Menunggu BI Rate, IHSG Diperkirakan Lanjut Menguat Terbatas

Bursa Wall Street rebound dan ditutup menguat di akhir pekan, didorong oleh berita positif potensi stimulus ekonomi Jerman. Kabar dari Jerman ini meningkatkan harapan bahwa negara dengan ekonomi terbesar di Eropa tersebut dapat menjauhkan diri dari resesi dan meredam kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global. Harapan stimulus Jerman membantu yield treasury AS 10 tahun naik kembali dari posisi terendah dan mendorong kenaikan  bursa saham AS. Dow Jones berhasil menguat 306,62 poin (+1,2%) menjadi 25.886,01, S&P 500 naik 41,09 poin (+1,44%) menjadi 2.888,69 dan Nasdaq bertambah 129,38 poin (+1,67%) menjadi 7,895.99. Meski berhasil menguat di akhir pekan, tapi ketiga indeks saham utama AS masih mencatat  penurunan mingguan ketiga berturut-turut, yang disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, perang dagang dan sinyal dari pasar obligasi yang memicu kekhawatiran akan terjadinya resesi. Sepanjang pekan lalu, Dow Jones turun -1,53%, S&P 500 melemah -1,03%, dan Nasdaq berkurang -0,79%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berhasil ditutup menguat 29,07 poin (+0,46%) ke level 6.286,65 pada akhir pekan. Investor asing masih menjual saham dengan mencatatkan net sell sebesar Rp 705 miliar di pasar regular. Dalam sepekan, IHSG berhasil menguat tipis +0,07%, meski dana asing masih terus keluar dari pasar saham Indoensia sebesar Rp 2,48 triliun di pasar regular.

Sama seperti pekan sebelumnya, pergerakan bursa saham utama dunia cukup fluktuatif pada pekan lalu. Faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar saham global sepanjang pekan lalu adalah ketidakstabilan geopolitik dan ekonomi dunia akibat dari perang dagang AS-China, serta munculnya sinyal resesi dari pasar obligasi AS. IHSG juga sempat terpapar oleh sentimen negatif tersebut di awal pekan. Namun jelang akhir pekan, IHSG berhasil rebound karena tertolong oleh rilis data neraca perdagangan bulan Juli 2019, yang membukukan defisit perdagangan hanya senilai US$ 60 juta, jauh lebih rendah dari ekspektasi dan konsensus market sebesar US$ 420 juta. Dengan defisit neraca dagang bulan Juli 2019 yang jauh lebih kecil dari ekspektasi, maka ada harapan bahwa CAD di kuartal ketiga 2019 nanti akan menyempit, sehingga menjadi sentimen positif yang mendorong rebound IHSG di akhir pekan kemaren.

Secara teknikal, pergerakan IHSG pekan lalu hampir sama dengan pekan sebelumnya. IHSG sempat jatuh ke level 6.161, sebelum akhirnya rebound dan ditutup di level 6.286 pada akhir pekan. IHSG terlihat masih berada di fase downtrend dalam jangka pendek, dengan kecenderungan berkonsolidasi dikisaran 6.161-6.319. Apabila dapat menembus ke atas 6.319, maka IHSG akan mengakhiri tren turun jangka pendeknya dan berpotensi menutup gap atas dikisaran 6.353-6.372, untuk menuju resistance selanjutnya di level 6.404. Indikator teknikal Stochastic bergerak naik, sedangkan MACD kembali golden cross di bawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih ada potensi rebound lanjutan.

Untuk minggu ini perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rapat dewan gubernur BI pada tanggal 21-22 Agustus 2019. Diperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya tetap berada di level 5,75%, setelah pada bulan lalu sudah menurunkannya sebesar 25 bps. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

  • Senin 19 Agustus 2019 : Rilis data inflasi zona euro
  • Selasa 20 Agustus 2019 : Kebijakan moneter Australia
  • Rabu 21 Agustus 2019 : Laporan meeting The Fed
  • Kamis 22 Agustus 2019 : Rilis data manufaktur Perancis, Rilis data manufaktur dan jasa Jerman
  • Jumat 23 Agustus 2019 : Rilis data inflasi Jepang, Pernyataan Ketua Fed Jerome Powell

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG di awal pekan ada potensi melanjutkan penguatan terbatas, didorong oleh rebound lanjutan dari bursa saham Wall Street pada akhir pekan lalu. Selain itu, meski BI rate diperkirakan akan tetap dan tidak berubah, tapi pasar berspekulasi turun karena melihat adanya potensi penurunan suku bunga The Fed kedepan, sehingga dapat mendorong IHSG bergerak positif hingga tengah pekan jelang RDG BI.

Meski IHSG memiliki potensi penguatan lanjutan, namun diperkirakan akan terbatas, karena mengingat pasar saham dunia masih kurang kondusif. Selain itu investor asing juga masih terus keluar dari pasar saham Indonesia dengan terus membukukan net sell. Tetap safe trading dan selalu waspada, serta berhati-hati apabila kondisi pasar kembali tidak kondusif dan terus mengalami ketidakpastian. Untuk trader, cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*