IHSG Sideways Cenderung Melemah, Jelang Libur Hari Raya Idul Fitri

Bursa Wall Street berhasil ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan, seiring dengan sentimen positif parlemen AS yang akan memutuskan paket stimulus terbaru senilai US$ 3 triliun, meski dibayangi oleh potensi terjadinya perang dagang AS dan China lagi, serta anjloknya penjualan ritel bulan April sebesar 16,4% yang merupakan penurunan terbesar sejak pemerintah mulai menghitung penjualan ritel pada tahun 1992. Selain itu, kenaikan bursa saham AS juga didorong oleh penguatan harga minyak dunia.  Dow Jones ditutup menguat 60,08 poin (+0,25%) menjadi 23.685,42, S&P 500 naik 11,2 poin (+0,39%) ke level 2.863,7 dan Nasdaq menambahkan 70,84 poin (+0,79%) menjadi 9.014,56. Namun demikian ketiga indeks saham utama AS masih mencatatkan penurunan secara mingguan, seiring beberapa faktor negatif antara lain sejumlah laporan ekonomi yang suram dan meningkatnya ketegangan antara Cina dan AS. Dalam sepekan, Dow Jones turun -2,65%, S&P 500 melemah -2,26% dan Nasdaq berkurang -1,17%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berakhir dengan pelemahan tipis, turun 6,227 poin (-0,14%) di akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 1,06 triliun di pasar reguler. Dalam sepekan, IHSG kembali melemah -1,95% dengan diikuti oleh keluarnya dana asing senilai Rp 4,05 triliun di pasar reguler.

Kekhawatiran akan munculnya gelombang kedua wabah korona seiring kebijakan re-open economy berupa pelonggaran lockdown di beberapa wilayah negara di eropa, asia dan AS, serta meningkatnya kembali ketegangan hubungan bilateral AS-China, membuat IHSG kembali tertekan pada pekan lalu. Kondisi ini diperparah dengan aksi jual bersih yang dilakukan oleh investor asing dalam jumlah besar pada saham sektor perbankan, seiring adanya potensi kenaikan NPL akibat pandemi Covid-19, sehingga memaksa IHSG bergerak turun. Pelaku pasar juga merespon negatif defisit neraca perdagangan Indonesia bulan April yang mencapai US$ 344,70 juta, sehingga turut menjadi faktor yang melemahkan IHSG pekan lalu.

Meski tertekan dan melemah, namun pergerakan IHSG masih melanjutkan fase konsolidasinya dengan bergerak sideways dalam jangka pendek. Pola pergerakan IHSG masih sama dengan pergerakan pekan sebelumnya, dengan bergerak dikisaran area trading 4.441 sebagai level support terdekat dan 4.747 sebagai level resistance-nya.  Walau terlihat masih bergerak dalam pola sideways, namun IHSG cenderung melemah setelah turun dibawah support pola symmetrical triangle jangka pendeknya. Indikator teknikal MACD terlihat bergerak mendatar cenderung mengalami death cross, sehingga mengindikasikan IHSG condong bergerak negatif. Saat ini IHSG mendekati support 4.441, yang apabila di breakdown akan membuat indeks bergerak melemah dan berpotensi menuju support selanjutnya di level 4.317 pada pekan ini. Namun apabila bertahan dan mampu rebound, maka IHSG berpeluang menguat lagi meski kemungkinan sifatnya terbatas.

Untuk pekan ini, investor menanti hasil keputusan suku bunga dari Bank Indonesia (BI) pada hari selasa. Diharapkan BI kembali memotong suku bunga acuan sebesar 25 bps guna menstimulus ekonomi yang melemah akibat terdampak wabah korona. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para pelaku pasar pada pekan ini antara lain :

  • Senin 18 Mei 2020 : Rilis data GDP Jepang
  • Selasa 19 Mei 2020 : Rilis data pekerjaan Inggris, Pernyataan Ketua The Fed Powell
  • Rabu 20 Mei 2020 : Rilis data inflasi Inggris dan Pernyataan Gubernur BOE Bailey
  • Kamis 21 Mei 2020 : Rilis data perdagangan Jepang, Pernyataan Gubernur RBA Lowe, Rilis data sektor jasa Inggris, Rilis data manufaktur dan klaim pengangguran AS, Pernyataan Ketua The Fed Powell
  • Jum’at 22 Mei 2020 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data penjualan ritel Inggris, Rilis data sektor jasa dan manufaktur zona eropa.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pergerakan IHSG pekan ini akan dibayang-bayangi oleh senitmen negatif dari kembali memanasnya hubungan dagang antara China dan AS, setelah Presiden AS Donald Trump berencana memblokir pengiriman semikonduktor ke perusahaan chip global asal China, Huawei Technologies. Sebagai balasannya, media yang dikelola oleh pemerintah China, Global Times menyatakan bahwa China akan membatasi atau menyelidiki perusahaan-perusahaan AS termasuk Qualcomm, Cisco Systems dan Apple, jika AS mengambil tindakan lebih lanjut untuk memblokir rantai pasokan Huawei . Selain itu terus berlanjutnya aksi jual investor asing juga masih akan membebani pergerakan IHSG pada pekan ini.

Untuk itu tetap disarankan safe trading. Selalu waspada dan berhati-hati terutama jika kondisi pasar kembali tidak kondusif dan ketidakpastian terus berlanjut. Cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan kondisi keuangan yang kuat. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/