Turun Di Bawah Support Uptrendnya, IHSG Mulai Memasuki Fase Konsolidasi Cenderung Melemah

Bursa Wall Street ditutup turun pada akhir pekan, seiring kinerja laba emiten yang lemah, lonjakan kasus baru infeksi korona di AS, serta ketidakpastian geopolitik antara AS-China. Upaya penutupan konsulat AS di Chengdu sebagai balasan penutupan konsulat China di Houston, menjadi pemberat pergerakan ke-3 indeks saham utama AS. Sementara itu saham sektor teknologi masih menjadi beban yang menghambat laju Wall Street. Dow Jones ditutup melemah 182,44 poin (-0,68%) ke level 26.469,89, S&P 500 turun 20,03 poin (-0,62%) ke posisi 3.215,63 dan Nasdaq merosot 98,24 poin (-0,94%) menjadi 10.363,18. Dalam sepekan, ketiga indeks saham utama AS mencatatkan penurunan, dengan Dow Jones melemah sebesar -0,76%, S&P 500 turun -0,28% dan Nasdaq melorot -1,33%.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup melemah -62,02 poin (-1,21%) ke level 5.082,991 di akhir pekan. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 693 miliar di pasar reguler. Pelemahan di akhir pekan menjadi penurunan terdalam selama 5 hari perdagangan terakhir. Meskipun demikian, dalam seminggu IHSG masih mampu membukukan kenaikan tipis +0,07%, walau investor asing masih mencatatkan aksi jual di pasar reguler dengan nilai bersih sebesar Rp 1,13 triliun.

Sepanjang pekan lalu, IHSG cenderung bergerak variatif karena beragamnya sentimen yang ada di pasar. Kesepakatan stimulus dari Uni Eropa dan optimisme tetang vaksin virus korona terbebani oleh kekhawatiran meningkatnya hubungan diplomatik antara AS dan China, serta lonjakan kasus baru pandemi korona di AS maupun di dalam negeri Indonesia sendiri. Disisi lain, rilis kinerja keuangan emiten kuartal kedua tahun ini turut menjadi sentimen yang mewarnai pergerakan IHSG. Saham-saham farmasi menjadi pendorong kenaikan IHSG dalam sepekan, seiring optimisme pelaku pasar terhadap datangnya kandidat vaksin produksi Sinovac Biotech untuk uji tahap ketiga bersama PT Bio Farma. Sementara sektor barang konsumsi menjadi penekan turunnya IHSG dipimpin oleh saham rokok, usai HMSP melaporkan kinerja penjualan rokoknya per semester I-2020 yang mengalami penurunan.

Secara teknikal tren naik IHSG sejak bulan Maret lalu terlihat telah berakhir, setelah indeks turun dibawah garis uptrendnya. Kondisi ini sesuai skenario analisa kami pada pekan sebelumnya, setelah melihat tren kenaikan IHSG yang terasa mulai berat karena indeks terus bergerak merapat di support uptrendnya. Kecuali mampu melanjutkan penguatannya membentuk pola higher high menembus ke atas 5.162 dengan meyakinkan, maka akan mendorong IHSG melanjutkan uptrend-nya menuju area resistance di 5.288. Namun apabila IHSG gagal bangkit meneruskan penguatannya melewati 5.162, maka indeks akan cenderung bergerak melemah menguji area support level 5,022. Nantinya jika turun di bawah 5,022, maka IHSG akan memasuki fase konsolidasi cenderung turun menuju support dikisaran 4.815 hingga 4.712.

Minggu ini perdagangan akan berlangsung pendek hanya 4 hari, karena di hari jum’at tanggal 31 Juli 2020 bursa akan libur menyambut hari raya Idul Adha. Tidak ada data ekonomi penting yang akan dirilis dari dalam negeri. Namun pelaku pasar akan mencermati rilis kinerja keuangan emiten kuartal II/2020 yang dirilis jelang akhir bulan Juli.  Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian investor di pekan ini antara lain :

  • Senin 27 Juli 2020 : Rilis data durable goods orders AS
  • Rabu 29 Juli 2020 : Rilis data inflasi Australia, Rilis data pending home sales AS, Kebijakan suku bunga dan Pernyataan The Fed
  • Kamis 30 Juli 2020 : Rilis data GDP Jerman, Rilis data GDP AS
  • Jumat 31 Juli 2020 : Rilis data manufaktur China, Rilis data GDP Prancis, Spanyol, Italia dan zona eropa, Rilis data pengeluaran dan pendapatan pribadi AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Kemungkinan IHSG melanjutkan tren naiknya terlihat berat, dan diperkirakan akan lebih cenderung bergerak dalam pola sideways condong melemah dalam jangka pendek di pekan ini. Pelaku pasar akan berhati-hati jelang pengumuman data GDP AS dan zona eropa, serta pertemuan The Fed di tengah pekan untuk melihat pernyataan dan arah kebijakan bank sentral AS kedepan. Di sisi lain, laporan keuangan kuartal II/2020 sejumlah perusahaan besar tampaknya akan sangat mengecewakan, karena PSBB yang dimulai sejak akhir Maret akan melemahkan pendapatan emiten di kuartal kedua. Perhatikan level support 5.022, jika dijebol ke bawah secara masif, disarankan hati-hati.

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu waspada apabila kondisi pasar kembali menjadi tidak kondusif dan market mengalami ketidakpastian lagi. Selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca pandemi Covid-19. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/