Melanjutkan Konsolidasinya, IHSG Berada Dipersimpangan

Bursa Wall Street ditutup melemah akibat aksi jual investor yang meluas pada perdagangan akhir pekan. Para investor meninggalkan pasar saham di tengah kekhawatiran penyebaran wabah virus corona yang makin meluas, setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mengonfirmasi kasus kedua virus corona di Chicago, AS. Selain itu, WHO juga menilai bahwa kasus virus Cornona sudah dianggap keadaan darurat di China, karena telah menyebabkan 42 orang meninggal dunia dan telah menginfeksi lebih dari 1400 orang. Dow Jones ditutup turun 170,36 poin (-0,58%) menjadi 28.989,73, S&P 500 jatuh 30,07 poin (-0,90%) menjadi 3.295,47 dan Nasdaq melemah 87,57 poin (-0,93%) ke level 9.314,91. Dalam sepekan, ketiga indeks bursa saham utama AS berakhir melemah, dengan Dow Jones ditutup turun -1,22%, S&P 500 merosot -1,03% dan Nasdaq berkurang -0,79%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG melemah tipis 5,101 poin (-0,08%) ke level 6.244,11 pada perdagangan akhir pekan.  Investor asing membukukan net buy di pasar reguler senilai Rp 13 miliar. Dalam sepekan terakhir, IHSG terkoreksi sebesar -0,76%, dengan diikuti oleh aksi net sell investor asing senilai Rp 804 miliar di pasar reguler.

IHSG sepanjang perdagangan pekan lalu diwarnai dengan koreksi. Pergerakan IHSG sejalan dengan bursa saham utama kawasan regional dan global yang bergerak melemah, karena kecemasan pelaku pasar akibat virus corona yang menjangkiti China dan menyebar ke berbagai negara lain telah menebar teror ke market. Sementara dari dalam negeri, buntut kasus Jiwasraya dan Asabari serta industri reksadana yang membuat OJK selaku regulator pasar modal Indonesia melakukan suspensi saham dan pemblokiran terhadap 1000 sub rekening efek yang terkait dengan kasus Jiwasraya, serta pembubaran produk reksadana yang menawarkan fixed rate dengan melakukan likuidasi penjualan portfolio sahamnya, membuat likuiditas pasar semakin kering dan mengakibatkan transaksi perdagangan cenderung sepi.

Meski IHSG cenderung tertekan dan bergerak turun serta volume transaksi menipis, namun secara teknikal IHSG terlihat masih bergerak dalam fase konsolidasi jangka pendek dikisaran area trading 6.218 hingga 6.337. Terlihat bahwa support IHSG masih berada dikisaran 6.210-6.218, sedangkan resistance dikisaran 6.337-6.348. Penembusan keatas 6.348 akan membuka potensi penguatan menuju target dikisaran 6.468. Namun apabila turun ke bawah 6.210, maka IHSG akan mengkonfirmasi terbentuknya pola bearish double top dengan target pelemahan menuju 6.095. Indikator teknikal MACD yang cenderung bergerak turun diatas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih bergerak bervariatif cenderung berkonsolidasi.

Pekan ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang ditunggu oleh pelaku pasar. Investor mulai mencermati musim laporan keuangan akhir tahun 2019, dimana tiga bank besar yaitu BBNI, BBRI dan BMRI yang telah merilis laporan keuangannya pada pekan lalu dinilai cukup bagus. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada pekan ini diantaranya adalah:

  • Senin 27 Januari 2020 : Rilis data indeks iklim usaha Ifo Jerman
  • Selasa 28 Januari 2020 : Rilis data durable goods orders dan tingkat kepercayaan konsumen AS
  • Rabu 29 Januari 2020 : Rilis data inflasi Australia, Rilis data tingkat kepercayaan konsumen Jepang, Rilis data tingkat kepercayaan konsumen Gfk Jerman
  • Kamis 30 Januari 2020 : Kebijakan moneter suku bunga AS dan konferensi pers The Fed, Kebijakan moneter dan suku bunga Bank Sentral Inggris (BOE), Rilis data GDP AS
  • Jum’at 31 Januari 2020 : Rilis data tingkat kepercayaan konsumen Inggris, Rilis data manufaktur NBS China, Rilis data GDP zona eropa, Rilis laporan pengeluaran dan pendapatan pribadi AS

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG saat ini berada dipersimpangan. Sentimen positif yang diperkirakan mampu menggerakan IHSG adalah fundamental ekonomi yang masih cukup baik terlihat dari turunnya defisit perdagangan, inflasi yang terkontrol, penguatan nilai tukar rupiah, dan naiknya cadangan devisa, serta pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan masih cukup stabil diatas 5%. Selain itu katalis positif lainnya datang dari rilis laporan kinerja keuangan emiten FY 2019 yang diperkirakan masih cukup baik. Sementara sentimen negatif yang berpotensi untuk menekan IHSG adalah penyebaran  coronavirus, serta kasus megakorupsi Jiwasraya-Asabri dan pembubaran reksadana yang bermasalah oleh OJK. Cermati area support IHSG dikisaran 6.210-6.218. Apabila level 6.210 dijebol ke bawah, maka IHSG berpotensi turun lebih lanjut.

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu waspada, serta berhati-hati apabila kondisi pasar kembali menjadi tidak kondusif dan mengalami ketidakpastian lagi. Terus cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive, bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek yang cerah.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*