Kenaikan IHSG Mulai Terasa Berat, Waspadai Pembalikan Arah

Bursa Wall Street ditutup bervariatif di akhir pekan, seiring sikap para pelaku pasar yang mempertimbangkan prospek stimulus fiskal yang lebih besar, guna mengatasi kekhawatiran gangguan terhadap dunia bisnis yang berkelanjutan akibat lonjakan kasus korona di AS. Investor mengharapkan akan ada lebih banyak dukungan fiskal, karena sebuah program yang menawarkan tunjangan pengangguran tambahan akan berakhir pada 31 Juli 2020. Kongres AS akan kembali ke Washington pada hari Senin untuk membahas RUU bantuan virus korona lainnya. Selain itu, perhatian investor juga mulai bergeser ke rilis kinerja laba emiten kuartal kedua pada pekan depan, dimana perusahaan besar seperti Microsoft, Tesla, Intel dan Verizon Communications akan mengumumkan pendapatannya. Kinerja emiten tahun ini sebagian besar melemah seiring tekanan bagi perusahaan-perusahaan AS akibat Covid-19. Dow Jones turun 62,76 poin (-0,23%) ke level 26.671,95. Sedangkan S&P 500 berhasil menguat 9,16 poin (+0,28%) menjadi 3.224,73 dan Nasdaq naik 29,36 poin (+0,28%) menjadi 10.503,19. Selama sepekan bursa saham AS berkhir mixed, dengan Dow Jones naik +2,29%, S&P 500 menguat +1,25%, sedangkan Nasdaq melemah -1,08%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG turun 18,79 poin (-0,37%) ke level 5.079,58 di akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 519 miliar di pasar reguler.  Meskipun ditutup di zona merah pada akhir pekan, namun sepanjang minggu lalu IHSG masih mampu menguat +0,96%, walaupun investor asing terus keluar dari pasar dengan membukukan net sell sebesar Rp 1,18 triliun di pasar reguler.

Secara mingguan, kenaikan IHSG masih berlanjut didorong oleh sentimen positif dari domestik yakni rilis data neraca perdagangan Indonesia di bulan Juni yang tercatat surplus sebesar US$ 1,27 miliar. Diturunkannya suku bunga acuan oleh BI sebesar 25 bps dari 4,25% menjadi 4%, turut menjadi katalis penopang IHSG. Sementara sentimen dari global, optimisme atas perkembangan vaksin virus korona dan harapan pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 menjadi pengerek bagi bursa saham global. Namun pelaku pasar juga dicemaskan oleh kondisi lonjakan kasus infeksi baru virus korona yang terus meningkat di beberapa negara bagian AS dan juga negara lain yang dapat berujung pada kembali diterapkannya lockdown. 

Secara teknikal, IHSG terlihat masih bergerak naik dalam pola rising wedge pattern. Meski naik, namun IHSG belum berhasil menembus resistance 5.139 dan terus bergerak merapat di support uptrend line yang terbentuk sejak bulan Maret lalu. Indikator teknikal MACD yang bergerak mendatar diatas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG saat ini sedang berkonsolidasi dalam tren pergerakan positif. Apabila mampu melewati resistance 5.139, maka IHSG akan membentuk pola higher high sehingga berpeluang menuju ke resistance rising wedge pattern-nya dikisaran 5.278-5.288. Sementara untuk level support IHSG pekan ini diperkirakan akan berada dikisaran 5.014-5.022. Jika turun dibawah support tersebut, maka IHSG akan mengakhiri tren naiknya dan mulai mengalami konsolidasi dengan cenderung bergerak sideways, dengan level support selanjutnya di 4.712.

Untuk minggu ini, tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang ditunggu oleh pelaku pasar. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian investor di pekan ini antara lain :

  • Senin 20 Juli 2020 : Rilis data perdagangan Jepang
  • Selasa 21 Juli 2020 : Rilis data inflasi Jepang, Rapat Bank Sentral Australia RBA, Pernyataan Gubernur RBA Lowe
  • Jum’at 24 Juli 2020 : Rilis data manufaktur dan sektor jasa Jerman, Perancis dan zona eropa

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG diperkirakan masih akan berkonsolidasi dengan bergerak volatile dikisaran support uptrend line-nya. Sentimen terkait Covid-19, yaitu meningkatnya kasus baru dan harapan dari perkembangan vaksin korona, serta naik turunnya hubungan AS-China diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan bursa saham global di pekan ini. Disisi lain, pelaku pasar juga menunggu rilis kinerja keuangan emiten kuartal kedua yang akan mulai keluar mendekati akhir bulan ini. Diperkirakan kinerja emiten kuartal kedua sebagian besar akan terpukul dan melemah, seiring tekanan akibat PSBB beberapa waktu lalu guna meredam penyebaran wabah korona di berbagai wilayah di Indonesia. Disisi lain, terus keluarnya investor asing dari market Indonesia dan rupiah yang terpantau melemah mendekati level psikologis 15.000 per USD patut diwaspadai. Perhatikan area level support 5.014-5.022, yang apabila dijebol kebawah secara masif maka disarankan untuk berhati-hati.   

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu waspada, apabila kondisi pasar kembali menjadi tidak kondusif dan market mengalami ketidakpastian lagi. Tetap kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca pandemi Covid-19. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/