Setelah Mengambil Nafas, IHSG Bersiap Lanjutkan Penguatannya Lagi?

Bursa Wall Street ditutup menguat dan membukukan rekor tertinggi pada penutupan perdagangan akhir pekan, didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang terus mendorong aksi beli saham. Investor juga menunggu kickoff musim laporan pendapatan emiten di kuartal II 2019 yang akan di mulai minggu ini. Dow Jones naik 243,95 poin (+0,9%) menjadi 27.332,03, dan Nasdaq bertambah 48,10 poin (+0,59%) ke level 8.244,14. Sedangkan S&P 500 ditutup di atas level 3.000 untuk pertama kalinya, setelah berhasil menguat 13,86 poin (+ 0,46%) menjadi 3.013,77. Selama sepekan, ketiga indeks utama saham AS berhasil menguat karena terdorong oleh sinyal penurunan bunga AS yang membawa pasar ke posisi tertinggi baru. Dalam sepekan, Dow Jones membukukan penguatan +1,52%, S&P 500 naik +0,78% dan Nasdaq meningkat +1,01%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG pada akhir pekan kemaren ditutup melemah 43,721 poin (-0,68%) ke posisi 6.373,345. Namun meski bergerak turun, investor asing masih tercatat net buy dengan membeli saham senilai Rp 169 miliar di pasar regular. Selama sepekan, IHSG bergerak stagnan cenderung flat, atau hanya turun tipis 0,12 poin (-0,002%). Meski turun tipis, dalam seminggu investor asing tercatat masih membukukan aksi beli bersih sebesar Rp 1,45 triliun di pasar reguler.

Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir cenderung sideways. Padahal, banyak isu positif yang dapat mendorong IHSG untuk melanjutkan penguatannya. Namun karena sudah naik selama 6 pekan berturut-turut sebelumnya, maka kenaikan IHSG terhenti di minggu ke-7 untuk mengambil nafas sebelum melanjutkan kenaikannya lagi.

Sepanjang pekan lalu banyak isu positif yang seharusnya dapat menggerakan IHSG bergerak keatas. Diantaranya adalah sikap dovish dari The Fed yang mengirimkan sinyal kuat pemangkasan suku bunga AS dalam waktu dekat, serta dimulainya kembali pembicaraan negosiasi dagang antara AS-China untuk menyelesaikan sengketa dagang yang belum terselesaikan setelah sempat terhenti selama 2 bulan. Sedangkan dari dalam negeri, sentimen positif dari rilis data penjualan ritel Indonesia yang naik 7,7% dan rencana Presiden Jokowi menurunkan pajak perusahaan, gagal direspon positif oleh IHSG karena terjegal oleh aksi ambil untung yang dilakukan oleh investor domestik.

Namun untuk pekan ini, IHSG diyakini akan kembali melanjutkan penguatannya. Penguatan IHSG di awal pekan bakal didorong oleh pertemuan antara Jokowi dan Prabowo pada hari sabtu kemaren di Stasiun MRT Lebak Bulus, sehingga mengkondisikan demokrasi yang berjalan baik pasca selesainya pemilu 2019. Selain itu, pada awal pekan akan dirilis data ekpor-impor dan neraca dagang. Berdasarkan konsensus pasar, neraca perdagangan RI bulan Juni diprediksikan akan mengalami surplus sebesar US$ 516 juta. Suplusnya neraca dagang akan menjadi katalis positif bagi IHSG pada perdagangan awal pekan besok.

Sementara pada tengah pekan hari rabu dan kamis, pelaku pasar akan mencermati pertemuan BI terkait kebijakan suku bunga. Kami memperkirakan BI bakal memangkas suku bunga sebesar 25 bps mendahului The Fed yang juga akan memangkas suku bunga di pertemuan akhir bulan ini. Dari 19 ekonom yang di survey, 16 menyakini bahwa BI akan menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Repo Rate menjadi 5,75%. Sedangkan hanya 3 ekonom yang memperkirakan BI rate bakal tetap di level 6%.

Turunnya suku bunga akan berdampak positif bagi IHSG, terutama untuk saham-saham di sektor properti dan konstruksi, serta sektor automotive, bank dan consumer goods. Namun IHSG berpeluang kembali melemah dan terkena profit taking, jika pada akhir pertemuan tanggal 18 Juli nanti BI tidak berani mengambil langkah penurunan suku bunga.

Kondisi IHSG terlihat masih sama dengan pekan sebelumnya. Secara teknikal, IHSG saat ini sedang berkonsolidasi membentuk pola rising wedge. Dari pola tersebut, terlihat bahwa IHSG masih bergerak naik namun terbatas dan cenderung sideways. Indikator teknikal MACD terlihat bergerak mendatar di area positif, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung berkonsolidasi dalam trend penguatannya. Diperkirakan range pergerakan IHSG pada pekan ini akan berada dikisaran area support 6.324 hingga 6.503 sebagai level resistance-nya.

Untuk pekan ini, tidak banyak data dan kejadian ekonomi penting dari luar negeri. Berikut adalah data dan agenda ekonomi penting dalam minggu ini yang akan menjadi perhatian para investor:

  • Senin 15 Juli 2019 : Rilis data GDP China
  • Selasa 16 Juli 2019 : Pertemuan kebijakan moneter Bank Sentral Australia (RBA), Rilis data pekerjaan Inggris, Rilis penjualan ritel AS, Pernyataan Ketua The Fed Powell
  • Rabu 17 Juli 2019 : Rilis data inflasi Inggris
  • Kamis 18 Juli 2019 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran Australia
  • Jum’at 19 Juli 2019 : Rilis data inflasi Jepang

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Walaupun IHSG diperkirakan akan kembali bergerak menguat di awal perdagangan pekan ini karena terdorong oleh sentimen pertemuan antara Jokowi dan Prabowo, namun tetap perlu hati-hati. IHSG bisa saja terganjal oleh rilis data perdagangan bulan Juni, apabila datanya kembali mencatatkan defisit dalam jumlah besar. Selain itu, sentimen dari luar negeri utamanya rilis data GDP China dan rilis kinerja keuangan emiten di AS yang diperkirakan akan mengalami penurunan akibat perang dagang, juga dapat menjadi halangan bagi kenaikan IHSG.

Untuk itu tetap disarankan safe trading dan selalu waspada, serta terus cermati arah perkembangan pasar. Terutama bagi trader, selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat dan tetap berhati-hati apabila kondisi pasar kembali menjadi tidak kondusif serta mengalami ketidakpastian lagi. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive, bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek yang cerah jelang rilis kinerja keuangan 2Q/2019.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*