Meski Dalam Tekanan, IHSG Masih Cenderung Lanjutkan Konsolidasinya

Bursa Wall Street ditutup menguat pada akhir pekan, dipimpin oleh saham sektor teknologi seiring kenaikan saham Apple dan Microsoft. Selain itu, kabar bahwa sejumlah negara telah siap untuk mulai melakukan pelonggaran dari penguncian wilayah (lockdown) terkait berkurangnya penyebaran virus korona, serta naiknya harga minyak mentah berjangka AS sebesar +2,7% menjadi $ 16,94/barel di tengah harapan AS akan mengurangi produksinya untuk memperhitungkan menyusutnya permintaan dan kapasitas penyimpanan, turut menjadi katalis positif penguatan bursa saham AS. Dow Jones ditutup naik 260,01 poin (+1,11%) ke level 23.775,27, S&P 500 bertambah 38,94 poin (+1,39%) ke posisi 2.836,74 dan Nasdaq menguat 139,77 (+1,65%) di posisi 8.634,52. Meski berhasil menguat di akhir pekan, namun untuk sepanjang minggu lalu ketiga bursa saham utama AS berakhir turun. Dalam sepekan, Dow Jones melemah -1,93%, S&P 500 turun -1,32% dan Nasdaq berkurang -0,18%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berakhir melemah 97,49 poin (-2,12%) ke level 4.496,064 pada akhir pekan. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 1,09 triliun di pasar reguler. Sepanjang pekan lalu IHSG ambles turun -2,99%, dengan diikuti oleh keluarnya dana asing senilai Rp 2,59 triliun di pasar reguler.

Pada minggu lalu, IHSG bergejolak seiring berbagai sentimen negatif dan aksi jual investor asing. IHSG terpuruk setelah minyak mentah jenis WTI jatuh ke harga negatif untuk pertama kali dalam sejarah. Minyak WTI untuk kontrak pengiriman bulan Mei yang akan jatuh tempo, berakhir turun di bawah nol akibat saking banyaknya pasokan sementara kapasitas penyimpanan berada dalam kondisi penuh. Investor mulai cemas setelah melihat kerusakan ekonomi akibat karantina wilayah di berbagai negara untuk mengurangi penyebaran virus korona, telah membuat roda perekonomian dunia melambat bahkan nyaris terhenti. Kabar buruk lainnya datang dari obat Remdesivir yang diharapkan bisa menyembuhkan Covid-19, ternyata tidak cukup ampuh dalam mengatasi wabah virus korona.

Kekhawatiran terhadap dampak negatif Covid-19 bagi perekonomian nasional jelang rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I/2020 yang dijadwalkan akan keluar di pekan pertama bulan Mei, membuat investor mengambil sikap hati-hati dan tidak terlalu agresif dalam melakukan akumulasi beli, sehingga membuat IHSG kesulitan untuk menguat. Walau cenderung melemah, namun IHSG terlihat masih bergerak sideways. Secara teknikal IHSG masih melanjutkan pola konsolidasi jangka pendeknya. Untuk minggu ini, IHSG diperkirakan masih akan bergerak mendatar di area trading 4390 hingga 4700. Indikator teknikal MACD meski masih bergerak naik namun terlihat mulai melandai, sehingga kondisi ini mengindikasikan bahwa IHSG masih berada dalam pola sideways jangka pendek.

Pekan ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang ditunggu oleh pelaku pasar. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian investor di pekan ini antara lain :

  • Selasa 28 April 2020 : Kebijakan moneter dan Pernyataan BOJ Jepang, Rilis data keyakinan konsumen AS
  • Rabu 29 April 2020 : Rilis data inflasi Australia, Rilis data GDP AS, Kebijakan suku bunga dan pernyataan The Fed
  • Kamis 30 April 2020 : Rilis data manufaktur China, Rilis data GDP zona eropa, Kebijakan moneter dan pernyataan ECB, Rilis data klaim pengangguran AS
  • Jum’at 1 Mei 2020 : Rilis data manufaktur AS

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini.  Sentimen dari perkembangan penyebaran virus korona, serta penanganannya masih menjadi fokus perhatian pasar. Sementara kerusakan ekonomi akibat dampak dari lockdown beberapa wilayah negara di seluruh dunia yang berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi global, masih menjadi sentimen negatif bagi pasar. Di sisi lain, gelontoran berbagai stimulus dari para pembuat kebijakan dan bank sentral dari seluruh dunia, serta mulai adanya upaya pelonggaran aturan pembatasan sosial dan karantina wilayah, menjadi katalis positif yang mengimbangi buruknya data-data ekonomi yang akan dirilis.

Untuk itu tetap disarankan safe trading dan selalu hati-hati, terutama jika kondisi pasar masih tidak kondusif serta ketidakpastian terus berlanjut. Meski diperkirakan masih berkonsolidasi, namun tekanan jual dari investor asing masih membebani  IHSG. Tetap perhatikan level support 4390, selama tidak di breakdown maka IHSG masih cenderung aman. Hati-hati jika support tersebut ditembus ke bawah, maka IHSG akan condong kembali memasuki tren turun lagi. Untuk itu selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan kinerja keuangan yang kuat. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/