IHSG Berkonsolidasi Dalam Posisi Wait & See

Bursa Wall Street ditutup melemah pada akhir pekan, dipicu oleh rilis data pekerjaan dan laporan gaji AS yang secara tak terduga membaik dan lebih kuat dari perkiraan, sehingga mengurangi harapan pasar akan kebijakan moneter The Fed yang lebih longgar. Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan non-farm payrolls naik 224.000 pekerjaan pada Juni, terbesar dalam 5 bulan, dan diatas ekspektasi sebesar 160.000 pekerjaan. Hal ini mengurangi ekspektasi akan penurunan suku bunga sebesar 50 bps oleh bank sentral AS pada pertemuan kebijakan tanggal 30-31 Juli, meski kepercayaan tetap tinggi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunganya sebesar 25 bps. Dow Jones turun 43,88 poin (-0,16%) menjadi 26.922,12, S&P 500 kehilangan 5,41 poin (-0,18%) menjadi 2.990,41 dan Nasdaq melemah 8,44 poin (-0,1%) menjadi 8.161,79. Namun selama sepekan terakhir, kinerja Wall Street masih mampu membukukan penguatan dengan Dow Jones mengalami kenaikan sebesar +1,21%, S&P 500 menguat +1,65% dan Nasdaq meningkat +1,94%.

Sementara dari dalam negeri, laju IHSG pada akhir pekan ditutup terkoreksi tipis 2,48 poin (-0,04%) ke level 6.373,47. Investor asing menjual saham dengan membukukan net sell sebesar Rp 168 miliar di pasar regular. Dalam sepekan terakhir, IHSG berhasil menguat +0,23% dengan diikuti aksi beli bersih saham oleh investor asing (nett foreign buy) di pasar reguler sebesar Rp 1,44 triliun.

IHSG terus melaju dan mencatatkan penguatan menjadi 6 pekan berturut-turut, meski pada tengah pekan lalu ada ancaman dari AS yang akan mengenakan tarif baru pada produk Uni Eropa senilai USD 4 miliar, sehingga meningkatkan ketegangan perang dagang antara AS-Uni Eropa. Penguatan IHSG pekan lalu didorong oleh sentimen positif pasar keuangan global seiring meredanya perang dagang antara AS dan China, serta potensi penurunan suku bunga acuan The Fed dan Bank Indonesia. Selain itu, stabilitas inflasi dan adanya peningkatan cadangan devisa per akhir Juni 2019 turut menjadi sentimen positif bagi IHSG.

Untuk pekan ini, pergerakan IHSG akan cenderung datar dan dibayang-bayangi oleh adanya potensi koreksi wajar, setelah IHSG terus bergerak naik dalam 6 pekan terakhir. Sepinya sentimen dan aksi tunggu pelaku pasar untuk melihat apakah akan benar-benar terjadi penurunan suku bunga AS dan Indonesia, serta penantian terhadap rilis kinerja laporan keuangan emiten 1H/2019 akan mempengaruhi laju pergerakan IHSG.

Secara teknikal, kondisi yang dialami oleh IHSG selama sepekan terakhir masih terlihat sama dan tidak mengalami banyak perubahan. Sepanjang pekan lalu, IHSG terlihat bergerak sempit di rentang kisaran area 6.334 sebagai level support dan level 6.395 sebagai area resistance. Untuk pekan ini, apabila IHSG dapat menembus (break out) dan melewati level 6.395 maka terbuka peluang indeks bakal  melanjutkan kenaikannya menuju 6.450. Sebaliknya jika IHSG gagal melanjutkan penguatannya dan malah bergerak turun (break down) dari level 6.334, maka indeks berpeluang turun menuju support area gap 6.257-6.269. Indikator teknikal MACD terlihat mulai melambat meski masih di area positif. Kondisi ini menunjukan bahwa IHSG masih berada di fase uptrend dalam jangka pendek, namun kekuatan naiknya terlihat mulai melambat. 

Minggu ini tidak data dan kejadian ekonomi nasional penting yang ditunggu oleh pelaku pasar. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Senin 8 Juli 2019 : Rilis data perdagangan Jerman
  • Selasa 9 Juli 2019 : Pernyataan ketua dan beberapa pejabat tinggi The Fed
  • Rabu 10 Juli 2019 : Rilis data inflasi China, Rilis data GDP dan produksi manufaktur Inggris, Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, Laporan Meeting The Fed
  • Kamis 11 Juli 2019 : Pertemuan Kebijakan Moneter ECB, Rilis data inflasi AS, Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell
  • Jum’at 12 Juli 2019 : Rilis data perdagangan China, Rilis data indeks produsen AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG kemungkinan akan bergerak bervariatif dan melanjutkan konsolidasinya. Dalam sepekan terakhir, IHSG terlihat mulai bergerak lamban dikisaran area terbatas. Kenaikan IHSG terlihat mulai berat dan seperti tidak ada kekuatan untuk melanjutkan penguatannya. Namun IHSG juga terlihat berat untuk turun, karena pasar masih berharap adanya pemangkasan suku bunga Fed dan BI rate di bulan ini. Selain itu pelaku pasar juga masih menunggu rilis kinerja laporan keuangan 1H/2019 yang akan banyak dirilis jelang akhir bulan ini.

Disarankan tetap safe trading dan selalu waspada, serta terus cermati arah perkembangan pasar. Untuk trader, selalu kontrol resiko, sesuai dengan trading plans yang telah dibuat dan tetap berhati-hati apabila kondisi pasar kembali menjadi tidak kondusif serta mengalami ketidakpastian lagi. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive, bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*