IHSG: Recent Rally Appears Overdone, What Next?

Bursa Wall Street kembali ditutup menguat pada akhir pekan. Bahkan indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali ditutup ke rekor tertinggi dalam sejarah, setelah perusahaan-perusahan teknologi melaporkan kinerja laba yang memuaskan di atas perkiraan. Selain itu, ada keyakinan kuat bahwa The Fed bakal memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan minggu depan, meski Departemen Perdagangan AS merilis data GDP AS tumbuh 2,1% pada kuartal kedua 2019 atau lebih tinggi dari perkiraan sebesar 1,8%, sehingga turut mendorong kinerja Wall Street. Dow Jones ditutup naik 51,47 poin (+0,19%) menjadi 27,192,45, S&P 500 menguat 22,19 poin (+0,74%) ke level 3.025,86 dan Nasdaq menanjak 91,67 poin (+1,11%) menjadi 8.330,21. Selama sepekan, ketiga indeks saham utama AS berhasil membukukan penguatan dengan Dow Jones menguat tipis +0,14%, S&P 500 naik +1,65%, dan Nasdaq meningkat +2,26%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup melemah 76,12 poin (-1,19%) ke level 6.325,23 pada perdagangan akhir pekan. Pelemahan IHSG didorong oleh net sell dari pemodal asing yang mencatatkan penjualan bersih di pasar reguler senilai Rp 1,34 triliun. Dalam sepekan IHSG anjlok hingga -2,03%, dengan disertai oleh keluarnya dana asing sebesar Rp 2,12 triliun di pasar reguler.

Tidak sesuai perkiraan pada pekan sebelumnya, IHSG gagal menuju level 6.500 dan malah bergerak turun hampir meninggalkan level 6.300. Sejumlah sentimen mempengaruhi pelemahan IHSG, diantaranya adalah risiko kredit dari ancaman gagal bayar Duniatex yang menghantui perbankan dan membuat saham-saham sektor keuangan jatuh pada pekan lalu. Selain itu, perubahan aturan 100% free float yang dipakai dalam perhitungan bobot saham yang tergabung dalam indeks terlikud LQ 45 yang mulai berlaku per 1 Agustus nanti, turut mempengaruhi kinerja IHSG. Namun menurut kami yang menyebabkan IHSG turun terparah di banding bursa saham kawasan regional, dengan disertai keluarnya dana asing dalam jumlah cukup besar pada pekan lalu adalah data GDP kuartal kedua 2019.

Berdasarkan Website tradingeconomics.com, Indonesia bakal merilis data GDP kuartal kedua 2019 pada awal bulan depan tanggal 5 Agusutus 2019. Perkiraannya data GDP 2Q/2019 akan turun menjadi 4,9%, dibandingkan kuartal pertama 2019 sebesar 5,07%. Jika datanya nanti yang dirilis benar, maka Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi di bawah level 5% untuk pertama kalinya, sejak terakhir kali pada kuartal empat tahun 2016 lalu.

Seperti diketahui sebelumnya pada kuartal pertama 2019, GDP Indonesia sudah mengamali penurunan dibanding kuartal 4 tahun 2018 yang angkanya di level 5,18%. Maka apabila data GDP kuartal kedua tahun ini turun lagi, itu artinya pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut. Berati Indonesia sudah mulai memasuki resesi. Karena dalam ilmu ekonomi makro, sebuah negara perekonomianmya bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut. Kemungkinan inilah yang diantisipasi oleh pemodal asing, sehingga mencatatkan net sell dalam 2 pekan terakhir, setelah sejak awal tahun ini aliran dana asing masuk dan membukukan net buy.

Secara teknikal IHSG berada di fase sideways dengan kecenderungan mulai turun dalam jangka pendek. Dari gambar weekly chart dibawah ini, terlihat bahwa IHSG gagal melanjutkan penguatannya menuju level psikologis 6.500 karena tertahan di level 6.468.

Pola long black candle yang terbentuk di puncak dalam weekly chart di atas, mengindikasikan pola bearish engulfing terjadi pada IHSG, sehingga menandakan terjadinya reversal pembalikan harga dari naik menjadi turun. Selain itu, dari indikator teknikal Stochastic dan MACD yang mulai death cross juga mengkonfirmasi terjadinya reversal, sehingga IHSG berpeluang melanjutkan pelemahannya menuju target dikisaran 6.200-6.117 dalam jangka menengah.

Untuk minggu ini, IHSG kemungkinan berpotensi akan mengalami konsolidasi setelah penurunan tajam yang terjadi pada pekan lalu. Diperkirakan IHSG akan bergerak dengan level support dikisaran area gap 6.257-6.269 dan resistance dikisaran 6.385-6.410 pada minggu ini. Pergerakan IHSG pekan ini akan dipengaruhi oleh sentimen keputusan suku bunga The Fed dan musim laporan keuangan emiten kuatal kedua 2019 yang akan banyak dirilis jelang akhir bulan Juli.

Minggu ini cukup banyak data dan kejadian ekonomi penting yang akan diperhatikan oleh pelaku pasar. Berikut adalah data dan agenda ekonomi penting dalam minggu ini:

  • Selasa 30 Juli 2019 : Kebijakan moneter dan suku bunga Jepang (BOJ), Rilis data pengeluaran dan pendapatan pribadi serta keyakinan konsumen AS
  • Rabu 31 Juli 2019 : Rilis data manufaktur China, Rilis data inflasi Australia, Rilis data GDP zona Eropa, Rilis data pekerjaan ADP Non Farm AS, Kebijakan Suku bunga The Fed
  • Kamis 1 Agustus 2019 : Rilis data manufaktur dan inflasi Indonesia, Rilis data Caixin manufaktur China, Rilis data Inflasi Inggris dan Kebijakan suku bunga Inggris (BOE), Rilis data manufaktur AS
  • Jum’at 2 Agustus 2019 : Rilis data penjualan ritel Australia, Rilis data perdagangan dan data pekerjaan AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Walau IHSG masih berada pada fase sideways dalam jangka pendek, namun indikator teknikal menunjukan bahwa indeks cenderung mulai bergerak turun. Selain itu,  terjadinya perubahan tren net buy Asing menjadi tren net sell juga perlu diwaspadai. Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu waspada. Hati-hati apabila kondisi pasar kembali mengalami ketidakpastian dan tidak kondusif lagi. Untuk trader, terus cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*