatatkan kinerja yang positif.

Untuk pekan ini tidak ada data ekonomi penting nasional yang ditunggu. Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada sisa rilis kinerja laporan keuagan emiten tahun 2018 yang belum terbit, mengingat tanggal 31 Maret adalah batas akhir pelaporan tahun buku 2018 emiten. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Selasa 26 Maret 2019 : Rilis data keyakinan konsumen AS
  • Rabu 27 Maret 2019 : Pernyataan Ketua ECB Draghi, Rilis data perdagangan AS
  • Kamis 28 Maret 2019 : Rilis data GDP AS
  • Jum’at 29 Maret 2019 : Rilis data keyakinan konsumen, GDP dan current account Inggris, Rilis data pendapatan dan pengeluaran pribadi AS.
  • Sabtu 30 Maret 2019 : Brexit Vote Parlemen Inggris

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG mencoba lepas dari fase konsolidasi dalam jangka pendek, namun dibayang-bayangi oleh koreksi bursa global seiring kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan adanya kecemasan AS bakal masuk resesi setelah imbal hasil surat utang AS membentuk inversi. Untuk hari senin awal pekan besok, IHSG diperkirakan akan bergerak di rentang kisaran support 6.463 dan resistance di level 6.552.

Disarankan tetap safe trading dan selalu waspada, serta berhati-hati  apabila pasar kembali mengalami ketidakpastian dan kondisi market global menjadi tidak kondusif. Terus cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium.  Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*