Meski Berkonsolidasi, Namun Potensi Penguatan IHSG Masih Ada

Bursa  Wall Street kembali naik dan mencetak rekor tertinggi pada perdagangan akhir pekan, ditopang oleh menguatnya data perumahan AS dan sinyal ketahanan ekonomi China yang meningkatkan harapan rebound pada pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi China di periode tahun 2019 sebesar 6,1%, mengisyaratkan angka yang cukup kuat sekalipun PDB tersebut adalah yang paling rendah dalam 30 tahun terakhir. Sedangkan pembangunan perumahan di AS kembali melonjak ke level tertinggi dalam 13 tahun terakhir untuk periode Desember, menunjukkan pemulihan pasar perumahan kembali ke jalurnya di tengah rendahnya tingkat hipotek. Dow Jones ditutup naik 50,46 poin(+0,17%) ke 29.348,10, S&P 500 menguat 12,81 poin (+0,39%) ke level 3.329,62 dan Nasdaq bertambah 31.18 poin (+0,34%) ke posisi 9.388,94. Dalam sepekan Bursa Saham AS kembali menguat setelah AS dan China menandatangani kesepakatan perdagangan fase satu pada Rabu lalu. Untuk sepanjang minggu kemaren, Dow Jones berhasil menguat +1,82% dan S&P 500 meningkat +1,97% dan Nasdaq melonjak +2,29%.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat tipis 5,61 poin (+0,09%) ke level 6.291,657 pada akhir pekan. Investor asing mencatat pembelian bersih sebesar Rp 170 miliar di pasar reguler. Dan untuk sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil menguat +0,27%, dengan diikuti oleh net buy investor asing di pasar reguler senilai 712 miliar dalam sepekan.

Sesuai perkiraan pada pekan sebelumnya, IHSG berhasil rebound pada pekan lalu seiring dengan penguatan bursa saham utama global yang didorong oleh kesepakatan dagang tahap satu antara AS-China, serta meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah. Selain itu dari data domestik, IHSG juga mendapatkan sentimen positif dari rilis data neraca dagang bulan Desember 2019. Meski masih tercatat mengalami defisit perdagangan senilai US$ 28 juta, namun angka tersebut telah mengecil dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat defisit sebesar US$ 1,3 milyar dan jauh di bawah konsensus yang memproyeksikan bakal mengalami defisit hingga US$ 456 juta. Dengan hasil tersebut, maka untuk sepanjang tahun 2019 defisit neraca dagang Indonesia tercatat US$ 3,19 miliar atau turun dari tahun 2018 yang sebanyak US$ 8,69 miliar. Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar AS, sehingga turut menjadi katalis positif bagi IHSG pada pekan lalu.

Meski berhasil menguat sepanjang pekan lalu, namun secara teknikal IHSG masih mengalami konsolidasi dan cenderung bergerak datar. Dalam sepekan, IHSG relatif tidak banyak bergerak dan cenderung terlihat bergerak sideways dalam jangka pendek. Terlihat bahwa pergerakan IHSG masih relatif sama dan tidak banyak mengalami perubahan jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Sehingga untuk support IHSG pada pekan ini diperkirakan masih berada dikisaran 6.210-6.218. Sementara untuk resistance minggu ini diproyeksikan akan berada dikisaran 6.348-6.414. Indikator teknikal MACD yang bergerak mendatar diatas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung berkonsolidasi dalam tren pergerakan positif.

Untuk pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada pertemuan BI pada hari kamis yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan tetap atau tidak berubah. Pelaku pasar akan mencari petunjuk dalam pertemuan tersebut mengenai prospek BI rate kedepan. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada pekan ini diantaranya adalah:

  • Selasa 21 Januari 2020 : Kebijakan moneter BOJ, Rilis data pekerjaan Inggris
  • Rabu 22 Januari 2020 : Rilis data keyakinan konsumen Australia
  • Kamis 23 Januari 2020 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data pekerjaan Australia, Kebijakan moneter ECB
  • Jum’at 25 Januari 2020 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data manufaktur Jerman, Rilis data manufaktur Inggris, Pernyataan Presiden ECB Lagarde

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Meski masih mengalami konsolidasi dan cenderung bergerak sideways, namun IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya pada pekan ini. Berkurangnya ketidakpastian global seiring meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah dan telah ditandatangani kesepakatan dagang AS-China tahap satu, masih akan menjadi setimen positif yang mendorong pasar saham dunia. Namun reli kenaikan bisa saja terganjal oleh aksi profit taking, terutama apabila ada gejolak baru di market.

Untuk itu tetap disarankan safe trading dan selalu waspada, serta berhati-hati apabila kondisi pasar kembali menjadi tidak kondusif dan market mengalami ketidakpastian lagi. Selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*