Koreksi IHSG Tertahan Di MA 200, Berpeluang Rebound Sementara

Bursa Wall Street pada akhir pekan berhasil rebound dan ditutup menguat, terhenti dari penurunan beruntunnya selama 4 hari, setelah Presiden AS Donald Trump dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan pembicaraan perdagangan antara AS dan Cina berakhir konstruktif. Dow Jones naik 114,01 poin (+0,44%) menjadi 25.942,37, S&P 500 menguat 10,68 poin (+0,37%) menjadi 2,881,4 dan Nasdaq bertambah 6,35 poin (+0,08%) menjadi 7.916,94. Dalam sepekan, bursa saham AS mengalami penurunan akibat meningkatnya eskalasi perang dagang AS-China sehingga membuat Dow Jones turun -2,12%, S&P 500 merosot -2,18% dan Nasdaq ambles -3,03%.

Dari dalam negeri, IHSG berhasil menguat 10,314 poin (+0,17%) ke posisi 6.209,118 pada akhir pekan. Investor asing tercatat membukukan net sell dengan menjual saham senilai Rp 859 miliar di pasar regular. Meski berhasil menguat di akhir pekan, namun IHSG tercatat menurun -1,75% sepanjang pekan, dengan diikuti oleh aksi jual investor asing sebesar Rp 3,85 triliun.

Sejumlah sentimen membayangi IHSG baik dari ekternal maupun internal. Dari eksternal, drama negosiasi dagang AS-China sukses membuat market global bergejolak dan bergerak turun sepanjang pekan lalu. Meningkatnya ketegangan dagang AS-China dipicu oleh prenyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menaikkan tarif impor atas barang-barang China senilai US$200 miliar dari 10% menjadi 25%. Trump juga melayangkan kemungkinan  akan mengenakan tarif 25% atas barang-barang asal China senilai $ 325 miliar. China pun segera menyatakan akan membalas meski belum menentukan.

Sementara sentimen dari internal, datang dari rilis data ekonomi Indonesia pada kuartal I 2019. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2019 tumbuh di angka 5,07%, melambat dari perkiraan pasar sekitar 5,18%. Disisi lain, rilis data neraca transaksi berjalan pada kuartal I 2019 tercatat kembali mengalami defisit mencapai USD 6,9 miliar atau 2,6% terhadap PDB. Data ini turut menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu.

Secara teknikal, IHSG memperpanjang penurunannya menjadi 3 pekan berturut-turut. IHSG sempat anjlok hingga mencapai level 6.149, namun akhirnya mampu mengikis pelemahan dan ditutup di level 6.209 pada akhir pekan kemaren. Dengan demikian sejak awal tahun atau secara year to date, kenaikan IHSG hanya menyisakan +0,24% dari posisi akhir tahun lalu di level 6.194.

Technically, IHSG saat ini telah berada di fase downtrend dalam jangka pendek. Penurunan IHSG sementara ini tertahan oleh garis MA 200. IHSG berhasil tebound setelah menyentuh area support kuatnya dikisaran level 6117-6150. Jika mampu bertahan, terbuka peluang bagi IHSG mengalami teknikal rebound, dengan target rebound terdekat dikisaran 6310-6337. Indikator teknikal MACD yang masih bergerak turun dibawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih bergerak dalam tren negatif. Namun terbentuknya pola candle bullish pin bar pattern di area kisaran support, membuka peluang terjadinya rebound pada IHSG di awal pekan.

Untuk pekan ini, pelaku pasar tengah menunggu data ekspor-impor dan neraca perdagangan bulan April pada hari rabu yang diperkirakan akan kembali mengalami defisit perdagangan. Sementara pada hari kamis, investor akan mencermati Rapat Dewan Gubernur BI dalam memutuskan suku bunga acuan yang diperkirakan akan tetap dipertahankan. Sedangkan dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Selasa 14 Mei 2019 : Rilis data keyakinan bisnis Australia, Rilis data pendapatan Inggris
  • Rabu 15 Mei 2019 : Rilis data keyakinan konsumen dan pendapatan Australia, Rilis data GDP zona eropa, Rilis data penjualan ritel AS
  • Kamis 16 Mei 2019 : Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran Australia
  • Sabtu 18 Mei 2019: Pemilu Australia

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Setelah anjlok cukup dalam pada 3 minggu terakhir, IHSG di minggu ini kemungkinan akan mengalami teknikal rebound karena kondisinya telah mengalami oversold. Namun rebound yang terjadi kemungkinan masih akan terbatas, mengingat belum ada sentimen positif yang dapat menggerakan pasar.

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu waspada, serta hati-hati mengingat kondisi pasar masih dalam ketidakpastian dan market global masih kurang kondusif. Terus cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*