Memasuki Desember, IHSG Berhasil Rebound Dan Berpeluang Lanjutkan Kenaikannya

Bursa Wall Street melonjak pada perdagangan akhir pekan, didorong oleh pertumbuhan data lapangan pekerjaan AS yang lebih tinggi dari perkiraan, serta optimisme kesepakatan dagang antara AS dan China. Departemen Tenaga Kerja AS, melaporkan lapangan kerja di AS bertambah sebanyak 266.000 pada November, melampaui prediksi analis sebesar 187.000 dan merupakan penambahan terbesar dalam 10 bulan terakhir. Sedangkan tingkat pengangguran turun ke level 3,5%, yang merupakan level terendah sejak 1969. Sementara itu, penasihat Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan meski tanggal 15 Desember masih menjadi tanggal untuk penerapan tarif baru atas barang-barang China, namun kedua negara hampir menemui kata sepakat setelah melakukan pembicaraan yang konstruktif dan hampir berlangsung setiap hari. Dow Jones ditutup naik 337,27 poin (+1,22%) menjadi 28.015,06, S&P 500 menguat 28,48 poin (+0,91%) menjadi 3.145,91 dan Nasdaq bertambah 85,83 poin (+1%) menjadi 8.656,53. Meski naik pada akhir pekan, namun secara mingguan Dow Jones melemah -0,13% dan Nasdaq berkurang -0,1%, sedangkan S&P 500 berhasil menguat +0,16%.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup naik 34,751 poin (+0,56%) ke level 6.186,868 pada akhir pekan. Investor asing di pasar reguler mencatat net sell sebesar Rp 13 miliar. Dalam sepekan, IHSG berhasil menguat +2,91% meski investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp. 325 miliar di pasar reguler.

Setelah melemah dalam 5 minggu berturut-turut, IHSG akhirnya mampu bangkit memasuki pekan pertama bulan desember. Efek window dressing menghampiri IHSG, karena secara historis dalam 18 tahun terakhir tak sekalipun IHSG membukukan imbal hasil negatif secara bulanan pada bulan Desember. Penguatan IHSG pekan lalu ditopang oleh rilis angka inflasi bulan November sebesar 0,14% secara bulanan (mom), atau berada di angka 3% secara tahunan (yoy), menunjukan bahwa inflasi masih terkendali sehingga membuka ruang bagi BI untuk melanjutkan kebijakan moneter longgar kedepan. Selain itu sentimen dari pemerintah berupa insentif pajak penghasilan (tax allowance) untuk mendorong dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dinilai turut menjadi katalis positif tambahan

IHSG berhasil rebound cukup tajam pada minggu lalu. Secara teknikal, IHSG sudah breakout dari minor downtrend resistance line (garis turun warna hijau) di level 6.117, sehinga terbuka potensi untuk melanjutkan penguatannya. Untuk minggu ini, IHSG berpotensi menguji area downtrend resistance line selanjutnya di level 6.274. Sementara untuk support IHSG pekan ini berada di level 6.095. Indikator teknikal MACD telah golden cross dan mulai bergerak naik mendekati centerline, mengindikasikan bahwa IHSG mulai mengalami reversal atau pembalikan arah. Diharapkan MACD mampu cross up keatas centreline, sehingga IHSG makin mengkonfirmasi pola reboundnya.

Tidak ada data ekonomi penting domestik yang akan dirilis pada minggu ini. Sedangkan dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada pekan ini diantaranya adalah:

  • Senin 9 Desember 2019 : Rilis data GDP Jepang, Rilis data perdagangan Jerman
  • Selasa 10 Desember 2019 : Pernyataan Gubernur RBA Lowe, Rilis data inflasi China, Rilis data perdagangan dan GDP Inggris
  • Rabu 11 Desember 2019 : Rilis data inflasi AS, Proyeksi ekonomi AS dan Kebijakan suku bunga The Fed
  • Kamis 12 Desember 2019 : Rilis data inflasi Jerman, Pemilu Inggris, Kebijakan moneter dan Pernyataan ECB
  • Jum’at 13 Desember 2019 : Rilis data penjualan ritel AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG kemungkinan masih akan cenderung bergerak naik karena potensi penguatan masih ada, seiring pergerakan positif dari pasar saham dunia ditengah naik turunnya negosiasi perdagangan antara AS dan China. Namun jelang tenggat waktu kenaikan tarif baru terhadap produk China senilai total US$ 156 miliar pada tanggal 15 Desember, bisa saja membuat market global kembali tertekan apabila kesepakatan dagang fase pertama tidak segera ditandatangani oleh kedua negara.

Untuk itu tetap disarankan safe trading dan selalu waspada serta berhati-hati apabila kondisi pasar kembali menjadi tidak kondusif dan market mengalami ketidakpastian lagi. Terus cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko, sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive, bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*