Berada Di Persimpangan, IHSG Memasuki Pekan Krusial

Bursa Wall Street kembali bergerak melemah di perdagangan akhir pekan, terdorong aksi jual yang dilakukan oleh investor karena ada kekhawatiran baru terhadap resesi global. Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan data non-farm payrolls bulan Juli sebanyak 164.000 orang, turun dibandingkan bulan lalu 224.000 dan tingkat pengangguran tetap di level 3,7%. Dow Jones ditutup turun 98,41 poin (-0,37%) ke level 26.485,01, S&P 500 melemah 21,51 poin (-0,73%) ke 2.932,05 dan Nasdaq merosot 107,05 poin (-1,32%) menjadi 8.004,07. Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan pelemahan selama 5 hari berturut-turut. Selama sepekan, ketiga indeks utama saham AS tertekan oleh aksi jual, karena nada hawkish Ketua The Fed, Jerome Powell terhadap arah kebijakan moneter AS hingga akhir tahun, dan cuitan Presiden AS Donald Trump yang  memunculkan potensi membesarnya perang dagang AS-China. Dalam sepekan, Dow Jones turun -2,6%, S&P 500 ambles -3,1%, dan Nasdaq terperosok -3,92%.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup melemah 41,36 poin (-0,65%) ke level 6.340,18 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell senilai Rp 489 miliar di pasar regular. Namun sepanjang pekan IHSG masih bisa menguat tipis +0,24%, di tengah aksi jual bersih investor asing yang membukukan net sell di pasar reguler sebesar Rp 1,38 Triliun.

IHSG berhasil menguat pada pekan lalu, ditengah tekanan jual akibat sentimen negatif global. Pasar saham utama dunia mengalami minggu terburuk di sepanjang tahun ini, tertekan oleh sikap The Fed yang mengindikasikan tidak akan agresif melakukan pemangkasan suku bunga acuannya di sisa tahun ini, setelah menurunkan fed rate sebesar 25 bps menjadi 2,00%-2,25% pada akhir pertemuan tengah pekan lalu. Kurang dari 24 jam setelah The Fed mengumumkan kebijakan moneternya, pelaku pasar dibuat cemas oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang kian memanaskan perang dagang dengan China. Trump mengatakan AS akan kembali menaikkan bea impor 10% terhadap produk China yang selama ini belum dikenakan tarif. Total nilai produk tersebut sebesar US$ 300 miliar dan mulai berlaku pada 1 September. Hal ini menyebarkan kecemasan mengenai dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global yang memunculkan kekhawatiran baru terhadap resesi dunia.

Untuk pekan ini, pasar masih akan berfokus pada potensi membesarnya perang dagang AS-China, akibat kebijakan Trump pekan lalu. Babak baru perang dagang bisa dimulai, setelah China melalui Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa Beijing bakal menerapkan serangan balasan jika AS jadi mengenakan bea masuk baru. Dengan peluang membesarnya perang dagang dan perekonomian global yang melemah, pelaku pasar kembali berspekulasi bahwa The Fed bakal memangkas suku bunga 2 kali lagi di sisa tahun ini.

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati data pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun ini yang akan di rilis pada awal pekan besok. Ada potensi GDP Q2/2019 bakal turun dibandingkan Q1 lalu yang angkanya di level 5,07%. Jika hal itu terjadi, maka secara teori Indonesia sudah mulai memasuki resesi, karena perekonomian sudah tumbuh negatif selama 2 kuartal berturut-turut. Seperti diketahui, sebelumnya GDP Q1/2019 sudah mengalami penurunan dibanding Q4/2018 sebesar 5,18%. Berdasarkan konsensus, GDP Q2/2019 akan berada dikisaran level 5%-5,05%. Namun hati-hati jika angkanya berada di bawah level 5%, karena akan memicu aksi jual lajutan yang dapat menekan IHSG bergerak turun. Selain data GDP Q2/2019, pelaku pasar juga tengah menanti rilis data cadangan devisa akhir Juli pada hari rabu, serta rilis data Current Account Deficit (CAD) kuartal kedua dan penjualan ritel pada hari kamis.

Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Senin 5 Agustus 2019 : Rilis data sektor jasa AS
  • Selasa 6 Agustus 2019 : Rilis data perdagangan dan suku bunga Australia
  • Kamis 8 Agustus 2019 : Rilis data perdagangan China
  • Jumat 9 Agustus 2019 : Pernyataan dan kebijakan moneter Bank Sentral Australia (RBA), Rilis data inflasi China, Rilis data manufaktur, GDP dan perdagangan Inggris

Yang akan menjadi fokus perhatian utama dari pelaku pasar minggu ini adalah rilis data nasional GDP dan CAD kuartal kedua tahun ini di awal dan tengah pekan. Secara teknikal, IHSG masih berada di fase sideways dengan kecenderungan bergerak melemah dalam jangka pendek. Dalam kondisi normal, range pergerakan IHSG pekan ini akan terkonsolidasi dikisaran 6.283 hingga 6.404. Apabila dapat menembus keatas batas atas 6.404, maka IHSG berpeluang naik menuju 6.468 lagi. Namun jika IHSG turun dan menembus batas bawah 6.283, maka indeks berpeluang memasuki fase downtrend dalam jangka pendek dengan target penurunan di level 6.190-6.200. Indikator teknikal MACD yang cenderung bergerak turun, mengindikasikan bahwa IHSG berpotensi melemah dalam jangka pendek.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Minggu ini akan menjadi pekan yang krusial bagi IHSG. Karena selain menunggu data ekonomi nasional penting, ekonomi global saat ini tengah memasuki ketidakpastian akibat memanasnya perang dagang AS-China kembali. Selain itu, pelemahan nilai tukar Rupiah dan terus keluarnya dana asing, menjadi sinyal untuk mulai berhati-hati dalam menerapkan strategi trading pada pekan ini. Waspadai jika IHSG jebol di bawah level 6.283, karena akan mengkonfirmasi pola lower low dan indeks akan memasuki fase downtrend dalam jangka pendek.

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu waspada serta berhati-hati apabila kondisi pasar kembali mengalami ketidakpastian dan tidak kondusif lagi. Untuk trader, terus cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*